Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
19


__ADS_3

Janu kebingungan saat ponselnya kembali berdering. Dia membiarkan panggilan tersebut sampai terputus dan terus mengawasi mobil hitam itu yang saat ini sudah masuk ke halaman. Sebuah pesan masuk, Janu segera membukanya dan membaca pesan dari Agnes yang menanyakan soal mobil miliknya yang terparkir di depan rumah Anjani.


Janu menyadari kalau saat ini dirinya tidak bisa lagi berbohong. Agnes sudah tahu dan mau tidak mau dirinya tetap harus menemui putrinya. Janu pun menghubungi Wibisono yang masih berada di kamar dan mengatakan semua tentang kedatangan Agnes. Wibisono hanya mengiyakan meskipun dalam hati menaruh curiga.


"Pa! Papa!" teriakan Agnes menggema di ruang tamu. Gadis itu terus berteriak masuk sembari memanggil sang papa. "Papa di mana! Aku tahu papa ada di sini!" teriak Agnes terus-menerus.


"Sayang," panggil Janu dari lantai atas. Agnes mendongak dan tersenyum saat melihat Janu yang sedang berjalan turun. Namun, saat Janu sudah sampai di bawah, Agnes menolak saat hendak dipeluk bahkan gadis itu langsung bersidekap.


"Papa pembohong!" Agnes berbicara kesal seperti anak kecil yang sedang ngambek.


"Maafkan papa, Sayang. Papa hanya sedang istirahat di sini dan berencana akan membuat kejutan untukmu." Janu memaksa memeluk Agnes meskipun gadis itu menolak. Lalu menciumi puncak kepala Agnes. Entah mengapa, mendengar ucapan Margaretha yang seperti kutukan membuat Janu merasa khawatir dan takut apabila terjadi hal buruk kepada putrinya. Hatinya terus berdoa semoga putrinya selalu baik-baik saja.


Wibisono pun keluar dan ikut mendekati mereka. Namun, Wibisono langsung mengeluarkan pistol hingga membuat Janu tersentak.


"Bison!" bentak Janu. Dia tidak ingin kalau sampai Agnes mengetahui semuanya.


"Kita dikepung, Tuan." Ekor mata Wibisono melirik ke kanan dan kiri. Janu pun segera melepaskan pelukannya dan terkejut saat melihat ke belakang ada Andra, Patricia, Kenzi, dan yang lain sedang mengarahkan pistol ke arahnya.


"Sayang, naiklah ke atas," perintah Janu. Agnes hendak naik ke atas, tetapi Janu kembali memeluk putrinya. "Kamu lebih aman dalam pelukan papa."


"Tuan, katakan di mana kamu menyekap nona muda! Atau aku tidak akan segan-segan membunuh putrimu!" teriak Andra penuh amarah. Sorot matanya terlihat sangat menakutkan hingga membuat Agnes yang melihatnya pun sampai bergidik ngeri.


"Berani sekali kalian ke sini! Apa kalian tidak tahu kalau kalian ini sama saja masuk ke kandang harimau?" Janu tergelak dan menatap menghina ke arah mereka.

__ADS_1


"Jangan senang dulu, Tuan. Kita lihat peluru siapa yang akan membunuh siapa terlebih dahulu. Moly, apa kamu sudah siap, Sayang?" Patricia berbicara santai sembari mencium pistol kesayangannya. Wibisono pun tersenyum saat melihat itu. Patricia benar-benar sangat menarik menurutnya.


Sebuah tembakan terdengar dan setelahnya bunyi benda terjatuh makin mengejutkan mereka semua. Ternyata, peluru Patricia mengenai bingkai foto di sana hingga terjatuh dan kacanya pecah berantakan. Tubuh Agnes terlihat gemetar hebat. Janu yang merasakan itu pun makin mengeratkan pelukannya dan meminta agar putrinya tetap tenang.


Ketika suasana mulai memanas, Eldrick masuk ke sana dan membuat Janu membuka mata lebar untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah. Janu sangat tidak menyangka kalau ternyata Eldrick masih hidup bahkan lelaki itu terlihat sangat sehat.


"Apa kabar, Tuan?" Eldrick menyapa sembari tersenyum licik. Melihat keadaan yang mulai memanas, Wibisono menekan sebuah tombol untuk memanggil para anak buahnya.


"Kamu masih hidup?" tanya Janu tidak percaya.


"Masih, Tuan. Bukankah kamu lihat sendiri kalau aku berdiri di sini?" Eldrick terkekeh saat melihat Janu yang masih belum percaya.


"Bukankah kamu sudah mati bersama Anjani dan Affandra?" Janu menggeleng tidak percaya.


"Papa, apa yang Tuan El katakan itu benar? Apa Papa yang membunuh Mama Anjani? Bukankah kata Papa, Mama Anjani mati karena kecelakaan?" Agnes terus memberondong pertanyaan, sedangkan Janu membungkam rapat mulutnya.


"Biar aku jelaskan, Nona."


"Diamlah!" sela Janu membentak. Namun, Eldrick justru tersenyum miring.


"Kenapa? Sudah seharusnya putrimu tahu semuanya." Eldrick terdiam saat Janu mengangkat pistolnya, tetapi dengan cepat Agnes merebut pistol tersebut dan melerai pelukannya.


"Agnes!" teriak Janu terkejut. Dia hendak merebut, tetapi Agnes justru meletakkan pistol tersebut di pelipisnya dan memegang pelatuknya kuat-kuat.

__ADS_1


"Berhenti di situ atau aku akan menembak kepalaku sendiri, Pa!" suruh Agnes. Air matanya sudah mengalir. Janu pun menghentikan langkahnya dan berdiri di tempat. Menatap Agnes penuh kekhawatiran.


"Katakan padaku, Tuan El! Apa yang sebenarnya terjadi!" perintah Agnes. Menatap Eldrick penuh meminta.


"Nona, papamu lah yang sudah membunuh Tuan Affandra dan Nyonya Anjani karena sakit hati dengan kebahagiaan mereka."


"Jadi, aku bukan anak Mama Anjani? Katakan lebih jelas!" perintah Agnes karena belum paham dengan semuanya.


"Nona, kamu memang anak Nyonya Anjani dengan lelaki brengsek ini. Tapi, karena sesuatu hal mereka harus berpisah. Nyonya Anjani menikah lagi dengan Tuan Affandra, tetapi papamu tidak rela hingga membunuh mereka. Membuat Nona Muda Margaretha menjadi yatim piatu," ungkap Eldrick. Janu sudah pasrah dan bingung karena dia pun tidak bisa melakukan apa pun lagi.


"Jadi, Etha adalah adikku?" tanya Agnes lirih. Napas gadis itu mulai tersengal. Janu yang melihat pun mulai khawatir.


"Sayang, akan papa jelaskan semuanya."


"Berhenti di situ, Pa! Melangkah satu kali saja, maka aku akan menarik ini termasuk kamu juga, Bison!" Agnes menatap Wibisono yang hendak menembak Eldrick. Jari Wibisono pun tertahan.


"Ndra! Kamu cari Etha sekarang juga!" perintah Agnes. Andra pun mengangguk dan segera mencari keberadaan Margaretha. Anak buah Janu yang hendak menembak Andra, segera menahan diri karena perintah Agnes yang meminta tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi.


Andra mencari di setiap penjuru ruangan, tidak ada tanda-tanda keberadaan Margaretha. Namun, saat membuka gudang belakang, Andra terkejut melihat keadaan Margaretha yang sudah lemas dan tampak mengenaskan.


"Mar ...." Suara Andra tertahan dan terkejut melihat Margaretha hanya memakai bra. Yang membuat Andra makin terdiam adalah melihat banyaknya tanda kepemilikan di sana.


Margaretha yang melihat reaksi Andra pun, hanya mampu membungkam rapat mulutnya. Margaretha yakin kalau Andra pasti merasa jijik melihat keadaannya yang seperti ini.

__ADS_1


"Pergilah, Ndra. Aku sudah kotor," usir Margaretha lirih. Andra masih saja bergeming di tempatnya dan terus menatap Margaretha dengan tatapan yang susah dijelaskan.


__ADS_2