
Margaretha sangat tidak menyangka akan mendapat kejutan yang bahkan sama sekali tidak terbayang dalam benaknya. Tatapannya terus menatap lekat tulisan itu. Tulisan yang tercetak sangat jelas dan membuat jantung Margaretha terasa berdebar tiba-tiba. Tidak terkendali bahkan seperti hendak melompat dari tempatnya.
Lagu Akad—Payung Teduh, menggema bersamaan Andra keluar dari belakang banner besar tersebut. Jujur, Margaretha terpukau dengan ketampanan Andra yang begitu terlihat dalam balutan tuxedo putih tulang juga dasi kupu-kupu. Rambut Andra pun disisir rapi.
"Iler, oe!" Zety mengusap wajah Margaretha karena sejak tadi gadis itu hanya terbengong.
"Ish! Apaan sih, Suk!" Margaretha mencebik kesal.
"Segitunya lihatin calon imam," goda Zahra menaik-turunkan alisnya bersamaan. Margaretha tidak menjawab, hanya wajahnya yang terlihat bersemu merah.
Agnes dan ketiga sahabat Margaretha sedikit menjauh saat melihat Andra saat ini sudah berdiri di depan mereka bersama dengan Eldrick dan Patricia. Tatapan Margaretha begitu penuh selidik apalagi melihat Patricia yang terlihat cantik membuat Margaretha merasa ragu. Dia takut semua ini hanyalah sebatas prank untuknya.
Namun, Margaretha tampak makin gugup saat Andra saat ini sudah berdiri setengah jongkok di depannya dan menunjukkan sebuah kotak bludru dengan dua cincin di dalamnya. Tak hanya itu, Patricia dan Eldrick ikut menyodorkan buket bunga mawar dan anyelir. Margaretha tak mampu lagi berkata-kata karena ini sungguh mengejutkan untuknya.
"Margaretha Adzakia Affandra. Maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku dan juga menjadi ibu untuk anak-anakku kelak," ucap Andra. Suaranya terdengar gugup, entah karena takut ditolak atau grogi karena menjadi pusat perhatian.
Margaretha tidak langsung memberi jawaban. Dia hanya menatap Andra sangat lekat untuk mencari kesungguhan di sana. Margaretha tidak ingin jika nantinya menyesal salah mengambil keputusan. Bagaimana juga, ini adalah langkah untuk menata hidupnya dan jalan yang diambil harus benar-benar sesuai keinginan hati juga sungguh-sungguh.
Margaretha berusaha menelisik tatapan mata itu, sedangkan Andra sangat gelisah. Dia merasa tidak yakin Margaretha akan menerima karena sejak tadi gadis itu hanya diam saja.
"Kalau kamu mau menolak tidak apa. Aku tidak memaksa untuk menerima. Aku justru merasa bahagia kalau jawaban yang kamu berikan sesuai isi hati." Andra berbicara yakin, meski tatapannya terlihat begitu penuh harap.
"Ndra, gue ...." Margaretha diam. Dia merutuki dirinya yang mendadak seperti orang gagap. "Ish! Ndra, kenapa kamu milih aku? Padahal di luar sana banyak gadis yang lebih cantik dari aku, lebih segalanya."
"Aku tidak peduli. Bagiku kamu sudah sempurna untukku, Mar."
"Tapi, aku bukanlah gadis apa-apa. Hanya gadis biasa yang selalu berusaha tegar apa pun keadaan yang harus aku lalui."
"Mungkin bagi dunia kamu bukan apa-apa, tapi bagiku kamu adalah duniaku," rayu Andra. Senyum Margaretha merekah sempurna. Sungguh, gadis itu begitu terbuai dengan gombalan Andra.
__ADS_1
"Ciee ... cie ... terima! Terima!" Teriakan tersebut menggema di ruangan itu. Terutama para sahabat Margaretha yang sangat heboh. Margaretha menjadi bingung harus menjawab apa. Melihat Andra saja, Margaretha langsung berpaling karena salah tingkah.
"Jadi, apa jawabanmu?" Andra mulai tak sabar karena kakinya terasa pegal dalam posisi setengah jongkok sejak tadi.
"Emm ... aku ... aku ...." Margaretha menghentikan ucapannya sesaat untuk menghirup napas dalam sekaligus memantapkan hatinya. Mereka yang menunggu pun makin tidak sabar. "Aku menerima kamu, Ndra."
"Yes!" Andra bersorak kegirangan. Dia langsung bangkit dan memeluk Margaretha erat. "Terima kasih, Mar."
Margaretha yang masih terkejut pun hanya diam tanpa membalas pelukan tersebut. Setelahnya, Andra melerai pelukan itu dan mengajak Margaretha untuk duduk di depan para tamu undangan. Di meja itulah yang akan menjadi saksi bisu acara sakral tersebut berlangsung.
Melihat banyaknya kamera yang mengarah padanya termasuk ketiga sahabat yang berusaha merekam acara sakral itu, Margaretha pun mendadak gugup. Tangannya sejak tadi terus mengeluarkan keringat dingin, sedangkan Andra terlihat sudah sangat siap. Lelaki itu sudah berjabat tangan erat dengan penghulu.
"Sudah siap, Nak Kalandra?" tanya penghulu itu. Andra mengangguk yakin. "Baiklah kalau begitu kita mulai saja."
Andra menghirup napas dalam untuk mengurangi kegugupan. Begitu juga sang penghulu yang hendak mengucapkan ijab.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Kalandra Wiraguna Kusuma Bin Albar Kusuma, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Margaretha Adzakia Affandra binti Faisal Affandra, dengan maskawin seperangkat alat sholat, perhiasan seberat dua puluh dua gram dan uang sebesar dua puluh juta dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur terdengar dari mereka semua yang hadir. Tidak terkecuali kedua mempelai. Margaretha tidak menyangka kalau mulai saat ini dirinya sudah resmi berstatus sebagai istri dari Andra. Margaretha merasa sangat bahagia karena setidaknya dirinya bisa menyusul para sahabat memiliki teman tidur. Margaretha juga berharap semoga pernikahan ini bisa langgeng dan bahagia.
"Kamu tidak ingin mencium tanganku, Istriku Sayang?" tanya Andra setengah menggoda. Membuat wajah Margaretha makin terlihat bersemu merah saja. Tanpa berbicara apa pun, Margaretha segera meraih tangan Andra dan mencium punggung tangan lelaki itu. Andra pun merasa sangat bahagia. Dia langsung mendaratkan banyak ciuman di puncak kepala Margaretha sebagai tanda cinta dan kasih untuk wanita itu.
"Cium! Cium!" teriak geng Somplak hingga membuat yang mendengar pun tak kuasa menahan tawa.
__ADS_1
"Ish! Kalian jangan ngarang, ya!" Margaretha berpura-pura kesal.
"Siapa yang ngarang, Mar. Jangankan berciuman, lu mau uh ah aja udah boleh, kok," seloroh Zahra dan langsung mendapat hadiah tonyoran tangan dari Rasya dan Zety.
"Jangan asal ngomong lu, Zae."
"Ingat, banyak anak kecil di sini."
"Contohnya aku. Masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Aku masih polos, loh." Agnes menimpali sembari terkekeh. Sementara yang lain hanya mencebik.
Ruangan itu pun kini dipenuhi tawa bahagia. Rona kebahagiaan terlihat jelas dari mereka yang ada di sana terutama Andra dan Margaretha. Sejak tadi, Andra tidak sedikit pun melepas genggaman tangannya. Tidak peduli pada godaan yang lainnya.
"Aku capek," keluh Margaretha lirih agar Andra tidak mendengar. Namun, sepertinya pendengaran lelaki itu sangat tajam. Dia langsung membopong Margaretha dan membawanya pergi dari ruangan itu menuju ke kamar pengantin yang telah disiapkan.
"Jangan lupa katakan rasanya pada kita, Mar!" teriak ketiga sahabat Margaretha.
"Ish! Mereka nyebelin," cebik Margaretha. Mengalungkan tangan di leher Andra karena takut terjatuh.
"Biarkan saja. Yang penting kita sekarang sudah resmi menjadi suami-istri. Aku mencintaimu, Mar."
"Aku juga akan mencintaimu, Ndra."
Semoga kita bisa hidup bahagia. Kuharap kamu memang bahagia yang selama ini aku nanti dari setiap rasa kecewa dan kesedihan yang aku rasakan.
😜😜
Ciee sah! Asekkk!
Malam pertama! Malam pertama!
__ADS_1
🤣🤣 Nungguin banget ya 🤭