Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
27


__ADS_3

Margaretha yang awalnya hanya berniat ingin mengambil baju ganti pun, pada akhirnya pergi ke kantor untuk menemui Janu. Lelaki itu terkejut saat melihat kedatangan Margaretha yang hanya sendirian. Cukup lama hanya duduk berhadapan tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Sampai akhirnya, Janu menggenggam tangan Margaretha erat. Margaretha hendak melepaskan, tetapi melihat tatapan Janu yang begitu memelas membuat Margaretha menjadi tidak tega.


"Maafkan aku." Suara Janu terdengar parau dan penuh penyesalan.


"Kata maafmu tidak akan bisa menghidupkan kedua orang tuaku." Margaretha memalingkan wajah karena tidak ingin bertatapan dengan Janu.


"Aku tahu dan sangat menyesal. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Tapi, bolehkah aku meminta tolong padamu?" Janu mengeratkan genggaman tangannya.


"Minta tolong apa?"


"Aku mohon, jagalah Agnes selama aku berada di sini. Berapa lama pun aku harus tinggal di sini, aku bersedia. Tapi, aku sangat memohon kepadamu, jagalah Agnes. Dia tidak bersalah di sini." Janu menjeda ucapannya. Menatap Margaretha yang saat ini masih memalingkan wajah.


"Sejak kecil, tidak ada siapa pun yang dimiliki Agnes selain aku. Dari bayi tubuhnya sudah lemah dan dia harus tinggal tanpa kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu. Aku tidak akan menyalahkan Anjani di sini, karena aku sadar kalau ternyata aku yang salah selama ini. Aku salah sudah berbuat nekat dan sekarang waktunya aku menerima balasannya."


"Memang seharusnya seperti itu. Seandainya hatimu tidak dipenuhi dendam, aku yakin tidak akan ada yang terluka dan kehilangan." Margaretha menarik paksa kedua tangannya. Janu hanya menatap dalam.


"Ya. Aku sangat meminta maaf. Maukah kamu menemani Agnes dan menjaganya? Semua harta milik orang tuamu juga akan aku kembalikan atas nama kamu," ucap Janu yakin. Tidak ada alasan apa pun lagi bagi Margaretha untuk menolak.


"Baiklah. Aku akan menjaga Agnes karena bagaimanapun juga dia adalah kakakku."


Ucapan Margaretha sontak membuat senyum Janu mengembang sempurna. Bahkan, saking bahagianya Janu sampai mengucapkan banyak terima kasih. Margaretha hanya tersenyum. Dia memang terluka dan benci kepada Janu, tetapi Margaretha menyadari satu hal kalau setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan entah besar atau kecil.


Setelahnya, Margaretha pun pamit ke rumah sakit karena dia sudah berjanji akan menemani Agnes dan akan menginap di sana. Janu pun mempersilakan. Namun, saat hendak pergi dari sana, Margaretha menatap tidak tega saat melihat sorot mata Janu yang sendu. Margaretha yakin kalau Janu pasti sangat merindukan putrinya.


***


Dua hari berlalu, Margaretha hanya sesekali berkumpul dengan sahabatnya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Agnes. Sesuai janji Margaretha pada Janu kalau dia akan menjaga Agnes selama lelaki itu dipenjara. Yang membuat Margaretha curiga adalah Agnes yang tidak pernah sekalipun bertanya kapan papanya pulang atau sekadar menelepon. Gadis itu benar-benar diam dan tidak pernah merengek.

__ADS_1


"Etha ... aku mau jalan-jalan ke luar rumah sakit. Aku bosan di sini," keluh Agnes. Margaretha hendak menolak, tetapi akhirnya dia memilih menemui dokter untuk meminta izin. Setelah dokter tersebut mempersilakan, Margaretha pun segera mengajak Agnes untuk jalan-jalan. Tentu saja hal itu disambut antusias oleh Agnes.


Selama pergi berdua, Agnes bertanya banyak hal. Hampir semua hal dia tanyakan persis seperti anak kecil. Meskipun usia Agnes lebih tua darinya, dan status Agnes yang merupakan kakaknya, Margaretha justru merasa dirinya seperti seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya. Margaretha tidak terlalu banyak berkomentar, dia memahami sikap Agnes yang seperti itu karena besar tanpa kasih sayang seorang ibu dan juga Janu yang begitu memanjakan putrinya.


"Etha ... aku lapar," rengek Agnes. Margaretha terkekeh sembari mencubit pipi Agnes saking gemasnya.


"Kalau begitu kita makan di rumah makan terdekat aja."


"Di mana? Jangan jauh-jauh. Nanti aku capek tidak ada yang memijit karena papa belum pulang juga," ucap Agnes.


"Jangan khawatir. Aku punya banyak kenalan tukang pijit. Mau yang masih muda atau sudah berumur," seloroh Margaretha. Agnes mengerucutkan bibir hingga membuat Margaretha makin gemas. "Sepertinya aku lebih cocok jadi kakakmu, deh."


"Ish! Bagaimana juga aku adalah kakakmu." Agnes memalingkan wajah. Namun, dia terkejut saat Margaretha tiba-tiba menarik tangannya dan mengajaknya ke sebuah restoran yang cukup ramai.


Saat memasuki restoran tersebut, Agnes begitu terpukau dengan dekorasi ruangan yang sangat cocok dengan anak muda. Langkah Agnes tiba-tiba terhenti saat ekor matanya menangkap seorang lelaki tampan berjalan menuruni tangga.


"Mas Gatra!" panggil Margaretha.


"Eh kamu kenal lelaki tampan itu?" tanya Agnes terheran-heran.


"Dia mantan bos aku."


"Bos?"


Margaretha hanya tersenyum melihat wajah Agnes yang kebingungan.


"Mar. Apa kabarmu?" tanya Gatra yang saat ini sudah berada di depan Margaretha. Bahkan, mereka sekarang sudah berjabat tangan erat.

__ADS_1


"Baik, Mas. Mas Gatra sendiri bagaimana?" tanya Margaretha membalas senyuman Gatra tak kalah manis.


"Ya seperti ini. Oh iya, di mana Andra?" tanya Gatra celingukan mencari sosok Andra. Sampai-sampai membuat Agnes kesal. Dia sudah merapikan rambut agar Gatra menatapnya, tetapi lelaki itu justru bersikap tak acuh.


"Entah. Dua hari ini dia sedang sangat sibuk." Margaretha menjawab lirih. Sebenarnya, dalam hati Margaretha merasa gelisah karena Andra tidak pernah menghubunginya. Lelaki itu sibuk sendiri. Beruntung, ada Agnes yang membuat kegelisahan Margaretha teralihkan.


"Ehem!"


Margaretha dan Gatra sama-sama melihat ke arah Agnes setelah mendengar dehaman gadis itu. Margaretha bahkan berusaha menahan tawa saat melihat kekesalan dari raut wajah Agnes, sedangkan Gatra hanya menatap sekilas lalu memalingkan wajah.


"Etha, ayo kita makan. Aku sudah lapar sekali," ucap Agnes. Mengusap perutnya yang datar.


"Sebentar. Kamu tidak ingin kenalan dengan Mas Gatra?" tanya Margaretha setengah menggoda.


"Tidak! Aku sudah tahu namanya. Lebih baik sekarang kita cari meja kosong." Agnes memindai ruangan tersebut dan bergegas menuju ke meja yang masih kosong. Lalu berjalan cepat meninggalkan Margaretha dan Gatra begitu saja. Senyum Margaretha mengembang saat melihat langkah kaki Agnes yang menghentak.


"Dia siapa? Aneh sekali tingkahnya?" tanya Gatra. Mengamati Agnes yang saat ini sudah membuka-buka buku menu.


"Kakakku."


"Kakak? Emangnya kamu punya kakak?" Gatra bertanya heran. Setahu dirinya, Margaretha tidak memiliki siapa pun di sini. Hanya geng Somplak Sekawan yang Gatra tahu sebagai orang terdekat Margaretha.


"Iya, dia kakak perempuanku. Baru datang dari kampung." Margaretha menjawab berbohong. Tidak mungkin dirinya mengatakan semuanya kepada Gatra.


"Pantesan," gumam Gatra. Mengangguk paham. Margaretha pun berpamitan ke tempat di mana Agnes sedang duduk menanti dirinya.


Lucu sekali. Tingkahnya seperti anak TK. Gatra tersenyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2