
Namun siapa yang mau menikah dan menerima apa adanya kondisi Raza, laki-laki cacat yang hanya mengandalkan asisten, jika ingin kemana-kemana juga ia harus duduk di kursi roda. Ia juga tinggal diluar negri, tepatnya di Singapura.
Setelah selesai acara kelulusan, Vano mengajak Kanza makan bersama, disana Vano akan melamar Kanza dengan romantis. Dimana ada musik, bunga, dan tempat yang sangat indah.
"Kenapa harus di tutup sih matanya?" Tanya Kanza.
"Ya kan aku mau bikin kejutan buat kamu" Kata Vano memapah Kanza.
Di dudukkannya Kanza di kursi, dengan meja di depannya. Meja itu sudah dihiasi dengan sangat cantik. Ada makanan juga di atas meja itu. Vano pun pelan-pelan membuka penutup mata Kanza.
"Kejutan" Bisik Vano.
Kanza tercengang, ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seindah itu. Vano pun memberikan bunga kepada Kanza, di depannya juga ada kue juga yang berisikan cincin untuk Kanza.
"Aku suapi?" Tanya Vano.
"Aku sendiri aja" Kata Kanza.
Ketika Kanza hendak mengunyah kue itu, terasa ada yang mengganjal di dalam mulutnya, Kanza melepehkan kue itu dan melihat ada cincin berlian di dalamnya.
__ADS_1
"Apa ini? Cincin? Pasti punya si pembuat kue, aku tanyain dulu ya" Kata Kanza hendan pergi.
"Ets, tunggu dulu. Itu dari aku sayang" Kata Vano.
"Maksut kamu?" Tanya Kanza.
Vano mengambil cincin itu dari tangan Kanza, membersihkannya dan berkata....
"Mau kah kamu menjadi pelabuhan terakhir cintaku, Kanza?" Kata Vano sambil berlutut.
kanza hanya bengong dengan mulut menganga, ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Vano menganggap hubungan itu serius, sedangkan Kanza masih belum bisa memberi keputusan apapun.
"Menikah masih bisa kuliah sayang" Kata Vano.
"Kanza, aku sangat mencintamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Tolong......"Sebelum Vano melanjutkan perkataannya, Vano menerima telfon dari neneknya.
Setelah menerima telfon itu, wajah Vano seketika berubah. Ia langsung bergegas pergi membawa Kanza bersamanya. Di dalam perjalanan pulang pun, Vano sama sekali tidak berkata apapun.
Sampailah mereka dirumah yang sangat mewah, Kanza dibawa Vano kedalam rumah itu. Di dalam, sudah ada satu keluarga yang tidak dikenali oleh Kanza, entah mereka saudara Vano atau bukan, Kanza tidak tahu itu.
__ADS_1
"Dimana nenek?" Tanya Vano.
"Ada dikamar, beliau sudah menunggu Tuan" Kata pelayan.
"Ayo Kanza" Ajak Vano dengan menggandeng tangan Kanza.
Satu keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak itu terus saja memandangi Kanza. Mereka mungkin berfikir yang bukan-bukan tentang Kanza.
"Ma, siapa ya gadis SMA itu? Kenapa dia bersama Vano?" Tanya Pak Diki.
"Mama juga nggak tau sih" Jawab Bu Anita.
Vano segera bertemu dengan neneknya. Ia juga mengenalkan Kanza dengan Neneknya Vano. Neneknya Vano sangat baik, namun ada hal yang harus disampaikan nenek untuk Vano. Yakni Vano harus menikah dengan Maria, anak dari mendiang sahabatnya dulu.
"Tapi Nek, aku sudah memiliki pilihan lain, sedangkan Maria itu kan....." Kata Vano tidak di teruskan lagi.
"Nenek, Vano dan aku tidak harus menikah, perjodohan itu tidak akan berhasil nek" Kata Maria tiba-tiba masuk ke kamar nenek.
"Kanza" Kata Nenek.
__ADS_1
Kanza hanya menyentuh bahu Vano, lalu mencium tangan Neneknya Vano dan langsung pergi keluar. Ia tidak tega melihat Neneknya Vano terbaring lemah seperti itu. Sebelum ia keluar, ia juga mencium tangan kedua orangtua Maria juga, Kanza berlari sambil menangis.