Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
33


__ADS_3

Andra tidak mau menurunkan Margaretha sama sekali meskipun saat ini sudah berada di kamar pengantin. Menutup pintu itu rapat-rapat dan berjalan perlahan menuju ke ranjang melewati taburan bunga mawar merah dan lilin-lilin kecil. Suasana di kamar tersebut begitu romantis. Tak hanya di sepanjang lantai, tetapi bunga mawar itu juga berada di atas ranjang, membentuk gambar hati lengkap beserta dua boneka angsa yang sedang beradu.


Dengan perlahan Andra menurunkan Margaretha di atas ranjang, sedangkan Margaretha masih membisu dan memindai ruangan itu. Jujur, Margaretha merasa sangat kagum dengan hiasan di kamar itu. Mampu membuat terbuai. Margaretha tidak menyangka kalau ternyata Andra bisa seromantis itu.


"Kamu menyiapkan semua ini, Ndra?" tanya Margaretha.


"Bukan. Patrick yang membantuku menyiapkan kejutan untukmu," jawab Andra jujur. Namun, membuat senyum Margaretha memudar secara perlahan. Andra yang melihat perubahan raut wajah istrinya pun menjadi terheran-heran.


"Kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Andra penuh selidik. Margaretha menggeleng lemah. Andra pun segera merebahkan diri di samping Margaretha lalu menatap istrinya lekat.


"Aku tidak sedih. Ndra, kamu dan Nona Cia sangat dekat ya," ucap Margaretha lirih.


"Dekat. Kita sahabatan udah lama. Ya, seperti kamu dan tiga sahabatmu itu. Patrick yang dulu membantuku bangun dari keterpurukan setelah kedua orang tuaku meninggal," papar Andra. Margaretha hanya mengangguk tanda memahami. "Memangnya kenapa? Kamu cemburu, hm?"


"Ti-tidak." Margaretha memalingkan wajah. Dengan cepat Andra menangkup dagu istrinya dan menghadapkan wajah gadis itu tepat di depannya. Andra tersenyum saat melihat raut wajah Margaretha yang begitu gugup.


"Kamu yakin tidak cemburu?" tanya Andra lagi, lebih menuntut jawaban. Margaretha tidak menjawab karena jujur hatinya terasa sedikit sakit saat melihat betapa dekatnya Andra dan Patricia. "Kamu harus tahu kalau aku dan Patricia itu hanyalah sebatas teman dekat. Kita tidak ada hubungan apa pun selain itu."


"Ndra," panggil Margaretha. Namun, dia terkejut saat Andra tiba-tiba mencium bibirnya. Tubuh Margaretha yang awalnya biasa saja, kini gemetar hebat. Bayangan saat Wibisono menyentuhnya membuat tubuh Margaretha dipenuhi keringat dingin. Andra yang baru mencium sekilas pun, langsung menghentikannya.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Andra khawatir. Mengusap wajah Margaretha perlahan untuk menenangkan gadis itu.


Isakan Margaretha terdengar menggema di kamar itu, "Jangan sentuh aku. Aku mohon ... bunuh aku saja, tapi jangan pernah sentuh aku."

__ADS_1


Hati Andra berdesir mendengar gumaman itu. Dia menjadi tidak tega apalagi saat melihat wajah Margaretha yang sudah memucat. "Aku tidak akan menyentuhmu. Tenanglah." Andra menarik tubuh Margaretha untuk memeluknya erat. Namun, Margaretha langsung melerai pelukan itu dan tidur membelakangi Andra.


"Ndra ... aku kotor. Aku sudah disentuh oleh lelaki lain," gumam Margaretha masih terus menangis.


"Tidak. Kamu tidak kotor. Kamu ini masih gadis suci," timpal Andra. Berusaha memeluk Margaretha dari belakang.


"Ndra, aku tidak pantas untukmu," ucap Margaretha membuat Andra menghela napas panjang.


"Mar, kamu sangat pantas untukku. Lebih baik sekarang kamu tidur. Aku hanya akan memelukmu saja, tidak yang lain." Andra berusaha merayu sembari melingkarkan tangan di perut Margaretha secara perlahan. Dia mengembuskan napas lega saat Margaretha tidak lagi melakukan penolakan.


"Ndra ...."


"Jangan banyak bicara. Lebih baik sekarang kamu tidur aja. Aku tidak akan meminta hakku sekarang dan aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap," ucap Andra yakin. Margaretha pun hanya membisu.


***


Agnes kebingungan. Margaretha menginap di hotel, sedangkan dirinya yang tidak terbiasa menginap di hotel lebih memilih untuk pulang. Namun, dia tidak tahu harus pulang dengan siapa. Dengan ketiga sahabat Margaretha, Agnes masih merasa sungkan karena tidak terlalu kenal dekat. Jika harus bersama Eldrick, Patricia dan yang lain, Agnes pun merasa enggan. Lebih tepatnya dia merasa malu karena perbuatan sang papa. Apalagi, Agnes merasakan mereka yang tidak peduli dan tidak mau mendekat sama sekali.


"Lebih baik aku naik taksi saja," ucap Agnes. Memilih jalan terakhir dan dia pun segera keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan kepada siapa pun. Namun, Agnes tidak mengetahui kalau Eldrick diam-diam mengikuti dari belakang. Lelaki itu memang terkesan tak acuh, tetapi sebenarnya dia tidak membenci Agnes. Karena bagaimanapun Agnes tidak bersalah di sini. Janu-lah yang harus mendapat balasan.


Ketika Agnes baru sampai di depan hotel, gadis itu terkejut saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di sampingnya. Kening Agnes mengerut dalam dan berusaha melihat siapakah yang sedang duduk di kursi kemudi. Namun, saat pintu mobil terbuka, Agnes mengembuskan napas secara kasar saat melihat Gatra keluar dari sana.


"Kamu butuh tumpangan, Nona?" tanya Gatra. Tersenyum miring.

__ADS_1


Agnes melipat tangan di depan dada sembari memalingkan wajah. "Tidak! Aku bisa pulang sendiri."


"Kamu yakin tidak butuh tumpangan?" Gatra masih berusaha memanasi.


"Tidak! Apa kamu tidak dengar?" Agnes berkacak pinggang. "Pergilah! Atau aku akan berteriak penculik," ancam Agnes.


Gatra yang mendengar itu pun berusaha menahan tawa. Lalu kembali masuk dan duduk di kursi kemudi dengan gaya gagah. Agnes pun mengikuti gerak-gerik Gatra dan mengumpati lelaki itu sebagai lelaki yang tidak peka meskipun hanya dalam hati.


"Hati-hati di jalan, Nona. Biasanya kalau malam seperti ini banyak preman yang keliling untuk mencari mangsa. Whhrrooaammm!" Gatra menakuti dan menirukan suara macan. Agnes yang mendengarnya pun menjadi ketakutan. Namun, saat Agnes hendak masuk ke mobil Gatra, lelaki itu justru melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan Agnes sendirian.


"Heii! Tunggu aku!" teriak Agnes. Gatra hanya melihat Agnes dari spion mobil. Melihat gadis itu yang mengejar mobilnya. "To ... long!"


Gatra terkejut saat melihat tubuh Agnes tergeletak tidak sadarkan diri. Dengan cepat dia memundurkan mobilnya dan turun dari sana lalu membawa Agnes masuk ke mobil. Ketika sedang menutup pintu, Gatra terkejut saat Eldrick menepuk bahunya cukup kencang.


"Kamu siapa?" tanya Eldrick, menatap Gatra penuh selidik karena dua lelaki itu belum pernah bertemu sebelumnya.


"Gatra. Lebih baik kita bicarakan nanti, gadis ini sudah sangat butuh pertolongan." Gatra begitu mendesak. Eldrick pun hanya mengangguk dan ikut masuk karena khawatir dengan keadaan Agnes.


Mobil Gatra melaju cepat membelah jalanan kota yang tidak terlalu padat. Tampak kekhawatiran dari raut wajah Gatra. Padahal Gatra tidak dekat dengan gadis itu sebelumnya. Namun, entah mengapa hati Gatra merasa tidak tenang saat melihat Agnes yang masih belum sadarkan diri.


Setibanya di rumah sakit, Agnes langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapat pertolongan, sedangkan Gatra dan Eldrick menunggu di depan ruangan penuh kegelisahan. Eldrick ingin sekali menghubungi Margaretha, tetapi dia khawatir akan mengganggu malam pertama pengantin baru itu.


Gatra menyandarkan kepala di tembok sembari memejamkan mata. Berkali-kali lelaki itu terlihat menghela napas panjang untuk mengurangi rasa gelisah yang begitu mendera.

__ADS_1


Aku mohon ... sadarlah.


__ADS_2