
Yang di lakukan Lisa sudah benar, Lisa takut jika Kanza mampu melupakan Vano, dan akan membuat petaka juga bagi Vano sediri. Ia akan berbuat sesuatu untuk hubungan Vano dan Kakaknya.
"Aku pulang dulu kak. Aku mohon fikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi. Permisi" Kata Lisa pergi dari kamar Vano.
Diluar, Justin dan Maria sudah menunggu Lisa keluar dari kamar Vano, kali ini Lisa gagal lagi meyakinkan Vano untuk berterus terang kepada Kanza. Hubungan mereka sudah berjalan 8 bulan, itu bukan waktu yang singkat. Pasti Kanza juga tidak akan menolak keadaan Vano yang sekarang.
"Tidak! Kanza harus fokus menggapai mimpinya. Kalau aku menceritakan keadaanku, pasti dia akan panik. Dan masa depannya akan terganggu. Aku harus sabar, jika dia memang jodohku. Aku yakin, ia akan tetap setia kepadaku" Kata Vano.
Sore hari telah tiba, Rangga mengajak Kanza berkeliling di sekitar tempat tinggal dan kampusnya. Banyak yang Rangga ceritakan waktu itu. Namun, fikiran Kanza masih tertinggal di tanah air. Rangga berusaha untuk tidak membuat Kanza terfikirkan dengan Vano untuk saat ini.
__ADS_1
"Za, kamu kenapa sih murung terus. Setidaknya kamu anggap akulah disampingmu. Kenapa? Vano lagi?" Tanya Rangga.
"Aku mencintainya Kak, sangat mencintainya. Tapi kenapa dia malah memblokir nomorku, dia juga menjauhiku. Tapi kenapa dia juga membantuku sampai sekarang, bahkan baju ini, aku ambil dari almari itu. Pasti Kak Vano kan yang memilihkannya untukku?" Kata Kanza mulai menangis.
"Jangan nangis dong, kamu jangan fikirkan hal itu lagi ya. Kamu harus fokus belajar dan menggapai mimpi mu dulu. Baru kita bahas tentang Vano" Kata Rangga.
Pagi ini hari pertama Kanza masuk ke universitas, Rangga menemaninya sebagai walinya. Saat itu, Rangga meminta Kanza untuk menunggunya di luar ruangan. Tidak sengaja Kanza bertemu dengan Raza, adik dari Vano. Ini kali pertama mereka bertemu.
Karena Kanza berjalan mundur, tidak sengaja ia menabrak kursi roda Raza. Raza laki-laki berusia 25tahun, selisih 5 tahun dengan Vano. Ia mengalami kecelakaan di usiannya yang masih remaja, dan harus duduk di kursi roda, karena kakinya mengalami kelumpuhan.
__ADS_1
"Sory!" Kata Kanza menunduk.
"Denis buruan!" Kata Raza tanpa menghiraukan Kanza.
"Maaf kamu juga orang Indonesia? Aku juga, bisa aku bertanya sesuatu denganmu?" Tanya Kanza.
"Oh tentu adik manis, perkenalkan nam......." Sebelum Denis menyelesaikan perkenalannya, Raza meminta Denis untuk segera mendorong kursi roda nya dan pergi meninggalkan Kanza.
Fikir Kanza memang seharusnya ia tidak sok kenal. Kalau tidak, ia akan mendapat masalah sendiri di sana, nama Vano tiba-tiba melintas di fikirannya.
__ADS_1
"Andai saja Kak Vano ada disini. Pasti..... Aishh apa-apaan aku ini. Aku berdosa jika masih mendambakan suami orang. Lebih baik aku keruangan itu lagi, takutnya Kak Rangga nyariin aku" Kata Kanza kembalu ke ruangan dimana Rangga menyuruhnya untuk menunggu.
Seminggu Kanza belajar di Singapura, Rangga sudah mulai melepas Kanza sendiri, dan ia akan kembali ke tanah air sendiri. Disana, Kanza juga sudah mendapat teman, ia bernama Pearl negri Jiran. Hari demi hari setelah tanpa Rangga, Kanza lalui sediri, ia juga sudah terbiasa dengan kegiatannya sendiri. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Raza untuk yang kedua kalinya.