Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
39


__ADS_3

Setelah merengek meminta pulang, Agnes akhirnya diperbolehkan kembali ke rumah. Selain dirinya sudah malas menginap di rumah sakit, Agnes juga tidak mau mengganggu waktu Margaretha karena selama dirinya dirawat, Margaretha tidak mau pulang dari rumah sakit.


Ketiga sahabat Margaretha pun datang ke rumah untuk menjenguk Agnes. Walaupun mereka tidak mengenal Agnes, tetapi saat mengetahui kalau Agnes adalah kakak perempuan Margaretha, membuat ketiga sahabat itu berusha mengenal Agnes apalagi setelah Margaretha menceritakan tentang Agnes membuat mereka merasa tidak tega kepada gadis itu.


Kedatangan geng Somplak itu disambut dengan sangat antusias. Margaretha bahkan memeluk mereka satu persatu untuk meluapkan rasa rindunya. Ciuman berkali-kali pun Margaretha berikan kepada Baby Bisul yang sudah terlihay gembul.


"Manten baru, cieee." Zety menggoda. Wajah Margaretha bersemu merah karenanya. Membuat ketiga sahabatnya makin gencar menggoda.


"Berapa ronde, Mar?" tany Zahra sembari menaikkan-turunkan alisnya menggoda.


"Kalau manten baru, mah. Sepuluh ronde hajar! Gas pol!" Rasya menimpali.


"Ish! Apa sih yang kalian omongin. Gue belum malam pertama," sahut Margaretha jujur. Dirinya memang belum pernah jebol gawang. Ucapan Margaretha tersebut sontak membuat ketiga orang itu heboh sendiri, sedangkan Agnes justru menunduk dalam.


"Maafkan aku, Etha. Gara-gara aku, kamu jadi tidak melakukan malam pertama," ucap Agnes. Mengalihkan perhatian mereka. Agnes menyalahkan dirinya sebagai pengganggu pengantin baru tersebut. Menjadi penyebab gagalnya gawang Margaretha dijebol.


"Ini bukan salah kamu, Nes. Percaya padaku." Margaretha menghela napas. Entah mengapa, Margaretha merasa Agnes sedang sangat sensi sejak kemarin. Seperti wanita yang hendak kedatangan tamu bulanan.


"Terus, ngapain lu belum malam pertama, Mar?" tanya Rasya. Sembari menyusui Baby Bisul. Hanya berlima di kamar dan tidak ada lelaki di sana, Rasya bisa menyusui Baby Bisul dengan santai.


"Gue takut," jawab Margaretha sembari mendes*hkan napas ke udara secara kasar.


"Kenapa mesti takut? Enak loh, Mar."


"Dan pastinya bikin nagih," Zety menambahkan ucapan Zahra.


Namun, Margaretha menggeleng. Gurat sendu tampak memenuhi wajahnya. Dia pun ingin, tetapi saat teringat bagaimana Wibisono melakukan pelecehan padanya, Margaretha menjadi merasa takut sendiri.


"Tiap kali Andra mau ngedeketin gue, entah kenapa gue selalu takut karena bayangan si brengsek itu. Gue ngerasa jijik sama diri gue sendiri." Margaretha berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Mar, tidak apa. Semua butuh waktu. Nanti lama-lama lu juga bakal bisa menerima sentuhan Andra," ucap Rasya menenangkan hati sahabatnya.


"Tapi gue kasihan sama Andra. Gue yakin, setiap lelaki pasti ingin melakukan itu setelah ijab-kabul," kata Margaretha.

__ADS_1


"Maka lakukanlah."


"Gue belum berani, Zae." Margaretha menatap memelas ke arah Zahra. "Tapi, di satu sisi gue juga kasihan sama Andra."


"Ya udah, kalau gitu lu cicil aja, Mar. Pasti lama-lama juga lunas," seloroh Rasya. Namun, ucapan itu sontak membuat mereka menatap bingung ke arah wanita somplak yang sekarang sudah resmi menyandang gelar mama muda itu.


"Maksud lu apa, Ra?" tanya Margaretha tidak paham.


"Ya malam ini lu kecup bibir, malam besoknya lu sama Andra ciuman bibir satu menit, besoknya lagi dua menit, terus aja gitu sampai bisa bertahan satu jam," seloroh Rasya diiringi gelakan tawa.


"Kalau sampai satu jam, jontor bibir gue, Ra!" cebik Margaretha. Bersidekap kesal sembari duduk bersandar kepala ranjang. Sementara sahabatnya yang lain justru terkekeh.


"Gue cuma bercanda, Mar. Kagak sampai satu jam juga kali, Mar. Kalau sekiranya tubuh lu udah menerima, suruh tuh si Andra turunin ciuman dia ke leher, terus ke dada, gitu seterusnya sampai bawah," imbuh Rasya. Margaretha pun mengangguk mengiyakan. Berusaha mencerna usulan sahabatnya itu.


"Asal jangan kaya cicil motor aja, tiga tahun baru lunas," celetuk Zahra. Dia tergelak keras. Namun, hanya sesaat karena Zety sudah menonyor kepalanya cukup kencang.


"Mulut lu, Zae!" cebik Zety.


"Semoga berhasil, Mar. Gue kagak sabar pengen denger kabar bahagia dari elu," ucap Rasya disertai senyum manis.


"Sorry menyela. Kalau boleh tahu itu tutorial apa?" tanya Agnes dengan polosnya.


"Astaga." Keempat sahabat itu menepuk kening melihat kepolosan Agnes. Entah gadis itu benar-benar polos, atau hanya berpura-pura. Mereka tidak tahu pasti.


"Gue lupa ada anak perawan di sini." Rasya terkekeh. Apalagi saat melihat raut wajah Agnes yang justru tampak bingung.


"Ingat, Ra. Gue juga masih perawan di sini," timpal Margaretha.


"Gue lupa, tapi kalau lu 'kan udah jadi calon mantan perawan, Mar." Zety menambahkan.


"Baru calon juga," ucap Margaretha. Dia mengamati Agnes yang sedang memasang headset di telinga. "Kamu ngapain pakai headset gitu, Nes?"


"Kusumpal telingaku biar tidak mendengar obrolan kalian. Aku tidak mau telinga suciku ternoda." Agnes memejamkan mata sembari bersandar seperti Margaretha.

__ADS_1


Keempat sahabat itu menggeleng saat melihat apa yang dilakukan Agnes. Namun, saat menyadari sesuatu hal, Margaretha tergelak keras hingga membuat yang lain heran.


"Kenapa elu, Mar? Kesambet?" tanya Zety bingung, sedangkan Agnes berpura-pura tidur meski matanya mengintip karena penasaran.


"Lihatlah." Margaretha menarik ujung headset yang dikenakan Agnes tidak terpasang pada ponsel. Karena ponsel Agnes berada tepat di samping Margaretha. Margaretha menunjukkan kepada ketiga sahabatnya hingga membuat mereka ikut terkekeh. Margaretha pun menaruh telunjuk di depan bibir, menyuruh ketiga sahabatnya agar diam.


"Kamu tidak menguping pembicaraan kita, Nes?" tanya Margaretha, melipat bibir dan berusaha untuk menahan tawa.


"Tidak. Bukankah kamu lihat aku sedang memakai headset?" Agnes menjawab ketus. Dia belum menyadari sesuatu hal. Mendengar Agnes menjawab, mereka berempat pun kembali tertawa lirih.


"Aku lupa. Memang lagu apa yang kamu dengarkan?" Margaretha kembali menggoda.


"Begitu syulit, lupakan Rayhan apalagi Rayhan baik. Begitu syusyah cari gantinya," Agnes bernyanyi keras. Keempat sahabat itu tak mampu lagi menahan gelakan tawa lagi saat mendengar suara cempreng Agnes.


Agnes pun membuka mata, sedangkan Margaretha menyembunyikan ponsel Agnes di belakang tubuhnya.


"Kenapa kalian tertawa?" tanya Agnes bingung.


"Tidak papa," jawab mereka berempat kompak.


"Suaramu bagus sekali. Coba lihat ponselmu," ucap Margaretha. Agnes pun segera mengambil ponsel miliknya. Namun, dia bingung saat tidak melihat benda pipih itu sama sekali.


"Di mana ponselku, Etha?" tanya Agnes. Kelabakan mencari.


"Bukankah sedang kamu pakai untuk mendengarkan musik?" tanya Margaretha menyindir. Bibirnya pun kembali tersenyum lebar.


"Argghhh. Tadi di sini, tapi sekarang di mana? Bantu aku mencarinya, Etha." Agnes sampai turun dari tempat tidur. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan ponsel miliknya.


Namun, Agnes langsung terdiam saat mendengar suara dering ponselnya dari belakang tubuh Margaretha. Melihat tatapan Agnes, Margaretha pun mendadak gugup dan menunjukan senyum liciknya.


"Kembalikan ponselku, Etha. Ada yang menelepon." Agnes berusaha mengambil ponsel itu. Margaretha yang penasaran pun segera melihat layar ponsel itu untuk mengetahui siapa yang memanggil. Namun, bola mata Margaretha membola saat melihatnya.


"Mas Gatra?" pekik Margaretha membuat mereka terkejut dan saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2