Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
29


__ADS_3

Cukup lama Margaretha hanya membisu. Tatapannya ke arah Agnes begitu ragu. Jujur, dalam hatinya merasa bimbang. Haruskah dia mengatakan semuanya, atau tetap berdusta seperti kemarin. Namun, melihat sorot mata Agnes yang begitu berharap, Margaretha pun memilih untuk jujur.


Dia menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. "Baiklah. Akan aku katakan sejujurnya pada kamu." Margaretha kembali diam dan masih terlihat sedikit ragu-ragu.


Agnes pun sama sekali tidak menyela dan hanya diam menunggu Margaretha melanjutkan ucapannya. "Papa kamu memang sedang dipenjara sekarang."


"Huh!" Agnes mengembuskan napas kasar hingga membuat Margaretha kembali menghentikkan ucapannya. "Benar dugaanku kalau papa memang sekarang sedang dipenjara."


"Maafkan aku, Nes. Aku tidak berniat—"


"Kenapa kamu minta maaf? Ini bukan salah kamu, Etha." Agnes memotong ucapan Margaretha. "Memang seharusnya seperti ini. Ini langkah yang benar."


"Tapi, Nes ... kamu harus jauh dari papamu. Aku khawatir."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tenanglah, aku baik-baik saja. Aku lebih beruntung daripada kamu." Agnes berpura-pura menguap. "Aku mengantuk. Mau tidur lagi. Besok antar aku menjenguk papa. Maukah?"


Margaretha mengangguk, menyanggupi permintaan Agnes. Setelahnya, Agnes pun tidur membelakangi Margaretha dan menarik selimut sampai menutup seluruh tubuhnya. Margaretha hanya mendes*h panjang dan ikut merebahkan tubuhnya. Namun, ketika Margaretha baru saja hendak terlelap, dia dikejutkan dengan isakan Agnes. Suasana yang senyap membuat isakan itu terdengar jelas meskipun lirih.


Margaretha segera menyingkap selimutnya dan memeluk Agnes erat. Isakan tersebut pun terdengar mereda.


"Kenapa kamu menangis, Nes?" tanya Margaretha setengah berbisik. Di balik selimut tersebut, Margaretha merasakan kepala Agnes yang menggeleng lemah.


"Aku tidak menangis," kilah Agnes. Namun, suara gadis itu terdengar parau.


"Jangan berbohong. Bukankah jujur meski menyakitkan itu lebih baik daripada berbohong." Margaretha mengeratkan pelukannya.


"Aku hanya sedih."


"Kamu sedih karena papamu dipenjara? Kalau begitu besok aku akan mencabut tuntutan agar papamu bebas, tapi berjanjilah kamu akan selalu baik-baik saja," ucap Margaretha.

__ADS_1


"Ish! Kenapa kamu naik sekali, Etha. Bukan itu yang buat aku sedih." Agnes pun menggerakkan tubuhnya agar Margaretha melepaskan pelukan tersebut, lalu dia membuka selimut. Margaretha pun bisa melihat dengan jelas mata dan hidung Agnes yang memerah juga air mata yang belum sepenuhnya mengering.


"Lalu? Katakan padaku apa yang membuat kamu menangis." Margaretha menangkup wajah Agnes dan mengusapkan ibu jari untuk membantu menghapus air mata gadis itu.


"Aku sedih kepikiran kamu. Aku baru ditinggal papa beberapa hari aja rasanya sangat menyakitkan dan terjerat rindu. Bagaimana dengan kamu yang harus hidup sendirian tanpa orang tua," ucap Agnes diiringi tangisan.


Margaretha membisu. Namun, kedua mata yang basah menjadi tanda kalau gadis itu sedang sedih sekarang. "Aku baik-baik saja dan sudah terbiasa meskipun dulu waktu awal rasanya sangat sulit dan sakit."


"Aku benci papa, Etha. Kenapa papa menjadi iblis seperti itu. Tapi, aku juga tidak tahu harus bagaimana. Jauh dari papa aja udah buat aku sakit." Agnes mengusap air mata yang kembali mengalir deras.


"Nes ...."


"Etha. Aku tidak mau kamu membebaskan papa dulu. Biarkan dia menebus semuanya. Maukah kamu menemaniku selama papa tinggal di tahanan?"


"Pasti, Nes. Aku akan selalu menemanimu. Aku juga kesepian karena sahabatku sudah punya suami semua. Kalau ada kamu, setidaknya aku punya kakak bocah yang bisa diajak senang-senang." Margaretha tertawa meledek.


"Kurang ajar sekali. Aku ini kakakmu bukan bocah," ucap Agnes merajuk. Tawa Margaretha pun terdengar mengeras.


"Lepaskan. Kalau kita seperti ini, yang ada kita seperti lesbian," seloroh Agnes. Secepat kilat Margaretha menyingkirkan tangannya dan bergidik membayangkan adegan lesbian yang menggoda otak sucinya.


"Jangan mikir macam-macam, lebih baik sekarang kita tidur." Agnes memeluk Margaretha erat dan langsung dibalas. Mereka pun saling berbagi selimut. Namun, saat baru memejamkan mata, Margaretha kembali berdecak saat Agnes membangunkannya.


"Etha, kalau kita tidur berpelukan dan satu ranjang seperti ini, apakah salah satu di antara kita ada yang hamil?" tanya Agnes dengan lugunya.


"Astaga. Tabahkan hatiku punya kakak sepertimu." Margaretha menggeleng. Agnes sungguh luar biasa menurutnya.


***


"Mas, aku tidak bisa lagi menjadi istrimu. Aku harus pergi!"

__ADS_1


"Anjani! Jangan pernah selangkah pun kamu keluar dari rumah ini! Atau aku tidak akan segan-segan menceraikanmu!" Suara Janu menggelegar di ruang tamu di rumah mewah milik lelaki itu.


Anjani bergeming di ambang pintu lalu berbalik dan menatap Janu dalam. Ada rasa sakit yang Anjani rasakan dan itu terlihat jelas dari sorot matanya yang sendu.


"Mas, aku udah lelah. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu, pekerjaanmu. Tanpa peduli padaku sama sekali. Bahkan, saat orang tuamu menghinaku, kamu hanya diam saja. Aku sakit, Mas! Hatiku sakit sekali." Anjani menepuk dada saat merasakan sesak di sana. Cairan bening yang mengucur dari sudut matanya pun tak mampu lagi dibendung.


"Kapan orang tuaku menghinamu? Mereka hanya berbicara apa adanya. Jadilah menantu yang baik di sini karena mereka sekarang juga keluargamu!" Suara Janu meninggi, sedangkan orang tua Janu berdiri menguping dari balik tembok.


"Mas, aku rela pergi dari rumah dan agar bisa hidup denganmu. Tapi nyatanya? Cintamu hanya sesaat, setelahnya yang ada hanyalah keegoisan!"


"Kau mengatai aku egois, Anjani! Kamulah yang egois! Setelah kamu melewati pintu rumah ini maka kamu bukan lagi istriku!" hardik Janu. Berharap Anjani akan takut, tetapi ternyata dirinya salah. Anjani tetap melangkah pergi. Tanpa keraguan sama sekali. Janu pun segera mengejar wanita itu dan merebut bayi yang saat ini sedang digendongnya.


"Mas, ini anakku! Aku yang sudah melahirkan dia!" Anjani berusaha merebut bayi tersebut, tetapi gagal karena orang tua Janu sudah mengambil alih bayi tersebut dan melarang keras Anjani masuk kembali. Anjani bersimpuh dan meminta bayi tersebut, tetapi Janu tidak peduli sama sekali.


"Pergilah dari sini! Dia adalah putriku! Dan aku tidak akan pernah mengizinkanmu menemuinya!" usir Janu. Menyuruh satpam untuk menyeret Anjani keluar dari rumahnya. Setelahnya, Janu menutup pintu utama tersebut rapat-rapat tanpa peduli pada teriakan Anjani yang meminta anaknya dikembalikan.


"Aku yakin kamu pasti akan kembali padaku karena tidak bisa jauh dari putri kita." Janu tersenyum licik sembari menatap Anjani dari balkon kamar. Meskipun tidak tega, Janu bersikap seolah tidak peduli saat melihat Anjani menyeret koper, berjalan menjauh dari area rumah mewahnya.


Waktu terus berlalu, ternyata prasangka Janu salah. Anjani sama sekali tidak kembali padanya. Janu masih terus menanti sembari mengasuh putrinya sendirian karena orang tuanya meninggal dua bulan lalu karena kecelakaan. Sepuluh tahun berlalu, Janu berniat untuk mencari Anjani dan mengajaknya kembali. Namun, yang didapat justru sebuah fakta yang mengejutkan. Anjani sudah menikah lagi dengan Affandra, sahabat Janu semasa SMA. Sejak itulah hati Janu mulai memanas dan cemburu dengan kebahagiaan mereka yang Janu lihat secara diam-diam. Janu pun menaruh dendam kepada mereka. Apalagi, Janu merasa Anjani seperti tidak mengingat Agnes yang sakit-sakitan karena wanita itu sibuk dengan putrinya, hasil buah cinta bersama Affandra.


"Anjani ... maafkan aku," gumam Janu di tengah tidur lelapnya. Keringat dingin sudah membasahi dahi dan wajah lelaki itu.


🤪🤪🤪


Thor, Oe!


Satu lagi, kakaknya Wibisono siapa? Mamanya Margaretha 'kah?


Bukan, Sayang. Untuk kisah Wibisono semoga ada waktu biar jadi judul sendiri dan nanti ada part yang menjelaskan siapa kakaknya Wibisono itu ya 😁

__ADS_1


Dukungan kalian selalu Othor tunggu guys 🤗


__ADS_2