Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
37


__ADS_3

Tanpa sadar, meskipun bibirnya mengerucut dan terus saja menolak suapan dari Gatra, nyatanya Agnes bisa menghabiskan sepiring makanan rumah sakit tersebut. Gatra pun tersenyum senang sembari menelungkupkan sendok di atas piring yang telah kosong. Setelahnya, Gatra memberikan segelas air putih dan langsung dihabiskan oleh Agnes. Gatra pun tidak menyadari kalau dirinya sudah memberi perhatian kepada gadis itu. Hal yang jarang sekali Gatra lakukan terhadap orang yang baru dikenalnya.


"Kalau sudah kenyang, kamu bisa tidur lagi sekarang," perintah Gatra. Namun, Agnes justru mengembuskan napas kasarnya. "Kenapa kamu terlihat kesal begitu?"


"Kamu itu aneh! Aku baru selesai makan, tapi langsung menyuruhku untuk tidur. Apa kamu sengaja agar lemak di perutku tertimbun. Nanti aku akan buncit dan tidak ada lagi lelaki yang mau denganku dan aku akan menjadi perawan tua," cerocos Agnes. Gatra membekap mulut Agnes agar gadis itu diam.


"Astaga, itu mulut apa rel kereta api," ledek Gatra. Senyumnya tampak dari kedua sudut bibirnya.


"Ish! Kamu ...."


"Agnes!"


Suara Agnes tercekat di tenggorokan saat mendengar suara Margaretha. Dia terkesiap saat melihat pengantin baru itu sedang berjalan masuk dengan langkah tergesa. Agnes takut Margaretha akan memarahinya habis-habisan.


"E-Etha. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Agnes gugup. Agnes menunduk saat melihat tatapan Margaretha yang menajam. Tanpa dijelaskan pun, Agnes sudah tahu pasti apa yang membuat Margaretha tampak kesal padanya.


"Seharusnya aku yang tanya. Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa juga kamu berbohong padaku," omel Margaretha setengah membentak. Namun, dia tidak berani menggunakan nada tinggi karena tahu jantung Agnes yang lemah.


"Aku ... aku ...."

__ADS_1


"Aku apa? Apa kamu tahu kalau berbohong itu—"


"Ya, aku tahu, Etha. Kata papaku, kalau berbohong itu temennya setan. Maafkan aku sudah berbohong padamu, Etha." Suara Agnes terdengar lirih dan penuh sesal. Margaretha yang akhirnya merasa kasihan pun langsung mendekap gadis itu erat.


"Maafkan aku sudah memarahimu, Nes. Aku hanya khawatir padamu." Margaretha mengeratkan pelukannya sesaat lalu melepaskan. Dia menatap wajah Agnes yang sudah tampak lebih segar.


"Jangan berbohong padaku lagi. Atau aku akan menghukummu," perintah Margaretha. Agnes hanya mengangguk mengiyakan.


Ketika melihat Margaretha yang sudah sibuk mengobrol dengan Agnes, Gatra pun berpamitan keluar untuk sarapan. Tak lupa dia juga mengajak Andra untuk membicarakan soal pembukaan cabang restoran miliknya.


Selepas kepergian kedua lelaki itu, Margaretha duduk di samping Agnes dan menggenggam tangan gadis itu cukup erat. Tatapan Margaretha terlihat nanar membuat Agnes menjadi salah tingkah sendiri. Takut ada yang salah dari dirinya.


"Nes ... apa kamu tidak ingin bertemu papamu?" Margaretha bertanya balik. Bibir Agnes yang barusan tersenyum lebar kini tampak memudar perlahan. Gurat sendu terlihat memenuhi wajah gadis cantik itu. Margaretha yang melihat itu pun menjadi ikut sedih.


Agnes mengembuskan napas secara perlahan. Lalu menggeleng lemah, "Tidak."


"Kamu mau berbohong padaku lagi, Nes?" Tatapan Margaretha tampak sedikit lebih tajam. Membuat Agnes kembali beringsut takut.


"Maafkan aku, Etha. Tapi untuk apa kamu bertanya seperti itu. Padahal aku sedang berusaha hidup mandiri tanpa papa. Bagaimanapun juga, aku harus belajar menjadi gadis dewasa mulai sekarang," ucap Agnes. Kali ini giliran Margaretha yang menghela napas panjangnya.

__ADS_1


"Nes, aku ini juga pernah berstatus sebagai seorang anak. Saat aku sakit, aku juga pasti akan merindukan papa dan mamaku. Apalagi kamu yang merupakan gadis sangat manja. Bahkan, aku sangat yakin kalau kamu masih tidur di ketiak papamu," ucap Margaretha setengah meledek. Agnes menarik tangannya hingga genggaman tangan itu terlepas. Gadis itu merajuk.


"Jangan meledekku, Etha. Bagaimana juga aku adalah kakakmu yang harus kamu hormati," ujar Agnes. Memalingkan wajah dan berpura-pura marah.


"Baiklah, Kakakku Sayang. Cepatlah sembuh. Aku janji setelah kamu sembuh, aku akan mengajak kamu menemui papamu."


"Kamu tidak bohong, Etha?" Wajah Agnes tampak semringah. Margaretha pun mengangguk cepat.


"Tentu saja. Aku tidak mungkin berbohong karena aku tidak ingin memiliki teman setan," timpal Margaretha. Agnes yang mendengarnya menjadi terkekeh sendiri.


"Tapi, Etha, aku mau bertemu papa dua Minggu lagi saja."


"Kenapa lama sekali? memangnya kamu tidak merindukan papamu?" Margaretha bertanya lagi.


"Tentu aku sangat merindukan papa, tapi aku akan datang saat aku berulang tahun saja. Aku ingin menguji apakah papa masih ingat tanggal ulang tahunku atau tidak," kata Agnes. Menatap Margaretha penuh harap. Entah mengapa, hati Margaretha merasa berdesir karena tidak tega.


Margaretha tahu, Agnes pasti sangat merindukan Janu. Namun, Agnes pandai menutup dengan senyum ceria.


"Kalau begitu kami harus banyak istirahat dan cepatlah sembuh," kata Margaretha. Agnes hanya mengangguk mengiyakan. Setelahnya, Margaretha pun hanya menatap Agnes yang mulai memejamkan mata.

__ADS_1


Kita sama, Nes. Sama-sama tersenyum meski hati sudah hancur dan diporakporandakan oleh keadaan. Semoga selamanya kita akan bersama. Menjadi kakak-adik yang saling menyayangi dan melengkapi.


__ADS_2