Kisah Cinta Kanza

Kisah Cinta Kanza
Bab. 17


__ADS_3

Kanza melihat darah di telapak tangan Vano, ia lalu mengajak Vano untuk pergi menjauh dari jembatan itu. Disana ada sebuah pondok kecil yang sangat bersih, kemungkinan masih sering di pakai oleh masyarakat sekitar.


"Tangan Pak Vano terluka? Biar aku bersihkan dulu darahnya, kebetulan aku selalu membawa plaster luka di tasku" Kata Kanza mulai panik.


"Obati dulu lukamu, tanganmu memar seperti ini. Saya tidak tega melihat tanganmu yang seperti ini Kanza" Kata Vano.


Kanza tetap keras kepala membalut luka Vano, Vano suka melihat rambut Kanza yang terurai seperti itu. Seketika ada suara musik romantis yang membuatnya jatuh kedalam manisnya wajah Kanza.


"Kenapa Bapak lakukan ini untuk aku, harusnya bapak lepaskan saja aku agar jatuh kesungai, aku bisa berenang. Dan jika aku hanyut pun bapak tidak akan rugi" Kata Kanza.


"Bagaimana mungkin saya melepaskan orang yang saya cintai. Saya akan merasakan hidup dalam kehampaan jika tidak ada kamu yang mewarnai kehidupan saya. Kalau seumpama tadi kamu nggak akan selamat, saya bersedia menggantikan tempatmu jatuh ke sungai" Kata Vano.


"Sebesar itu kah cintamu? Pak Vano?" Tanya Kanza.


"Saya benar-benar mencintaimu" Kata Vano.


Kanza langsung memeluk Vano dengan erat, ia tidak menyangka akan dicintai seseorang dengan cara seperti itu. Bahkan mungkin, Kanza tidak bermimpi mendapatkan seorang pangeran bertahta seperti Vano.

__ADS_1


"Kanza, kamu kenapa nangis? Apakah kata-kata saya membuatmu sedih atau sakit hati?" Tanya Vano mencoba melepaskan dari pelukan Kanza.


"Aku sungguh bahagia Pak Vano mencintaiku seperti itu, cinta macam apa itu? Bukankah itu malah akan terlihat seperti orang bodoh jika sampai mengorbankan diri sendiri demi orang lain?" Kata Kanza.


"Yang saya rasa hanyalah saya mencintaimu Kanza. Kamu mau jadi kekasihku?" Tanya Vano.


Kanza mengangguk tanda menyetujui permintaan Vano, mereka pun berpelukan di pondok itu, nuansanya sangat pas, hujan gerimis sedang turun saat itu.


Sejak mereka menjadi sepasang kekasih, mereka semakin dekat, menghabiskan waktu bersama, bahkan Vano sering pulang kerja cepat agar bisa menemani Kanza tidur, dan setelah itu ia akan tidur dengan tenang. (Maksudnya setelah Kanza tidur, Vano kembali ke kamarnya sendiri ya).


8bulan berlalu, hari ini hari kelulusan. Hubungan Hanif dan Kanza juga membaik. Kanza berhasil lulus dengan nilai di atas Mayang, Mayang sangat kesal akan itu, ia tidak terima jika Kanza selalu menjadi yang pertama.


"Selamat menanggung malu Kanza, dengan ini, tubuhmu yang sering dibuat zina itu akan terlihat di depan semua orang. Kita lihat aja nanti" Kata Mayang.


Acara dimulai, penyambutan dan seluruh acara berjalan dengan lancar, kini terakhir giliran Kanza akan naik ke panggung dan bernyanyi. Kanza duduk dengan sangat hati-hati, di depannya juga sudah ada Vano yang sudah siap menyaksikan dan mendengarkan suara merdu Kanza.


Srekkkk..

__ADS_1


Suara baju sobek dari baju belakang Kanza, Kanza menyadari itu dan berusaha untuk tenang. Vano merasa ada yang ganjil dengan Kanza, karena Kanza juga belum memulai nyanyiannya. Melihat di belakangnya ada Mayang yang tersenyum mencurigakan, Vano langsung beranjak dari tempat duduknya dan naik kepanggung menemani Kanza bernyanyi.


"Kak Vano? Bajuku sobek, kayaknya ada yang sengaja deh" Bisik Kanza.


"Tenang saja" Vano memberi kode kepada siswa yang menyusun acara untuk memberikan microfone.


"Aku akan ikut bernyanyi denganmu Kanza" Kata Vano.


Semua orang berbisik-bisik dengan apa yang terjadi di antara Vano dan Kanza. Mayang sangat kesal, karena kali ini yang menolong Kanza adalah laki-laki dambaan hatinya.


🎶Aku sepi, sepi, sepi, sepi jika tak ada kamu..


Aku mati, mati, mati, mati jika engkau pergi..


Dengarlah kesayanganku Jangan tinggalkan aku..


Tak mampu jika ku tanpamu..

__ADS_1


Dengarlah kesayanganku Hidup matiku untukmu..


Kumohon pertahankan aku..🎶


__ADS_2