
Setelah semalam bisa membobol gawang Margaretha, mood Andra menjadi sangat baik. Senyuman manis terus saja menghiasi bibir lelaki itu. Andra tampak bersemangat, meskipun saat ini dirinya merindukan Margaretha. Lebih tepatnya ingin terus mencumbu wanita itu. Wanita yang bukan lagi seorang gadis.
"Sepertinya kamu sedang sangat bahagia, Ndra," sindir Eldrick yang sejak tadi terus mengamati putra angkatnya.
"Ayah, membuatku kaget saja," ucap Andra. Mengusap dada karena terkejut dengan kedatangan Eldrick.
"Apa kamu sudah bisa menaklukan nona muda?" tukas Eldrick. Andra tidak menjawab, hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Eldrick.
"Ayah ...."
"Kuharap kamu bisa mencintai dan menyayangi nona muda setulus hati. Bagaimana juga sekarang kamu bertanggung jawab penuh atas diri nona muda." Eldrick memberi nasehat.
"Iya, Ayah. Aku pasti akan menjaganya sepenuh hati." Andra menjawab yakin. Eldrick pun tersenyum dan menyuruh Andra melanjutkan pekerjaannya.
Selama bekerja, Andra terus saja melirik jam. Menunggu waktu pulang dan tidak sabar ingin segera bertemu istrinya.
Ahh, kenapa aku jadi tidak sabaran seperti ini.
Andra merutuki dirinya sendiri. Dia pun mulai menyibukkan diri dengan bekerja. Sampai tanpa terasa jam pulang sudah tiba dan Andra langsung bergegas keluar dari restoran itu setelah memastikan semua karyawan sudah keluar.
Selama perjalanan pulang, Andra menyetir sembari berdendang, sedangkan Eldrick yang duduk di samping lelaki itu hanya menggeleng. Namun, dalam hati Eldrick merasa bahagia melihat hubungan Andra dan Margaretha. Dia berharap semoga suami-istri itu bisa saling menyayangi dan mendukung satu sama lain apa pun keadaannya nanti.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Andra langsung menuju ke kamar. Menemui istri tercinta yang sejak tadi wajahnya selalu membayangi pikiran. Margaretha yang baru selesai mandi pun sontak terkejut melihat Andra yang masuk tiba-tiba padahal dirinya hanya menggunakan handuk sebatas dada dan di atas paha. Andra yang melihat itu justru tersenyum senang karena dirinya seperti mendapat durian runtuh.
"Ka-kamu sudah pulang?" tanya Margaretha gugup. Berjalan cepat mendekati lemari pakaian untuk mengambil baju ganti. Namun, Margaretha tersentak saat tangan Andra lebih dulu menyentuh, bukan hanya menyentuh, tetapi melingkar erat di perutnya. "A-aku mau ganti baju. Kamu pasti capek baru pulang kerja."
"Tidak. Aku tidak merasa capek sama sekali. Jangan ganti baju biar lebih mudah." Andra memainkan dua benda kenyal milik istrinya, dan Margaretha sedikit meringis. Antara nyeri dan geli bercampur menjadi satu.
"Kamu yang benar saja, Ndra! Ini masih sore. Aku takut Agnes akan masuk ke sini dan dia memergoki kita." Margaretha berusaha menyingkirkan tangan Andra karena khawatir dirinya tidak mampu mengendalikan diri.
"Tidak apa kita kepergok. Toh, kita ini pasangan halal. Sebentar, jangan ganti baju dulu." Andra memberi perintah. Dia mengambil secarik kertas di laci nakas. Lalu menuliskan sesuatu di sana. Setelah itu, Andra keluar sebentar dan kembali masuk. Margaretha hanya diam mengikuti gerak-gerik suaminya.
Margaretha menghela napas panjang saat melihat Andra mengunci pintu kamar itu. Tanpa dijelaskan, dirinya sudah tahu akan menjadi santapan manis Andra saat ini juga. Margaretha menggoda suaminya dengan berpura-pura hendak memakai baju. Andra pun dengan cepat menarik tubuh Margaretha lalu mengungkungnya.
"Ndra ...." Tubuh Margaretha mengejang. Ada gelayar aneh yang menjalar ke seluruh syaraf di tubuhnya. Andra pun sama. Membenamkan adik kecilnya dalam-dalam dan berharap salah satu benihnya bisa mencapai tempat terdalam.
"Aku mencintaimu, Margaretha Adzakia Affandra. Menualah bersamaku dan jadilah pendamping hidupku selamanya."
"Aku juga mencintaimu, Kalandra Wirosableng," celetuk Margaretha. Menutupi tawanya. Andra pun menatap Margaretha tajam. "Serem amat. Enggak takut mata lu copot, Ndra."
"Astaga. Kurang ajar sekali sama suami manggil lu-gue. Kamu minta dihajar lagi?" Andra menciumi seluruh wajah Margaretha saking gemasnya, sedangkan Margaretha tergelak keras karena rasa geli.
"Ampun-ampun. Sudah. Perutku sakit sekali," pinta Margaretha. Andra pun menghentikan ciuman itu lalu menatap Margaretha penuh cinta. Margaretha pun membalas tatapan itu. "Aku juga mencintaimu, Kalandra Wiraguna Kusuma."
__ADS_1
Andra tersenyum bahagia lalu mencium kening Margaretha lama sekali. Margaretha hanya memejamkan mata merasakan ciuman penuh kasih sayang itu. Mereka berdua pun akhirnya tertidur lelap, sejenak beristirahat dari rasa lelah sebelum memulai ronde kedua.
Mereka tidak mengetahui kalau Agnes sedang berdiri kesal di depan pintu kamar. Niatnya ingin bercerita kepada Margaretha soal pengalaman pertama dia bekerja, tetapi membaca tulisan 'Jangan ganggu' yang tertempel di pintu membuat Agnes mengurungkan niatnya.
"Astaga. Masih sore sudah bikin anak." Agnes berjalan menghentak pergi dari kamar itu. "Aku tunggu kisahku kau tulis, Thor! Awas kalau sampai kau anak tirikan aku!"
Author said, "Gue kagak takut sama elu, Nes." π€£π€£
_TAMAT_
πππ
Alhamdulillah tamat.
Thor, jangan bilang ini prank!
Kagak guys. Kisah Margaretha beneran tamat, yes!
Nanti kisah Agnes ada di judul sendiri biar tidak tercampur.
Mulai besok Othor bakalan update Om Duda. Siapa nih yang nungguin kisah Om Duda? Wkwkkw othornya ngarep banget.
__ADS_1