Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
41


__ADS_3

"Kamu berani padaku, hm?" Andra makin memajukan wajahnya hingga sangat dekat. Margaretha yang merasakan deru napas Andra menerpa wajahnya pun menjadi gugup. Jantungnya berdebar kencang saat berada dalam jarak sedekat itu. Andra yang melihat kegugupan Margaretha justru tersenyum senang.


Andra pun tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Dengan gerakan perlahan, dia meraup bibir ranum Margaretha yang terasa manis. Margaretha hendak menolak, tetapi Andra dengan sigap menangkup kedua pipi Margaretha agar tidak bisa bergerak bebas. Margaretha yang awalnya takut pun mulai terbuai karena ciuman Andra yang begitu lembut dan sangat memabukkan. Walaupun Margaretha masih begitu kaku saat membalas ciuman Andra.


Namun, itu hanya sesaat. Kurang lebih satu menit, cicilan pertama sesuai saran Rasya. Margaretha segera mendorong tubuh Andra saat melihat Eldrick berdiri di ambang pintu. Lelaki paruh baya itu menggeleng saat melihat pengantin baru yang sedang asyik bercumbu. Andra yang belum menyadari keberadaan Eldrick pun hendak maju lagi untuk mencium kembali karena dirinya belum merasa puas. Akan tetapi, gerakannya terhenti saat mendengar suara dehaman dari arah belakang. Andra pun berbalik dan mendengkus kasar saat melihat Eldrick.


"Maaf aku mengganggu kalian. Silakan lanjutkan dan jangan lupa matikan CCTV," ucap Eldrick santai sembari berjalan ke luar dari dapur. Setelah bayangan Eldrick menghilang dari balik pintu, Margaretha langsung mendaratkan pukulan di lengan suaminya hingga Andra mengaduh kesakitan.


"Sakit, Sayang."


Margaretha yang barusan hendak marah pun pada akhirnya tersenyum malu mendengar panggilan kesayangan itu. Pipinya sudah merona merah persis seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Andra pun menjadi gemas sendiri. Dia kembali mencium pipi Margaretha berkali-kali dan saat hendak mencium bibir, Margaretha langsung melarang. Meminta lelaki itu agar menjauh darinya karena dirinya mengingat ada CCTV yang menyala di dapur.


"Pergilah, aku tidak ingin orang lain tahu kita bercinta di dapur," usir Margaretha. Menaruh cangkir berisi teh panas ke atas nampan yang barusan dia pakai untuk memukul Andra.


"Kita baru berciuman, belum bercinta kau tahu?" timpal Andra. Margaretha memutar bola mata malas. "Apa teh panasnya sudah selesai?" tanya Andra. Berdiri di samping Margaretha.


"Sudah." Margaretha hendak mengangkat nampan tersebut, tetapi Andra melarang.


"Biar aku saja." Andra mengangkat nampan tersebut dan membawanya pergi dari dapur. Margaretha pun hanya diam dan berjalan mengekor di belakang suaminya.


Setibanya di kamar, Margaretha dan Andra langsung menjadi bahan godaan wanita-wanita somplak itu. Margaretha yang merasa malu pun menyuruh Andra agar segera keluar dari sana. Namun, bukannya pergi, Andra justru menggoda Margaretha dengan tetap berdiri di kamar itu.


"Ndra! Pergilah. Apa kamu tidak malu di sini kawasan cewek-cewek?" Margaretha bersidekap kesal.


"Memangnya kenapa? Aku masih tetap ingin di sini. Aku ingin tahu cewek itu kalau lagi kumpul, yang dibahas apa, sih?" ucap Andra. Dia duduk santai di sofa tunggal yang terletak tidak jauh dari ranjang.


"Kepo banget, sih!" cebik Margaretha, tetapi Andra hanya menarik sebelah sudut bibirnya.

__ADS_1


"Biarin sih, Mar. Namanya aja manten baru. Pasti Andra juga kagak mau jauh dari elu." Rasya berbicara sembari terkekeh.


"Iya, Mar. Masa sama laki lu sendiri kaya gitu. Manten baru tuh, romantis, kek." Zahra menambahkan.


"Terserah." Margaretha yang sudah kesal pun lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping Agnes. Tanpa peduli pada Andra yang akhirnya mengobrol dengan ketiga sahabat Margaretha. Awalnya Margaretha hanya berpura-pura tidur, tetapi ternyata dia benar-benar tertidur lelap. Bahkan, Andra sampai menggeleng saat mendengar dengkuran dari istrinya.


"Astaga, dasar kebo!" umpat Zety. Memukul kaki Margaretha, tetapi wanita itu tidak terusik sama sekali. Dikarenakan Margaretha tertidur lelap, Rasya, Zahra, dan Zety pun berpamitan pulang karena sudah hampir sore. Setelah kepergian tiga wanita itu, Andra segera membopong Margaretha dan membawanya ke kamar utama, sedangkan Agnes pun tertidur karena tubuhnya juga sudah merasa lelah.


***


Dua jam berlalu, Margaretha merentangkan tangan untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku. Namun, Margaretha segera duduk saat kedua matanya sudah terbuka lebar. Dia memindai setiap sudut kamarnya sembari berusaha mengingat-ingat.


"Bukankah aku ada di kamar Agnes? Kenapa sekarang aku di sini," gumam Margaretha. "Apa mungkin aku ini sleeping walker?" Margaretha bergidik ngeri saat membayangkan dirinya berjalan ke kamar sembari tertidur. Namun, bayangan mengerikan itu buyar saat terdengar bunyi pintu dibuka.


"Kamu sudah bangun?" tanya Andra sembari berjalan mendekat. Ranjang itu terasa bergerak perlahan saat Andra naik ke atasnya.


"Bagaimana aku ada di sini?" Margaretha justru balik bertanya.


Andra pun kembali iseng kepada Margaretha. Dia memajukan tubuhnya hingga menempel dada istrinya. Namun, Margaretha tidak lagi menghindar. Dia hanya menutup mulutnya sembari menoleh.


"Jangan dekat aku, Ndra." Satu tangan Margaretha berusaha mendorong bahu Andra agar menjauh.


"Memangnya kenapa? Sudah sewajarnya pengantin baru itu selalu nempel, bukan?" Andra menaik-turunkan alisnya sembari tersenyum menggoda.


"Aku belum gosok gigi. Masih bau iler. Aku tidak mau kamu muntah nantinya," ucap Margaretha tanpa menurunkan tangannya. Andra yang mendengar itu pun tak kuasa menahan tawa.


"Astaga. Markonah," kata Andra tanpa memudarkan senyumnya. Margaretha yang mendengar Andra memanggil Markonah pun, langsung memukul lengan lelaki itu untuk meluapkan kekesalan. "Astaga, kamu suka sekali melakukan kekerasan."

__ADS_1


"Habisnya kamu nyebelin!"


"Nyebelin gimana, hm?" Andra kembali memajukan tubuhnya membuat jantung Margaretha berdebar kencang karena terkejut sekaligus gugup.


"Ja-jangan dekat—"


Belum juga selesai berbicara, Margaretha kembali diam saat Andra kembali menciumnya. Kali ini, Margaretha tidak menolak dan justru mulai membalas ciuman itu.


Tok tok tok!


Ciuman itu terlepas begitu saja saat terdengar pintu diketuk cukup kencang disusul suara Agnes yang memanggil dan mengajak makan malam.


"Etha ... ayo kita makan! Aku sudah lapar!" teriak Agnes tanpa membuka pintu.


"Tunggulah di bawah setelah ini aku akan turun." Margaretha membalas berteriak juga. Setelahnya, tidak lagi terdengar suara Agnes sama sekali membuat Margaretha seketika mengembuskan napas lega.


"Sepertinya kita harus berbulan madu agar tidak ada yang mengganggu lagi," kata Andra. Margaretha tidak membuka suara. Lebih tepatnya, dia tidak terlalu memperhatikan ucapan Andra karena sedang fokus pada sesuatu hal.


Sepertinya ciuman tadi sudah dua menit, eh atau tiga menit? Apa jangan-jangan empat menit? Berarti ada kemajuan dong? Enggak harus nunggu tiga tahun biar sampai lunas. Batin Margaretha heboh sendiri.


"He! Kamu lagi mikirin apa!"


Margaretha tersentak saat Andra menyentil keningnya hingga lamunan tadi buyar entah ke mana.


🤪🤪🤪


Yaelah, Mar!

__ADS_1


Tinggal gaspol sampai puncak ngapain dicicil segala. Kasihan noh, adeknya si Andra.


Markonah said, "Mana aku tahu, tanyakan saja pada Othor yang hobi banget menjungkir-balikkan kisahku. Entah dia punya dendam apa padaku." 🤣🤣🤣


__ADS_2