
Brakkk.....
Pintu kamar di dorong keras oleh Rangga dan Justin. Ia melihat Kanza sudah setengah tanpa berbusana. Rangga langsung menarik Ryan dan mencekik lehernya, sedangkan Justin memberikan handuk dan menyelimuti tubuh Kanza yang sudah setengah tanpa busana itu.
"Kak Justin, aku takut!" Kata Kanza berada dalam pelukan Justin.
"Tenang, aku dan Rangga sudah ada disini. Kamu tenang ya, aku bantu kamu masuk kamar mandi dan segeralah bersih-bersih" Kata Justin memapah Kanza ke kamar mandi, begitupun membantu Pearl untuk segera memakai pakaiannya di kamar mandi.
"Huh, senior. Kanza memang bukan wanita sembarangan, di balik kepolosan Kanza, ternyata..... hahahha" Kaya Ruan menghina.
Plak.....
Tamparan keras di lontarkan oleh Rangga yang saat itu masih mencekik leher Ryan. Justin dan Rangga mengikat Ryan di kursi meja makan, ia akan di adili dulu oleh Vano yang katanya akan datang.
__ADS_1
Karena mendapat kabar keributan dari security, Raza dan Denis langsung datang di apartemen Kanza dan menyaksikan semua itu, Raza juga meminta Denis untuk menjemput Vano di Bandara, walaupun Vano sudah membawa asisten Pak Adi, namun Raza tetap menyuruh Denis untuk menjemputnya.
Semua sudah menunggu kedatangan Vano di apartemen Kanza, sementara Justin mengantar Pearl pulang kerumahnya. Jantung Kanza terasa berdebar sangat kencang, setelah setahun lebih lamanya mereka akan bertemu kembali.
Tangan Kanza bergetar, ia sangat gugup. Rasanya jantungnya sudah ingin meledak. Ingin menangis bahkan ingin teriak sekencangnya. Raza menggenggam tangan Kanza dan tersenyum.
"Semua akan baik-baik saja" Kata Raza.
"Bagaimana keadaan Kanza Rangga? Dia baik-baik saja kan? Sekarang dimana dia? Jangan sampau dia melihatku!" Kata Vano membuka kaca matanya.
Air mata Kanza menetes, mulutnya nganga karena saking terkejutnya melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Vano buta, Kanza tidak tahu, bahkan duduk di kursi roda pun Kanza tidak tahu kenapa. Sebenarnya kaki Vano baik-baik saja, agar tidak memakan banyak waktu karena Vano tidak bisa melihat, ia pun harus duduk di kursi roda.
"Rangga! Raza! Dimana Kanza? Dia baik-baik saja kan? Aku menyuruh kalian untuk menjaganya, jika........" Kata Vano terhenti saat Kanza menyentuh tangan Vano dengan gemetaran.
__ADS_1
Air mata Kanza tak bisa di tahan lagi, banjir sangat deras. Fikiran negatifnya selama ini pudar ketika melihat keadaan Vano yang seperti itu. Mulut Kanza seperti terkunci, menangis namun tidak bisa mengeluarkan suara, Lisa mencoba menenangkan Kanza.
"Kanza...... Itu kamu kan? Ma......." Sebelum Vano meminta maaf, Kanza langsung memeluk Vano.
Suara Kanza masih tertahan di bibirnya, ia tak bisa berkata apapun selain menangis di bahu Vano, Vano membalas pelukan Kanza, dan seketika Kanza menangis dengan tersendu-ssndu.
"Kanza, maafkan aku!" Kata Vano.
"Kenapa kamu jauhi aku Kak, kenapa tiba-tiba kamu pergi. Lalu undangan itu, membuatku sakit Kak. Kamu juga melaranganku menghadiri pernikahanmu, selama ini hidupku dan hidup adikku kau tanggung. Tapi kamu tidak pernah sedikitpun mengabariku keadaanmu yang seperti ini. Kenapa kak, kenapa? Apa aku salah memintamu berbakti kepada Nenekmu? Setidaknya putuskan hubungan kita secara baik-baik" Tanya Kanza sambil menangis.
Vano belum bisa menceritakan semua yang terjadi padanya, karena saat itu Kanza masih menangis. Semua yang ada di dalam apartemen itu keluar, untuk memberi Kanza dan Vano waktu menyelesaikan masalah dan kisah cinta mereka yang tertunda.
Juijur yah kakak-kakak. Aku sambil nangis nulis ini, entah kakak-kakak ini meresapi bab ini atau tidak. Tapi yang namanya udah cinta sampai hati, jangankan orangnya, langkah kaki dan nafasnya saja kita sudah bisa merasakan kehadiran orang yang kita cintai itu.
__ADS_1