
Bagai orang yang berbeda, kini Kanza menjadi orang yang gampang sekali terpancing emosi. Hanif pun duduk di samping Kanza. Kelas di mulai seperti biasa, hingga bel istirahat pertama berbunyi.
Triiinnngggggg.....!
Semua siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang menuju ke kantin, dan ada juga yang menuju ke perpustakaan. Berbeda dengan Kanza yang masih duduk di bangkunya.
"Loe ngapain masih disini? Nggak takut di cariin pacarnya? Nanti yang ada dia ngomel lagi ke gue" Kata Kanza.
"Gue udah putus dengan Tika" Kata Hanif.
"Lah kenapa? Karena gue lagi?" Tanya Kanza.
"Gue suka sama Lo Za, gue baru sadar kalau ternyata gue itu suka sama lo Za. Lo mau nggak jadi cewek gue?" Kata Hanif menggenggam kedua tangan Kanza.
__ADS_1
"Saat gue terpuruk lo kemana Nif? Orang tua gue meninggal loe diem aja kan? Bahkan lo nggak nyapa gue di kelas, jangankan datang ke melayat, berbela sungkawa aja enggak kan? Dan saat rumah gue terbakar, apa lo ada buat gue? Enggak!" Kata Kanza.
"Awalnya gue sadar lo udah punya cewek, tapi pas gue denger percakapan lo dengan Mayang di kantin kemaren, gue yakin kalau perasaan lo ke gue ini bukan suka yang mengarah ke cinta kan? Tapi lebih ke kasihan" Tanya Kanza.
"Lagu lama Nif, Lo sahabat gue. Harusnya loe nggak giniin gue" Kata Kanza.
Pelajaran berjalan dengan tenang. Waktunya pulang sudah tiba, bel pun berbunyi. Kanza siap-siap untuk segera pulang kerumah. Ia akan pergi ke cafe dimana Vano memberinya pekerjaan itu.
"Gue antar lo pulang ya Za" Kata Hanif.
Bukan salah Hanif juga jika saat itu ia tidak ada disampingnya, karena tekanan dari saudara sepupunya, Hanif harus menjauhi Kanza untuk sementara waktu.
Kanza duduk di halte bus dekat sekolahnya, memainkan ipodnya dan mendengarkan musik. Baginya, musik adalah jiwannya, dengan musik Kanza bisa melupakan sejenak beban hidupnya yang sangat berat.
__ADS_1
"Heh miskin! Dimana sugar daddy lo? Udah bosen dia, jadi lo di buang begitu saja?" Kata Mayang menghina.
Kanza tidak menghiraukan apa yang dikatakan Mayang kepadanya. Ia merasa kalau kata-kata Mayang itu tidak ada isinya sama sekali.
Bus pun datang, Kanza segera masuk bus tanpa menghiraukan Mayang dan teman-temannya. Kanza mendorong tubuh Mayang hingga hampir terjatuh.
"Woy!" Teriak Mayang.
"Ups Sory, sengaja gue. Lain kali di samping gue lagi ya. Gue akan bikin wajah cantik lo itu dengan lumpur kantin sekolah" Teriak Kanza.
Kekesalan Mayang memuncak, ia selalu tidak bisa menindas Kanza begitu saja. Sering kali Kanza bisa lolos dari semua hinaan yang ia lontarkan.
Di tempat lain, Vano sudah menunggu Kanza sangat lama di cafe itu. Saking tidak sabarannya, bahkan Vano tertidur disana. Vano benar-benar menyukai Kanza. Sejak awal pertemuannya, membuat Vano tidak bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Sampai juga Kanza di cafe itu, melihat Vano juga ada disana, Kanza menjadi sedikit canggung. Manager cafe itu ternyata sahabatnya Vano, namanya Justin. Justin menyambut kedatangan Kanza, berkenalan dan mulai bernegosiasi.
Justin meminta Kanza untuk tes vokal saat itu juga, mau bagaimana lagi. Kanza memang melamar pekerjaan sebagai penyanyi di cafe itu. Kanza pun menyetujui permintaan Justin itu, dan mulai bernyanyi.