Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
24


__ADS_3

Seperti sebuah keajaiban, kedua mata Agnes perlahan terbuka. Janu pun beranjak bangun dengan tergesa. Sungguh, ini pemandangan yang luar biasa bagi Janu setelah dirinya seharian dibuat gelisah. Untuk saat ini, Janu sedikit bernapas lega meskipun masih merasa khawatir karena napas Agnes yang terlihat berat.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" Janu menciumi puncak kepala Agnes berkali-kali. Bahkan, lelaki itu sampai menitikkan air mata. Margaretha yang melihat itu pun memundurkan tubuhnya beberapa langkah dan mengusap air matanya secara cepat.


"Etha ...." Bukannya menjawab pertanyaan Janu, Agnes justru menatap Margaretha penuh memelas. Seolah-olah meminta Margaretha untuk mendekat. Margaretha tidak beranjak sama sekali, hanya senyum manis yang dia sematkan.


Beberapa detik selanjutnya, dokter datang dan segera memeriksa Agnes. Mengucapkan syukur karena Agnes sudah kembali sadar meskipun gadis itu harus banyak istirahat dan jangan sampai memikirkan hal-hal yang berat.


"Keluarlah, Pa. Aku mau bersama Etha saja di sini." Agnes mengusir. Janu yang awalnya tidak mau pergi pun pada akhirnya berpamitan saat melihat tatapan putrinya yang begitu memohon.


Ketika Janu telah keluar dari ruangan tersebut, barulah Margaretha mendekat dan menggenggam erat tangan Agnes. Bibir pucat Agnes tertarik dan tampaklah senyuman simpul yang menghiasi wajah cantik gadis itu.


"Cepatlah sembuh, Nes," ujar Margaretha.


"Terima kasih, Etha. Apakah kamu mau berjanji satu hal padaku," ucap Agnes. Menatap Margaretha dalam. Sementara itu, kening Margaretha terlihat mengerut dalam.


"Janji apa?" tanyanya.


"Kalau aku sudah sembuh, kamu akan menemaniku bersenang-senang. Kita akan jalan-jalan, beli ice cream dan ya ... apa pun itu yang penting kita berdua," pinta Agnes seperti anak kecil. Margaretha yang mendengar itu pun terkekeh.


"Jangan bilang kamu ingin memborong Boba," ucap Margaretha setengah meledek. Agnes mengerucutkan bibirnya. Namun, sesaat kemudian senyum gadis itu terlihat merekah sempurna.

__ADS_1


"Ide bagus. Aku akan membeli Boba beserta gerobak dan abang-abangnya yang jualan sekalian," seloroh Agnes. Margaretha pun tak kuasa lagi menahan gelakan tawanya.


"Buat apa Abang penjual Boba. Mau kamu jadikan suami?" Margaretha menutup mulut untuk menahan tawanya agar tidak kembali meledak.


"Iyalah, jadi kalau kita sudah menikah, aku bisa puas minum Boba setiap hari," balas Agnes, kembali mengundang gelakan tawa Margaretha. "Eh, nanti bantu aku nyari penjual Boba yang ganteng ya. Biar pas udah nikah, dia pantas diajak kondangan."


"Astaga, Agnes." Margaretha memegang perutnya yang mulai terasa kram karena terlalu banyak tertawa.


Tanpa mereka ketahui, Janu berdiri di depan pintu dan mengintip dari kaca. Melihat interaksi Agnes dan Margaretha membuat hati Janu berdesir. Dia tidak menyangka kalau ternyata Agnes dan Margaretha bisa sedekat itu. Dengan segera Janu mengusap air matanya saat menyadari kalau di depan ruangan itu, dia tidak sendirian. Ada tiga sahabat Margaretha yang terus menatap lekat ke arah lelaki itu.


Janu pun hendak pergi dari sana hanya untuk menenangkan diri. Setidaknya, dia merasa tenang saat Agnes sedang bercanda bahkan sangat akrab dengan Margaretha.


Janu yang sedang duduk di kantin sembari menyeruput secangkir kopi panas pun segera menoleh untuk melihat siapa yang datang. Eldrick. Sungguh, Janu tidak menyangka kalau lelaki itu datang menemuinya. Tanpa dipersilakan, Eldrick langsung duduk di depan Janu. Saling melemparkan tatapan dengan lelaki itu. Sebelah sudut bibir Eldrick tertarik saat melihat rahang Janu yang mulai mengetat.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Janu, berusaha menahan kekesalan.


"Tentu saja menjaga nona mudaku." Eldrick berbicara santai. Dia sama sekali tidak takut terhadap Janu meskipun lelaki itu pernah menembaknya hingga hampir mati.


"Aku tidak menyangka kalau ternyata kamu masih bisa hidup sampai sekarang," ucap Janu. Tanpa memutuskan tatapan tajamnya.


"Luar biasa, bukan? Itu artinya Tuhan memberikan aku kesempatan untuk terus menjaga nona muda dari orang pendendam sepertimu!" Eldrick menunjuk wajah Janu. Namun, Janu justru tersenyum sinis. "Tersenyumlah sebelum aku memenjarakan kamu!"

__ADS_1


Senyum Janu memudar seketika. Merasa tersudutkan dengan ancaman Eldrick tersebut. Bukan jeruji besi yang membuat Janu khawatir, tetapi Agnes. Jika memang dirinya harus dipenjara maka bagaimana dengan Agnes? Janu tidak mungkin meninggalkan putrinya sendirian.


"Kamu takut?" Eldrick tertawa meledek saat melihat Janu diam saja. "Kamu tenang saja. Andra, putraku sedang mengurus semuanya. Mengumpulkan bukti-bukti untuk memberatkan tuntutan untukmu nanti. Sudah cukup kamu melukai nona mudaku."


"Aku mohon, hentikan. Aku sadar sudah salah selama ini. Aku akan menyerahkan diri, tapi setelah putriku sehat." Janu yang berani kini menghilang, berganti menjadi seorang lelaki rapuh yang mencemaskan putrinya. Janu yang menyeramkan kini menjadi lelaki yang begitu memelas dan meminta belas kasihan.


"Kamu pikir aku akan terkecoh dengan wajah sialanmu itu!" Eldrick lagi-lagi menunjuk wajah Janu. "Kamu sangat khawatir pada putrimu, tapi apa kamu selama ini berpikir bagaimana sakitnya nona muda menjalani kehidupan ini tanpa kedua orang tuanya?"


"Aku hanya ingin anak Anjani itu merasakan apa yang Agnes rasakan. Agnes pun harus terluka karena hidup tanpa kasih sayang ibunya. Putriku juga sama terlukanya." Janu mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Berusaha menahan emosi agar tidak meluap.


Ketika pembicaraan sedang tegang, ponsel Janu berdering. Lelaki itu segera menerima panggilan dari Wibisono.


"Tuan, kita dikepung sekarang."


Janu terdiam saat mendengar suara Wibisono dari seberang telepon begitu terburu. Dia juga bisa menangkap suara sirine mobil polisi meski samar-samar.


"Sial!" Janu mematikan panggilan tersebut secara sepihak lalu bergegas bangkit dan bersiap hendak pergi, tetapi Eldrick langsung menahan lengan lelaki itu.


"Tunggulah di sini karena sebentar lagi ada yang akan menyambutmu." Eldrick tersenyum miring, sedangkan Janu terlihat semakin cemas. Lelaki itu terkejut saat melihat dua orang berseragam polisi sedang berjalan mendekat.


"Ya Tuhan ...." desis Janu.

__ADS_1


__ADS_2