Kisah Cinta Kanza

Kisah Cinta Kanza
Bab. 6


__ADS_3

"Mbak Kanza ya, perkenalkan! Nama saya Daryem. Ini anak saya Dini, panggil aja Engkom" Kata Ibu Daryem.


"Jauh banget, dari Dini sampai Engkom buk" Kata Lisa.


"Heheh semua panggilnya gitu kok. Mulai sekarang Engkom bekrja untuk Mbak Kanza dan Mbak Lisa" Kata Ibu Daryem.


"Kerja sama kita? Tapi Buk, kita kan..." Kata Kanza.


"Tuan Vano yang gaji Engkom kok, ayo Kom bawa Mbak Kanza dan Mbak Lisa masuk kerumah. Antar mereka ke kamar masing-masing sesuai perintah Tuan" Kata Ibu Daryem.


Kanza dan Lisa hanya diam dan mengikuti Ibu dan anak itu. Kanza masoh bingung dengan kebaikan Vano, bahkan tetangga atau saudara jauhpun tidak peduli pada mereka.


"Nah ini kamar Mbak Kanza, dan kamar Mbak Lisa ada di atas, silahkan pilih sendiri. Ayo Mbak Lisa aku antar" Kata Engkom.

__ADS_1


"Kenapa aku di kamar ini? Dan kenapa Lisa di atas? Hmm Kanza, kamu hanya numpang disini, nikmati saja, dan fokus cari uang" Kata Kanza dalam hati.


Malam itu malam yang indah bagi Lisa, ia tidak pernah menyangka akan tinggal di rumah bagus dengan pakaian yang sangat indah itu.


Berbeda dengan Kanza, ia masih duduk sendirian di sofa ruang tamu. Ia masih mencari-cari pekerjaan yang bisa di kerjakan setelah pulang sekolah.


"Haih, susahnya cari kerja part time gini. Yang ada cuma cuci piring doang, dan itu malam banget pulangnya. Gaji juga gak sesuai lah" Gumam Kanza.


"Sedang apa sih?" Bisik Vano.


"Huaaa Astaghfirullah. Yah pecah lagi, mati? Yah, haduh" Kata Kanza mencoba menghidupkan ponselnya lagi.


"Udah lah buang aja, ambil kartunya. Nih saya beliin ponsel baru buat kamu" Kata Vano memberikan sebuah ponsel.

__ADS_1


"Sampai kapan? Sampai kapan anda baik gini sama saya? Saya sudah cukup berhutang budi sama anda, saya tidak mau lagi menambah hutang dengan anda. Saya mohon, cukup sampai disini saja, bahkan kita aja baru mengenal kan?" Kata Kanza mulai meneteskan air matany.


"Kamu kenapa sih Za? Saya ini cuma mau bantu kamu, sekarang kamu tinggal di rumah saya, saya harus pastikan kebutuhan kamu tercukupi dong" Kata Vano menarik tangan Kanza.


"Maaf jangan seperti ini Pak Vano, di rumah ini bukan hanya kita berdua, masih ada engkom dan adim saya, lepaskan saya" Kata Kanza mulai meronta, karena Vano menggenggam erat tangan Kanza dan wajahnya mendekat ke wajah Kanza.


"Kalau kamu mau masa depan adikmu terjamin, tolong jangan menolak. Saya bisa membuat kalian sukses kedepannya, tapi jika kamu menolak. Saya juga bisa membuat kalian berdua menjadi debu yang berterbangan tanpa arah. Ingat itu" Kata Vano melepaskan tangan Kanza dengan kasar.


"Terima, besok setelah pulang sekolah, kamu kerumah saya. Ini alamatnya, jangan telat! Saya paling gak suka menunggu, jangan egois. Kamu juga harus memikirkan nasib masa depan Lisa juga. Permisi!" Kata Vano lalu pergi begitu saja.


Ingin sekali Kanza teriak, ia tidak tau apa yang Vano inginkan. Sekejap seperti malaikat tidak bersayap, lalu sekejap berubah menjadi iblis berdarah dingin. Kanza ingin lari dari semua itu, karena menurutnya hutangnya kepada Vano sudah terlalu banyak. Bahkan dari awal pun Kanza ingin menolak semua kebaikan Vano.


Kini, demi masa adiknya, ia harus rela melakukan apapun agar Lisa bisa sekolah tinggi dan menjadi orang yang sukses. Dan Kanza akan fokus mencari pekerjaan paruh waktu lagi, agar bisa keluar dari rumah itu, dan membayar hutannya kepada Vano, sekalian dengan hutang budinya.

__ADS_1


__ADS_2