Kisah Cinta Kanza

Kisah Cinta Kanza
Bab.3


__ADS_3

"Huh, kalau saja bukan gue yang salah, udah gue plintir tuh kepala orang, main tampar pipi orang aja, kesel gue" Kesal Kanza.


"Pipi kamu pasti baik-baik saja kok" Kata Vano yang sudah ada di belakangnya.


Kanza pun berbalik, melihat Vano dengan mata melototnya, meyakinkan bahwa laki-laki itu adalah orang yang sama waktu kemaren siang dan sore tadi. Kanza berbalik lagi, ia menganggap bahwa itu hanyalah hayalannya saja.


"Pasti berhayal, mana ada Om-om sombong itu di jalanan seperti ini? Hahha mau apa dia? mulung? Tapi jaman sekarang pemulung sukses pun banyak" Gerutu Kanza.


"Hey, kamu berani tidak memperdulikan saya?" Tanya Vano.


Kanza pun mendekati Vano dan menyentuh lengannya, itu beneran nyata jika Vano sekarang berada di depannya.


"Haih, beneran kamu ini? Ada yang bisa saya bantu? Tanya Kanza.


"Kau mau uang?" Kata Vano.


"Maaf aku bukan wanita seperti itu,"Kata Kanza yang sebelumnya melihat Vano dari atas kebawah, dan dari bawah ke atas.


"Maksud kamu apa? Saya hanya ingin menawarkan pekerjaan yang cocok buat kamu" Kata Vano.


"Oh kirain, apa itu?" Tanya Kanza.


"Ini kartu namaku, kamu bisa menghubungi kapan saja, soal pekerjaan, kamu bisa datang kepadaku saat kamu benar-benar membutuhkan uang dan pekerjaan" Kata Vano berjalan menuju sebuah gang yang ternyata mobilnya terparkir disana.


"Kenapa dia baik padaku?" Tanya Kanza.


Namun Kanza tak memepedulikan itu, ia menyimpan kartu nama Vano di dompetnya. Setelah pulang, belum juga sampai rumah, Kanza melihat rumahnya sangat ramai. Banyak orang di sana, wajah mereka nampak sedih, Kanza terus saja berjalan dan masuk ke rumah, melihat adiknya yang sedang menangis sangat kencang.


Kanza semakin heran dengan apa yang terjadi, ia melihat dua sosok yang sudah di tutupi menggunakan kain panjang di samping Lisa. Kanza terus saja bingung, ia tidak melihat kedua orang tuanya juga disana.

__ADS_1


"Kanza, yang sabar ya" Kata Ibu Siti, tetangga sebelah. Yang tiba-tiba memeluk Kanza.


"Ayah sama Ibu kemana? Dan orang yang di tutupin ini siapa Busi (panggilan Kanza untuk Ibu Siti)?" Tanya Kanza.


"Mereka, mereka orang tuamu!" Kata Ibu Siti.


Nasi goreng yang di bawa Kanza jatuh, ia tidak menduga jika orang tuanya pergi secepat itu. Padahal sebelum Kanza pergi keluar, orang tuanya sedang bercanda ria di rumah.


"Busi bohong kan? Dimana Ayah sama Ibu!" Tanya Kanza mulai menangis.


"Kak," Kata Lisa memeluk Kanza.


"Lisa, bilang sama Kakak, diamana Ayah sama Ibu? Dimana Lisa, diamana?!" Tanya Kanza.


Lisa menunjukkan ke arah dua orang yang telah di tutupi kain itu dengan telunjuknya. Kanza terjatuh dan bersimpuh di antara jenazah kedua orang tuanya, ia tidak sanggup melihat semua itu dan akhirnya pinsan.


"Ayah, Ibu. Kenapa kalian ninggalin kita berdua? Kau hanya pergi sebentar membelikan nasi goreng untuk Lisa, tapi kenapa malah kalian pergi untuk selamanya. Tidak bisakah menunggu pulang? Kenapa kalian pergi" Kata Kanza dengan isak tangis yang membuat para tetangga menangis juga.


Keluarga Kanza di kenal sangat baik, mereka memang hidup sederhana, namun selalu baik kepada para tetangganya.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Awan mendung pagi itu, membuat Kanza semakin bersedih. Seperti awanpun tau jika hatinya juga sedang kelabu, melihat jenazah kedua orang tuanya di masukan ke liang lahat, tidak bisa menangis lagi, mulutnya seperti terkunci, tatapan kosong itu membuat adiknya semakin sedih.


"Ayo Kak pulang, sepertinya pagi ini mau hujan" Kata Lisa mengajak Kanza pulang.


Sampai di rumah, peziarah mulai berdatangan berbela sungkawa, guru dan teman-teman sekolah Kanza dan Lisa pun juga datang, mata kosong Kanza membuat semua orang bersedih. Semua orang tahu jika Kanza adalah anak yang sangat di banggakan oleh kedua orang tuanya. Kepergian mereka pasti membuatnya terpukul.


Satu minggu berlalu, kesedihan Kanza dan Lisa juga belum reda begitu saja, mereka masih berdiam diri ketika melakukan aktifitasnya masing-masing, hanya satu dua kata yang mereka katakan. Rumah serasa sepi, tidak ada lagi yang ribut membangunkan mereka sekolah, tidak ada lagi yang membuatkan sarapan untuk mereka.

__ADS_1


"Kak, aku kayaknya nanti pulang lebih awal deh, kunci aku bawa aja ya" Kata Lisa.


"Iya" Jawab Kanza.


"Kakak gak sekolah?" Tanya Lisa.


"Sekolah kok, ini juga mau mandi, kamu bikin sarapan aja dulu ya, nyeplok telur gitu yang simple" Kata Kanza.


Kanza pun masuk ke kamar mandi, dan Lisa membuat sarapan untuk mereka makan. Tidak banyak kata yang terucap, mereka juka sarapan diam begitu saja, padahal sebelumnya, sarapan saja mereka heboh sendiri akan lawakan Ayahnya.


"Aku selesai, aku berangkat duluan ya" Kata Kanza membawa gitarnya.


Lisa yakin jika kakaknya akan mulai ngamen lagi, karena ia sebelumnya mengatakan kalau ia yang akan bekerja untuk kelangsungan hidup mereka. Tak hanya mengetahui hal itu saja, Lisa juga tahu jika Kakaknya baru selesai menjalami skors dari sekolah.


"Kenapa kakak jadi gini sih? Aku sayang banget sama Kakak, aku tidak ingin Kakak berjuang keras sendiri" Kata Lisa.


Di lampu merah, Vano merasa seperti kehilangan sosok Kanza selama seminggu. Ia sudah tidak melihat Kanza sejak malam saat mereka bertemu di dekat gang rumahnya.


"Pak Adi, tolong kamu cari tau dong, kemana selama seminggu ini gadis pengamen lampu merah itu. Siang ini kamu harus sudah ada laporan ya" Kata Vano.


"Siap Bos!" Jawab Pak Adi.


"Kanza, kamu kemana sih?" Kara Vano dalam hati dan dengan hati yang gelisah.


Di sekolah, Kanza yang biasanya riang, ceria, suja jahil dan suka bernyanyi. Kini ia menjadi lebih pendiam, ia juga menjauhi Hanif, ketika mereka berpapasan pun Kanza tidak menegurkan.


"Kanza kenapa ya? Apa karena aku tidak melayat ke rumahnya, terus dia ngambek? Marah gitu sama aku??" Hanif bertanya dalam hati.


Ingin sekali Hanif menegurnya, namun pacarnya selalu nempel di lengan Hanif, seperti enggan ingin lepas. Bahkan mereka duduk berselabahan saja Kanza sama sekali tidak menengok ke arah Hanif.

__ADS_1


__ADS_2