
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya Eldrick sampai juga di rumah itu. Dia bergegas masuk dan raut wajahnya terlihat penuh kekhawatiran. Tanpa berbasa-basi, Eldrick langsung memberondong Andra dengan banyak pertanyaan. Andra hanya menjawab sebisanya dan dia pun bisa melihat tatapan Eldrick yang penuh dengan kekecewaan. Andra merasa sangat bersalah dan menyadari kalau dirinya sudah membuat Eldrick kecewa.
Eldrick pun segera menceritakan tentang masa lalu Anjani, Affandra, dan Janu yang terjebak cinta segitiga. Janu yang tidak terima saat Anjani menikah dengan Affandra, membuat lelaki itu memiliki dendam kesumat dan seperti iblis membunuh kedua orang itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Eldrick juga menceritakan kalau Janu memiliki seorang putri dengan Anjani, tetapi putri Janu itu sakit-sakitan sejak kecil.
"Hanya itu yang saya tahu." Eldrick menyudahi ceritanya.
"Apa Ayah tahu di mana putri Janu? Bisa jadi waktu aku bertemu di rumah sakit saat itu dia sedang menunggu putrinya," cetus Andra. Berusaha mengingat pertemuannya dengan Janu di rumah sakit.
"Bisa jadi." Eldrick memijat pelipis untuk sedikit meringankan rasa sakit yang membuat kepalanya berdenyut.
"Apa Anda tahu wilayah sekitar sini?" Opa Jo menunjukkan tampilan CCTV di mana mobil yang dikendarai anak buah Wibisono melaju. Eldrick pun sampai menautkan alisnya untuk mengamati tempat itu.
"Ini adalah jalan menuju ke rumah Tuan Affandrra dan Nyonya Anjani. Tapi, sejak kematian mereka, rumah itu sekarang dikuasai Janu," ucap Eldrick yang membuat mereka tercengang.
"Kalau begitu kita harus segera ke sana." Andra bangkit berdiri dan hendak pergi.
"Duduklah, Ndra. Jangan gegabah." Eldrick berbicara tegas.
"Yah, aku yakin kalau mereka menyekap Margaretha di sana." Andra berbicara sangat yakin, tetapi Eldrick lagi-lagi menyuruh Andra untuk kembali duduk. Akhirnya, Andra pun menurut dan kembali duduk di tempat semula.
"Ayah juga yakin nona muda ada di sana, tapi kita tidak bisa sembarangan datang ke sana. Kita harus menyusun rencana." Eldrick berusaha tetap terlihat tenang meskipun dalam hatinya merasa sangat khawatir akan keselamatan Margaretha. Mereka yang berada di sana pun mengangguk mengiyakan ucapan Eldrick.
"Tuan El, apa Anda tahu tentang putri lelaki itu yang sakit-sakitan?" tanya Pandu yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Saya tahu namanya karena Nyonya Anjani pernah bercerita. Namanya Agnesia siapa. Saya lupa nama panjangnya." Eldrick memijat pelipisnya dan berusaha mengingat nama lengkap Agnes.
"Kalau begitu, aku dan Patrick akan ke rumah sakit. Siapa tahu dia di sana." Andra hendak beranjak bangun lagi, tetapi Eldrick lagi-lagi menahan langkah Andra.
__ADS_1
"Tunggu dulu."
"Yah. Aku tidak mau terlalu lama menunggu. Kita harus bergerak cepat."
"Apa yang akan kamu lakukan, Ndra?" tanya Eldrick menatap Andra.
"Tergantung apa yang sudah mereka lakukan pada Margaretha. Kalau mereka menculik Margaretha maka aku akan menculik putrinya. Aku yakin kalau putrinya sangat berharga untuk lelaki brengsek itu." Andra berbicara yakin dan penuh amarah.
Eldrick mendes*hkan napas secara kasar dan hanya mengiyakan. Dia pun hendak ikut, tetapi Andra melarang keras karena khawatir akan keselamatan lelaki itu. Begitu juga dengan ketiga sahabat Margaretha yang memaksa ingin ikut, tetapi Andra benar-benar melarang. Andra pun hanya pergi bersama Patricia dan Kenzi, tentu saja Opa Jo menyuruh anak buahnya untuk mengikut di belakang.
"Ra, gimana Markonah?" Zety sudah menangis sejak tadi karena kepikiran sahabatnya.
"Gue yakin Markonah tetap baik-baik aja, Suk. Kita berdoa aja semoga lekas bisa ditemukan." Rasya memeluk kedua sahabatnya. Mereka tidak menyangka kalau Margaretha akan bernasib setragis ini. Memang kejam si penulis cerita ini.
***
"Gimana mau ketemu, Ndra. Wajahnya saja kita belum pernah melihatnya." Patricia duduk di kursi taman. Mengembuskan napas kasar karena kelelahan sejak tadi terus berjalan.
"Kita pasti bisa menemukannya. Entah bagaimana caranya." Andra mengusap wajahnya dan terlihat sangat frustrasi. Jujur, dia merasa sangat gelisah saat ini karena terus kepikiran Margaretha.
"Lebih baik sekarang kita pulang dulu saja. Mungkin saja, gadis itu sedang tidak berada di rumah sakit," ujar Kenzi. Dua orang itu pun hanya mengiyakan dan bergegas pulang.
Kalaupun tidak menemukan Agnes, maka mereka tetap akan menyusun rencana agar bisa masuk ke rumah itu dan menyelamatkan Margaretha. Namun, saat sedang berjalan menuju ke tempat parkir, langkah Andra terhenti saat melihat seorang gadis yang sedang menggerutu. Andra pun perlahan mendekati, sedangkan kedua sahabatnya hanya melihat itu.
"Papa Janu nyebelin! Aku kesepian di sini!"
Janu? Apakah dia putri lelaki brengsek itu? Batin Andra bertanya-tanya.
__ADS_1
"Hai, Nona. Kenapa kamu sendirian dan terlihat kesal?" tanya Andra lembut.
"Kamu siapa?" tanya Agnes balik sembari menatap Andra penasaran.
"Namaku Kalandra." Andra mengulurkan tangan untuk berkenalan. Agnes yang awalnya hanya diam pun pada akhirnya membalas jabatan tangan itu.
"Agnes."
Jawaban itu membuat Andra tersenyum puas. Dia yakin kalau Agnes inilah yang sedang dicarinya. Melihat senyum Andra, justru membuat Agnes salah tingkah sendiri.
"Kenapa kamu sendirian, Nona?" tanya Andra lagi.
"Aku bosan di rumah sakit, sedangkan Papaku tidak juga pulang. Aku pengen jalan-jalan." Agnes merengek manja, meskipun bagi Andra itu menyebalkan, tetapi Andra berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Bagaimana kalau kamu ikut aku jalan-jalan. Setelah puas aku akan mengantarmu kembali ke sini," ajak Andra. Agnes awalnya bersorak kegirangan, tetapi wajahnya mendadak muram dan menatap takut kepada Andra.
"Jangan khawatir, Nona. Kita bukan orang jahat. Lagi pula, nanti kita bisa banyak mengobrol di mobil." Patricia maju dan tersenyum lebar ke arah Agnes.
Agnes tidak langsung menjawab, tetapi dia menatap ketiga orang itu secara bergantian. "Baiklah. Aku telepon anak buah papa dulu. Nanti dia mencariku karena saat ini mereka sedang pergi."
"Tidak perlu," tolak Andra. Mengurungkan gerakan tangan Agnes yang hendak mengambil ponsel. Agnes menatap Andra penuh selidik. "Lebih baik kamu matikan saja ponselmu. Kalau kamu bilang mereka, yang ada kamu tidak boleh pergi." Andra berusaha mengompori.
Agnes diam untuk memikirkan. Di detik selanjutnya dia pun mengiyakan. Mematikan ponselnya dan segera ikut Andra untuk masuk ke mobil. Agnes tidak menaruh curiga sama sekali dan justru kegirangan.
Aku tidak menyangka, ternyata kamu memiliki putri sebodoh ini. Tunggu pembalasanku, brengsek!
Andra tersenyum licik saat ekor matanya berkali-kali menatap Agnes yang sedang tersenyum senang.
__ADS_1