Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
23


__ADS_3

Janu menatap nanar ke arah Agnes yang sedang terbaring lemah di brankar. Sejak kemarin, gadis itu belum juga membuka mata hingga membuat hati Janu merasa gelisah tak menentu. Janu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Untuk saat ini, yang ada dalam pikiran Janu hanyalah kesadaran Agnes. Tidak ada yang lain lagi.


"Etha ... Etha ...."


Janu bangkit berdiri saat mendengar igauan Agnes. Dia terdiam saat melihat Agnes yang sedang mengigau menyebut nama Margaretha padahal kedua mata gadis itu masih tertutup rapat.


"Bangun, Sayang. Ini Papa." Janu mengusap pipi Agnes dengan lembut. Berharap gadis itu akan membuka matanya. Namun, yang dia dengar hanyalah igauan dari bibir pucat gadis itu.


"Etha ... Etha ...."


Hanya itu yang terucap dari bibir Agnes. Janu pun segera menekan tombol nurse untuk memanggil dokter dan perawat. Beberapa menit berlalu, Janu hanya diam mengawasi saat melihat dokter tersebut sedang memeriksa Agnes.


"Siapa Etha?" tanya dokter itu.


"Adiknya, Dok." Janu menjawab dengan suara berat. Meskipun dia hendak membunuh Margaretha karena cemburu melihat kebahagiaan Anjani, tetapi Janu tidak memungkiri kalau Agnes dan Margaretha adalah kakak-adik meski berbeda ayah.

__ADS_1


"Di mana dia? Mungkin Tuan harus memanggilnya ke sini. Siapa tahu dia bisa sadar setelah bertemu dengannya," saran dokter tersebut. Janu pun hanya mengangguk karena saat ini dirinya sedang dipenuhi kebimbangan.


Setelah dokter dan perawat tersebut pergi, Janu kembali duduk di tepi brankar dan mengusap puncak kepala Agnes penuh sayang. Janu benar-benar merasa bingung. Haruskah saat ini dirinya bertemu Margaretha dan meminta maaf pada gadis itu? Tapi, Janu tidak mungkin menurunkan harga dirinya. Janu juga tidak yakin apakah Margaretha bersedia bertemu dengannya.


Janu pun mengusap wajahnya yang terlihat frustrasi secara kasar. Sungguh, dia merasa bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Janu segera merogoh saku celana saat merasakan ponselnya bergetar. Ketika melihat nama Wibisono tertera di sana, Janu pun beranjak bangun dan berjalan ke luar ruangan untuk menerima panggilan tersebut.


Banyak hal yang mereka perbicangkan. Sampai pada akhirnya Wibisono tercengang mendengar permintaan Janu untuk bertemu dengan Margaretha. Bahkan, Wibisono sampai mengulang pertanyaan untuk memastikan pendengarannya tidaklah salah. Permintaan Janu masih sama. Dia ingin bertemu dengan Margaretha. Meskipun harus menurunkan harga dirinya, tetapi setidaknya Janu bisa melihat Agnes kembali membuka mata. Dengan terpaksa, Wibisono pun hanya mengiyakan permintaan bosnya tersebut.


***


Sikap Margaretha yang mendadak diam pun membuat ketiga sahabatnya merasa heran. Mereka melontarkan banyak pertanyaan, tetapi Margaretha hanya menjawab satu saja. Dia ingin bertemu dengan Eldrick untuk mengetahui lebih jelas tentang semuanya.


Agar masalah sahabatnya lekas kelar, Rasya pun meminta Pandu agar menjemput Eldrick yang masih berada di rumah Opa Jo. Tidak ada penolakan dari Eldrick. Justru lelaki paruh baya itu segera bergegas karena tidak sabar ingin segera bertemu dengan nona mudanya.


Ketika telah sampai di rumah Zety, Eldrick langsung menemui Margaretha. Memeluk gadis itu erat dan mengucap syukur karena Margaretha tidak terluka parah. Meskipun Eldrick merasa miris saat mendengar cerita Margaretha yang sudah dilecehkan oleh Wibisono.

__ADS_1


Tidak mau kembali larut pada kesedihan, Margaretha meminta Eldrick menceritakan semuanya. Tentang hubungan masa lalu dan bagaimana bisa Agnes ternyata adalah kakaknya. Eldrick menurut. Menceritakan apa yang dia tahu selama ini. Di mana Janu menyimpan dendam saat melihat kehidupan Anjani yang justru bahagia setelah mereka berpisah. Apalagi, Janu diam-diam terus mengawasi kehidupan Anjani dan Affandra. Janu marah saat melihat Anjani begitu memperhatikan Margaretha, sedangkan Agnes yang sakit-sakitan justru tidak dipedulikan. Padahal Agnes juga terlahir dari rahim Anjani.


Mendengar cerita itu, Margaretha menaruh simpati. Dia juga merasa kasihan terhadap Janu dan Agnes. Entah mengapa Margaretha merasa gelisah dan kasihan. Bahkan, dia mengajak ketiga sahabatnya untuk segera mengantar ke rumah sakit.


"Lu yakin, Mar?" tanya Zety saat mereka hendak berangkat ke rumah sakit.


"Ya. Bagaimana juga Agnes adalah kakak gue." Margaretha menjawab lirih. Ketiga sahabatnya pun tidak bisa melakukan apa pun lagi.


Mereka benar-benar mengantar Margaretha sampai ke rumah sakit dan langsung mencari di ruangan mana Agnes dirawat. Namun, ketika sampai di depan ruangan Agnes, Margaretha terkejut saat Janu tiba-tiba bersimpuh di depannya. Kedua tangan lelaki itu tertangkup di depan dada sembari terus mengatakan kata maaf.


Untuk beberapa saat, Margaretha hanya bergeming menatap lelaki paruh baya itu. Namun setelahnya, dia justru berjalan santai meninggalkan Janu yang masih bersimpuh, seolah tidak peduli. Dia bergegas masuk untuk melihat keadaan Agnes yang masih belum sadarkan diri.


Margaretha merasa tidak tega saat melihat Agnes yang terbaring lemah. Dengan gerakan lembut, Margaretha mengusap punggung tangan gadis itu dan terus menyebut namanya.


"Bagunlah, Nes. Bukankah kita adalah kakak-adik? Aku senang sekali dan tidak sabar ingin bermain denganmu, Kakak."

__ADS_1


__ADS_2