
"Zaenabb!!!" pekik Rasya, Zety, dan Margaretha kompak. Bahkan suara yang tinggi itu membuat Zahra sampai menjauhkan ponselnya dari telinga. Khawatir gendang telinganya akan pecah dan membuatnya tuli saat itu juga.
"Hehe. Pura-pura kagak denger aja napa, sih!" Zahra berbicara dengan santainya. Seolah tidak berdosa sama sekali.
"Ingat, kita belum budek, Zae!" cebik Zety kesal.
"Udah kembali ke laptop alias pembicaraan kita. Gue juga udah pengen anu—"
"Anu mulu elu, Ra!"
"Maksud gue tidur. Otak kalian mikirnya melenceng mulu," ucap Rasya disertai kekehan. Mencairkan suasana agar tidak setegang tadi.
"Mar, napa lu belum mau disogok juga? Kasihan adiknya Andra ntar nangis."
"Iya, Mar. Jangan sampai burung Andra kedinginan terus dan akhirnya nyari lubang lain karena capek elu anggurin mulu. Di juga butuh kehangatan kali, Mar." Zety menambahkan ucapan Rasya. Mengompori sahabatnya.
"Astaga. Mulut kalian laknat bener. Gue aja belum diperawanin masa iya Andra udah mau nyoba lubang lain. Kejam amat," timpal Margaretha. Mendengkus kasar. Dia sudah tahu ketiga sahabatnya itu sangat sengklek dan dengan bodohnya, dia justru menghubungi mereka. Bukannya menghilangkan jenuh, yang ada dirinya menjadi bahan bullyan.
"Ya habisnya elu, sih." Rasya terus menyalahkan Margaretha.
"Ra, gue 'kan cuma ngikutin saran dari lu. Dicicil sedikit-sedikit sampai lunas," ucap Margaretha dengan polosnya. Tak ayal, ucapan itu mampu membuat gelak tawa ketiga sahabat Margaretha meledak. Tidak menyangka kalau Margaretha akan sebodoh itu. "Kenapa kalian malah ketawa, sih!"
"Habisnya elu lucu, Mar. Itu antara bodoh sama goblok beda tipis," ledek Zahra tanpa filter.
"Yaelah, Zae. Omongan lu bisa enggak yang lebih alusan biar enggak nylekit banget di hati," protes Margaretha.
"Iya mangap, Mar. Eh maaf maksud gue. 'Kan gue cuma bercanda berdasarkan fakta," ucap Zahra lagi. Tak lelah meledek sahabatnya.
"Masa bodo!" Margaretha pun memilih diam. Sahabatnya semakin diladeni maka akan semakin gencar menggoda.
"Eh, Mar. Gue punya video bagus buat pencerahan hati lu. Biar hati lu kebuka dan bisa cepat menerima Andra." Zahra tertawa lirih saat menyadari Margaretha tidak bisa melihat senyum liciknya.
__ADS_1
"Video apaan?" tanya Margaretha tidak sabar.
"Bentar. Gue matiin dulu." Zahra pun mematikan panggilan tersebut.
"Gue juga."
"Gue juga iya, ah!"
Panggilan itu pun benar-benar terputus. Margaretha merasa sangat dongkol. Dia pun hendak melakukan panggilan lagi untuk mengganggu mereka. Namun, niatnya terhenti saat melihat sebuah masuk dan ternyata itu adalah video dari Zahra. Awalnya Margaretha sedikit terkejut setelah memutarnya. Namun, dia mengamati lekat setiap adegan yang terlihat di layar. Bahkan kening gadis itu sampai mengerut dalam saking seriusnya.
"Oh sialan!" Margaretha hampir saja membanting ponselnya saat melihat dua orang tanpa busana sedang melakukan adegan ranjang. Padahal sejak pemanasan Margaretha menikmati tontonan itu, tetapi saat pakaian pemain sudah terlepas semua, barulah kesadaran Margaretha kembali. Sungguh, Margaretha tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
Emang racun mereka! Umpat Margaretha dalam hati.
"Kamu belum tidur?"
Margaretha tersentak saat melihat Andra masuk ke kamar secara tiba-tiba. Dengan segera dia menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh. Andra yang melihat tingkah Margaretha pun menjadi curiga. Dia melepas sepatu dan segera naik ke ranjang.
"Kenapa kamu gugup gitu?" tanya Andra. Menatap Margaretha penuh selidik.
"Aku sengaja pulang cepat karena khawatir kamu takut sendirian," ucap Andra. Masih terus menatap Margaretha lekat.
"Kalau begitu aku siapkan air hangat untuk mandi." Margaretha hendak turun dari ranjang, tetapi Andra segera menahan tangan istrinya. Melayangkan tatapan penuh selidik membuat Margaretha salah tingkah sendiri.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Margaretha bukannya menjawab pertanyaan Andra, tetapi justru mengamati bibir Andra yang seksi. Margaretha ingin sekali melahap bibir itu. Bibir yang sering bertabrakan dengan miliknya. Bayangan di video tadi begitu mengusik pikiran Margaretha hingga tubuh gadis itu terasa panas-dingin.
Arrgghhh! Kenapa kebayang itu mulu. Margaretha menggerutu dalam hati.
"Margaretha Adzakia Affandra." Andra memanggil nama lengkap yang membuat Margaretha menjadi tersadar. "Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."
__ADS_1
Margaretha menggeleng. Namun, dia terkesiap saat Andra sudah mengambil ponselnya. Padahal Margaretha belum menekan icon kembali. Margaretha pun berusaha merebut sebelum Andra melihatnya. Namun, Andra justru menjauhkan ponsel dari jangkauan Margaretha.
"Kembalikan, Ndra!" Margaretha benar-benar cemas kalau sampai Andra tahu dan menonton adegan itu.
"Sebentar. Aku mau hidupkan hotspot-mu. Dataku habis." Andra berkilah. Dia pun menghidupkan layar dan matanya langsung membola saat melihat video yang barusan belum kelar ditonton oleh Margaretha.
Andra pun menoleh dan menatap Margaretha sangat tajam. Menyadari tatapan Andra, Margaretha pun menunduk dalam. Merasa takut akan terkena amarah lelaki itu.
"Dapat dari mana video kaya gini?" tanya Andra menuntut jawaban.
"Da-dari ...." Margaretha terdiam karena lidahnya mendadak kelu. Sangat sulit untuk bicara.
"Katakan padaku, Mar." Meskipun Andra sudah tahu siapa pengirim video tersebut karena namanya terpampang jelas di bagian atas, tetapi Andra ingin mengetahui kejujuran istrinya.
"Dari Zaenab. Tapi jujur, Ndra. Aku enggak tahu kalau si Zaenab ngirim video kaya gitu. Dia cuma bilang mau kirim video yang bikin hati aku jadi cerah," terang Margaretha.
Mendengar penjelasan Margaretha, Andra pun segera menaruh ponsel tersebut di atas nakas. Lalu menindih Margaretha secara tiba-tiba. Berada dalam posisi yang tidak siap, Margaretha pun tidak bisa menghindar.
"Ndra ... kamu pasti capek." Margaretha berusaha mendorong dada Andra, tetapi percuma. Andra justru makin menekan dadanya agar menempel rapat pada Margaretha.
"Aku tidak capek. Aku ingin sekali kita melakukan adegan seperti di video itu." Andra berbisik dan membuat tubuh Margaretha kembali meremang.
"Ta-tapi, Ndra—"
"Kamu tenang saja. Aku akan melakukan dengan pelan dan kalau kamu kesakitan aku akan menghentikannya." Ucapan Andra sangat lembut hingga membuat Margaretha terbuai. Tanpa sadar, Margaretha mengangguk lemah.
"Tapi kamu harus janji pelan-pelan." Margaretha berbicara pasrah. Andra mengangguk lalu menciumi seluruh wajah Margaretha.
Adik kecil waktunya masuk ke sarang. Teriak Andra dalam hati. Batinnya kegirangan sendiri.
🤪🤪🤪🤪
__ADS_1
Cieee pasti nungguin part selanjutnya ya 😂
dukungan kalian selalu Othor tunggu 😁