
Setelah pintu ruangan terbuka, Gatra segera mendekati dokter yang keluar dari sana. Mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dokter itu pun hanya menghela napas panjang lalu mengajak Gatra masuk ke ruangan karena ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Apa Anda kekasih Nona Agnes?" tanya dokter tersebut. Gatra menggeleng cepat.
"Katakan saja sebenarnya gadis itu kenapa, Dok? Saya kenal dekat dengan keluarganya." Gatra berusaha merayu karena dirinya sangat penasaran.
"Sebenarnya Nona Agnes sudah sering dirawat di sini. Bahkan sangat sering karena sejak kecil dia sakit-sakitan," papar dokter tersebut. Namun, Gatra justru mengerutkan kening karena belum paham.
"Memang dia sakit apa, Dok?" Gatra makin penasaran.
Dokter itu menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. "Dia mengidap penyakit jantung bawaan. Itulah yang membuat tubuhnya sering drop. Apalagi kalau kelelahan. Jadi, dia harus selalu menjaga kesehatan, pola makan juga."
"Apa bisa disembuhkan, Dok?"
"Kalau itu hanya takdir yang menentukan, tetapi Tuan Janu sudah melakukan operasi. Anda tenang saja. Yang terpenting sekarang adalah berusaha agar Nona Agnes tidak kelelahan atau banyak pikiran," pungkas dokter itu. Gatra hanya mengiyakan lalu berpamitan keluar dari sana.
Gatra masuk ke ruangan di mana Agnes dirawat dan di sana terlihat Eldrick yang dengan setia menunggu. Tatapan Gatra mengarah lekat ke arah Agnes yang masih terlihat begitu pucat. Namun, masih bisa tetap tersenyum. Ketika Gatra sudah berdiri di samping brankar, Eldrick pun berpamitan karena dia harus mengurus beberapa hal terutama soal Agnes.
"Aku haus," ucap Agnes. Dengan segera Gatra mengambilkan minum untuk gadis itu. Meskipun dua kali bertemu Agnes dan gadis itu sangat menyebalkan menurutnya. Akan tetapi, saat melihat Agnes yang lemah seperti itu membuat Gatra menjadi tidak tega. Apalagi setelah mendengar penjelasan dokter kalau gadis itu mengidap penyakit jantung bawaan.
"Sudah?" tanya Gatra, suaranya lebih lembut tidak seketus biasanya.
"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu tadi sudah pergi meninggalkan aku?" Agnes menatap Gatra penuh selidik. "Atau jangan-jangan kamu ada maunya menolongku." Telunjuk Agnes mengarah tepat di depan wajah Gatra.
"Jangan menyebalkan. Aku ini hanya menolongmu karena kita sama-sama manusia."
"Memangnya kamu manusia?" tanya Agnes menyela. Membuat Gatra merasa kesal karenanya.
"Kalau aku bukan manusia, terus kamu pikir aku ini apa? Ha!" Suara Gatra meninggi, tetapi dia langsung terdiam dan khawatir kalau sampai membuat Agnes terkejut dan drop lagi. Namun, Gatra justru dibuat melongo dengan Agnes yang terkekeh.
Kenapa senyumnya manis sekali. Gatra merutuki dirinya yang memuji kecantikan Agnes dari dalam hati. Senyum Agnes seolah membuat dirinya terpikat.
"Emm ... kalau begitu terima kasih banyak karena sudah menolongku," ucap Agnes tulus.
"Kupikir kamu tidak bisa mengucapkan terima kasih," ledek Gatra. Tersenyum sinis hingga membuat Agnes mencebikkan bibir.
"Kamu itu yang tidak bisa berterima kasih."
__ADS_1
"Memangnya aku harus berterima kasih apa kepada kamu?" tanya Gatra. Namun, Agnes justru tidur memiringkan tubuhnya membelakangi Gatra.
"Ya kamu harus berterima kasih karena aku masih hidup jadi kamu tidak dicap sebagai pembunuh," ucap Agnes. Suaranya terdengar getir dan hati Gatra berdesir saat mendengarnya.
"Lebih baik sekarang kamu tidur dan aku akan berjaga di sini." Gatra duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Ish! Kenapa kamu tidak pulang saja?" Agnes berbicara setengah mengusir. Namun, Gatra tidak peduli dan tetap duduk tenang.
"Tidurlah atau aku tidak akan segan-segan—"
"Diamlah aku mau tidur!" sela Agnes kesal. Langsung memejamkan mata, sedangkan Gatra hanya diam menatap Agnes secara lekat.
Kasihan sekali. Luar biasanya kamu tetap terlihat ceria padahal tubuhmu sangat lemah. Ish! Kenapa aku jadi mikirin cewek ini? Tidak jelas sekali diriku ini.
***
Margaretha yang merasa nyaman tidur dalam pelukan Andra, tiba-tiba terbangun karena terbayang sosok Agnes yang seperti memanggilnya. Andra pun ikut terbangun karena terkejut dengan gerakan Margaretha. Andra mengusap wajah Margaretha sembari menatap heran.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Andra. Terus mengusap pipi itu agar istrinya merasa lebih tenang.
"Untuk apa kamu peduli dengan anak pembunuh itu?" Andra berbicara setengah kesal. Jujur, hati lelaki itu masih menaruh sedikit dendam kepada Janu, apalagi Wibisono yang sampai sekarang belum juga bisa ditemukan.
"Ndra, yang pembunuh adalah lelaki brengsek itu bukan Agnes."
"Sama saja, Mar. Lelaki brengsek itu sudah membuat hidupmu hancur, dan biarkan sekarang dia merasakan akibatnya."
"Kenapa kamu jadi sejahat itu, Ndra?" Margaretha menatap Andra kecewa. Dia merasa Andra tidak seperti biasanya. Lelaki itu terlihat berbeda.
"Aku hanya membenci mereka yang sudah menyakitimu, Mar." Andra mengembuskan napas secara kasar untuk sedikit mengurangi emosi yang menguasai.
Margaretha menangkup wajah Andra dan menatapnya sangat lekat. "Ndra, jadilah manusia yang pemaaf. Lelaki brengsek itu memang sudah menghancurkan hidupku. Membuat kedua orang tuaku meninggal, tapi satu hal ... Agnes tidak bersalah di sini dan tidak sepatutnya dia ikut merasakan akibatnya. Biarlah lelaki brengsek itu yang merasakan," tutur Margaretha. Berusaha meredam amarah suaminya.
"Tapi dia sudah membunuh orang yang kamu sayangi, jadi biarlah sekarang dia menderita melihat orang yang dia sayangi terluka," ucap Andra. Tangannya terkepal erat.
"Ndra, tidak semua kejahatan harus dibalas kejahatan. Memaafkan itu indah. Aku harus pergi sekarang." Margaretha pun beranjak bangun. Namun, baru satu langkah berjalan Margaretha langsung mematung di tempatnya karena Andra memeluknya dari belakang. Tubuh Margaretha pun seketika meremang.
"Kenapa hatimu baik sekali," gumam Andra. Namun, Margaretha tidak menjawab apa pun. Hanya diam merasakan pelukan itu. "Aku akan mengantarmu mencari bocah itu."
__ADS_1
"Astaga, Andra. Dia itu kakakku." Margaretha berusaha menahan tawa.
"Statusnya untukmu memang kakak, tapi dia tidak lebih dari seorang bocah kecil menurutku." Andra menimpali sembari mengeratkan pelukannya.
"Sudahlah. Sekarang kita pergi sebelum malam makin larut." Margaretha melepaskan tangan Andra. Pengantin baru itu pun akhirnya keluar dari hotel untuk mencari keberadaan Agnes.
Namun, ketika sampai di lantai bawah, Margaretha langsung menemui Eldrick yang baru saja masuk ke hotel dan hendak masuk ke lift. Eldrick pun dibuat terkejut karenanya.
"Kenapa kalian di sini? Memangnya kalian tidak melakukan malam pertama?" tanya Eldrick heran.
Margaretha menggeleng lemah, sedangkan Andra hanya diam karena dirinya seolah diingatkan dengan hal yang membuat moodnya mendadak buruk. Malam pertama yang gagal.
"Tidak, Paman. Aku tiba-tiba teringat Agnes. Apa Paman tahu di mana kakakku?" tanya Margaretha. Keningnya mendadak mengerut dalam saat melihat wajah Eldrick yang berubah bingung. "Paman kenapa?"
"Ti-tidak, Nona Muda. Sebenarnya ada sesuatu hal yang akan saya katakan kepada Anda, tetapi saya bingung." Eldrick menghentikan ucapannya, membuat Margaretha makin penasaran.
"Katakan, Paman. Jangan buat aku bingung," desak Margaretha tidak sabar.
Eldrick menghela napas panjang terlebih dahulu. "Nona Agnes sedang dirawat di rumah sakit."
"Apa?" Margaretha memekik tidak percaya. Kedua bola mata gadis itu bahkan sampai membulat penuh. "Jangan bercanda, Paman."
Eldrick tidak menjawab, dan hanya mengangguk mengiyakan. Tanpa banyak bicara Margaretha pun berlari keluar hotel. Andra hendak mengejar, tetapi Eldrick menahannya. Tatapan Eldrick penuh kecurigaan. Andra pun mengembuskan napas kasar.
"Nanti aku jelaskan, Yah. Sekarang aku harus kejar Margaretha dulu." Andra pun berlari pergi tanpa peduli pada Eldrick lagi. Dia harus bergerak cepat sebelum kehilangan jejak istrinya.
🤪🤪🤪
Selamat sore Guys.
Oh iya Othor mau kasih tahu kalau karya Othor yang berjudul "GTD(Mengejar Cinta Om Duda)" Kini berganti judul dengan "Kepincut Cinta Om Duda"
satu hal lagi kalau Suketi, Zaenab, Markonah di GTD dan Somplak sekawan itu berbeda ya
maafkan Othor yang tidak kreatif, tapi Othor saking cintanya sama nama-nama itu 🤭
makasih sebelumnya guys, dukungan jangan lupa biar Othor makin semangat nulis 😁
__ADS_1