Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
25


__ADS_3

Janu merasa sangat bingung. Hal apakah yang bisa dilakukannya saat ini, sedangkan dirinya sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Suasana di kantin tersebut pun mendadak riuh saat salah seorang polisi langsung memasang kedua borgol ke pergelangan tangan Janu. Tidak peduli meskipun Janu sudah berusaha meronta. Meminta untuk dilepaskan.


"Kamu sudah tidak bisa kabur lagi, dan ambillah apa yang seharusnya kamu dapatkan dari perbuatanmu." Eldrick tersenyum puas menatap Janu yang kini sudah pasrah.


"Aku akan ikut kalian, tapi aku mohon untuk saat ini jangan sampai putriku tahu. Kesehatannya belum pulih dan aku tidak mau terjadi hal buruk padanya." Janu begitu memohon, tetapi Eldrick justru melebarkan senyumnya.


"Aku tidak yakin bisa melakukan itu. Bukankah seharusnya putrimu sudah tahu resiko apa yang harus didapat oleh seorang pembunuh?" Eldrick berbicara yakin dan langsung menyuruh polisi tersebut untuk membawa Janu pergi dari sana. Janu pun tidak bisa melakukan apa pun lagi. Dia hanya berharap semoga putrinya tidak syok saat mendengar dirinya ditangkap polisi.


Baru saja berbalik beberapa langkah, mereka berhenti karena mendengar panggilan dari arah pintu masuk kantin. Ternyata, Margaretha datang ke sana. Napas gadis itu tersengal dan terlihat jelas kalau dia berlari datang ke sana. Yang membuat mereka terkejut adalah Margaretha yang berusaha menahan polisi tersebut agar tidak menangkap Janu.


"Ada apa, Nona muda?" tanya Eldrick heran.


"Apa Paman yang menyuruh polisi ini untuk menangkap lelaki itu?" Margaretha justru bertanya balik. Eldrick yang mendengar pertanyaan itu pun sampai mengerutkan keningnya dalam.

__ADS_1


"Ya. Bukankah seharusnya inilah yang lelaki itu dapatkan, Nona?" Eldrick berusaha menahan kekesalan dan berusaha untuk tetap terlihat tenang. "Jangan bilang Anda akan membebaskan lelaki ini begitu saja, Nona!"


"Paman, bagaimana dengan Agnes?" tanya Margaretha membuat hati Janu tersentuh. Di saat sedang seperti ini, Margaretha masih saja memikirkan Agnes. Padahal Janu sadar kalau dosanya kepada Margaretha sangatlah besar.


"Biarkan itu jadi urusan dia, Nona! Ingat, dia tidak peduli pada perasaan Anda ketika membunuh orang tua Anda!" Suara Eldrick setengah membentak. Margaretha pun menunduk dalam saat melihat kemarahan dari sorot mata Eldrick. Margaretha benar-benar takut pada kemarahan lelaki itu. Melihat Margaretha yang hanya diam, Eldrick pun segera menyuruh polisi tersebut untuk membawa Janu pergi dari sana. Margaretha pun tidak bisa lagi melarang.


"Jangan terlalu baik dengan orang lain, Nona. Karena bisa saja kebaikan Anda dimanfaatkan oleh orang lain yang licik." Ucapan Eldrick berhasil menghentikan langkah Margaretha yang hendak pergi dari sana.


"Terima kasih nasehatnya, Paman. Pasti akan selalu aku ingat. Aku memang membenci lelaki brengsek itu karena sudah menghancurkan hidupku, tapi di satu posisi aku sadar kalau ini akan berakibat pada banyak hal. Termasuk Agnes yang tidak bersalah dan tidak tahu hal apa pun tentang ini." Margaretha tersenyum sekilas lalu pergi begitu saja meninggalkan Eldrick yang masih diam di tempatnya.


***


"Awas, Ndra!" teriakan Patricia menggema seiring bunyi tembakan di rumah milik Anjani. Andra mengerang dan memegang lengannya yang sudah berdarah karena terkena tembakan. Gerakan Wibisono yang begitu cepat membuat Andra tidak bisa menghindar. "Kamu baik-baik saja?" tanya Patricia khawatir.

__ADS_1


"Tidak apa. Hanya luka kecil." Andra mengarahkan tembakan ke arah tembok pembatas ruang tamu. Sepersekian detik selanjutnya, Andra menarik pelatuk dan terdengarlah bunyi tembakan menggema di sana.


"Arrrghh sial!" Wibisono mengumpat kesal. Bagaimana bisa peluru Andra dengan jitu mengenai tangannya. Menyadari dirinya yang telah terkepung, Wibisono pun berniat hendak pergi dari sana lewat pintu belakang. Gerakan kakinya begitu cepat seperti kilat hingga membuat mereka yang mengejar kehilangan jejak.


"Satu orang kabur!" kata salah seorang polisi. Andra yang mendengar itu pun mengumpat marah dan berlari berusaha mengejar. Namun, Wibisono bak hilang ditelan bumi. Tidak ada sedikit pun jejak yang ditinggalkan oleh lelaki itu.


"Argghhh!!! Aku belum membalas perbuatannya yang sudah menyakiti Margaretha!" Andra menendang udara kuat-kuat untuk meluapkan kekesalan.


"Sabar, Ndra. Kita pasti bisa menemukannya." Patricia menepuk bahu Andra untuk menenangkan lelaki itu. Setelahnya, Patricia mengajak Andra pergi dari sana, sedangkan anak buah Janu sudah dibawa pergi oleh pihak berwajib.


Seorang lelaki mengerang kesakitan di sebuah lorong sempit. Tidak ada siapa pun di sana. Benar-benar senyap. Bahkan, air mata lelaki itu mengalir saat rasa nyeri dari tangan yang tertembak menjalar sampai ke seluruh tubuhnya hingga membuat dirinya seperti sekarat.


"Kak ...." Bibirnya bergumam lirih. Terus menyebut kakak perempuannya yang sudah meninggal dunia karena diperkosa. "Kak ... Aku ingin menyusul Kakak."

__ADS_1


Wibisono tidak sadarkan diri karena tak kuasa menahan rasa sakit dan lelah. Dia pun terkapar tidak berdaya di lorong sempit tersebut. Tidak ada seorang pun yang menolongnya.


__ADS_2