
"Baik Kak, aku tunggu sampai kapan kamu terus menjauhi Kanza." Kata Raza dengan senyuman sinisnya.
Malam setelah selesai masak, Pearl langsung tidur pulas. Bahkan seperti orang yang sedang pingsan. Kanza iseng-iseng membuka nomor Vano lagi, ternyata blokirannya sudah di buka. Antara bahagia dan sedih saat melihat semua itu. Ia bahagia karena Vano masih mau komunikasi dengannya lagi. Sedihnya, setahu Kanza, Vano telah menikah dengan Maria.
Rindu itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Bagaikan menahan rasa perih yang sangat pedih dang ingin berteriak sekereas-kerasnya. Kanza pun mencoba memberanikan diri untuk menelfon Vano. Telfon itu tersambung, dan Vano mengangkatnya.
"Kak Vano? (menangis) Aku kengen sama Kak Vano. Kak Vano kenapa pergi menjauh seperti ini sih? Apa salah ku" Tanya Kanza sambil menangis.
(hanya suara nafas yang berat dari Vano).
"Aku masih mencintaimu Kak, kesalahan apa yang aku lakukan hingga kamu menjauhiku. Jika kamh sudah menikah dengan Maria, kita bisa kan menjadi teman. Tolong katakan sesuatu Kak" Kata Kanza..
__ADS_1
"Kak....... Please, katakan sesuatu" Kata Kanza memohon.
"Aku juga sangat merindukanmu Kanza, sangat, sangat. Maafkan aku, aku sibuk sekali"
Jantung Kanza langsung berdebar, seperti gendang benderang perang yang di tabuh sangat keras. Akhirnya, sekian lama Kanza bisa mendengar suaranya Vano, namun Vano langsung menutup telfonnya. Walau sebentar, kerinduan Kanza dan Vano sudah terobati.
Hari demi hari berlalu, tidak terasa waktu sudah berlalu satu tahun. Kanza dan Vano masih berhubungan walaupun hanya sebentar. Karena Kanza meragukan pernikahan Vano dan Maria, ia juga sampai menyelidiki informasi terkini tentang Maria lewat sahabatnya Pearl itu.
Satu fakta bahwa Maria sudah melahirkan seorang anak, namun tidak pernah di publikasikan siapa suami dan anak Maria. Itu menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk Kanza. Di kampus, Kanza juga mendapatkan sahabat laki-laki. Yakni bernama Ryan, ia senior Kanza yang sudah setahun lebih lama sekolah di kampus vokal itu.
"Kanza tidak boleh dimiliki siapapun kecuali Kak Vano. Denis! Tolong buat laki-laki yang dekat dengan Kanza itu menjauh darinya. Aku tidak suka melihatnya" Kata Raza.
__ADS_1
"Kenapa Za? Kamu suka dengan Kanza? Dia memang cantik, mungil, dan manis sih. Tapi kan kamu sudah ada......" Kata Denis belum selesai.
"Cepat lakukan!" Kata Raza tegas.
Denis langsung lari seperti orang mau kepicirit saja. Ia langsung masuk keruangan kelas Ryan, karena kebetulan sekali, Denis juga guru vokal di kampus itu. Matanya langsung menatap Ryan dengan penuh ketajaman, seakan-akan keluar laser merah dari mata Denis.
"Hari ini kita langsung latihan bernyanyi ya. Kebetulan piano di kelaa ini baru, kita coba untuk latihan ok! Bryan Arnold Petter, maju kedepan untuk membuka suara" Kata Denis.
"Saya?" Tanya Ryan.
"Yes you! Kau tuli?" Tanya Denis.
__ADS_1
Ryan langsung maju dan duduk di samping Denis, ketika Ryan bernyanyi, Denis sengaja menyalahkan tangga nada yang membuat lidah Ryan kesleo. Denis sengaja melakukan itu, agar bisa menghukum Ryan untuk menjauh dari Kanza hari itu.
Benar saja, Ryan mengalami kesalahan di nada rendah, Denis tak segan-segan menghukum Ryan, untuk bersihkan kelas selesai kelas Denis. Dan di saat itu juga, Kanza sudah akan pulang, karena ia memiliki pekerjaan paruh waktu di sebuah rumah makan disana.