
Air liur Agnes rasanya hendak menetes melihat makanan yang tersaji lengkap di meja. Tanpa peduli pada Gatra yang berdiri di sampingnya, Agnes melahap makanan tersebut dan terkesan sangat rakus. Agnes sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya.
"Pelan-pelan, Nes. Tidak ada yang merebut," ucap Margaretha mengingatkan.
"Ini enak sekali, Etha." Agnes terus melahap makanan tersebut. Margaretha pun hanya menggeleng saat melihatnya dan ikut menyantap makanan yang sudah biasa baginya karena dia dulu sering menyajikan dan menyantap makanan tersebut.
Gatra hendak pergi dari sana karena tidak mau mengganggu dua gadis itu. Namun, langkah Gatra terhenti saat mendengar suara yang tidak asing memanggil nama Margaretha. Bukan hanya Gatra yang terdiam, tetapi Margaretha juga menghentikan kunyahannya saat melihat Andra yang sedang berjalan mendekat.
"Astaga, Mar. Kamu membuatku khawatir." Andra duduk di samping Margaretha dan langsung meminum minuman milik Margaretha tanpa peduli kepada gadis itu yang sudah mendengkus kasar.
"Ndra," panggil Gatra.
"Astaga, Mas Gatra aku sampai lupa." Andra menyalami Gatra sebagai basa-basi sapaan setelah lama tidak bertemu.
Gatra yang barusan hendak kembali ke ruangan pun, pada akhirnya ikut duduk bergabung bersama mereka dan mengobrol banyak hal. Hanya Agnes yang diam di sana karena tidak tahu obrolan apa yang akan ikut diperbincangkan. Andra sedikit terheran saat Gatra mengajaknya ke ruangan karena ada hal penting yang akan dibicarakan.
"Kalian kelihatan dekat banget?" tanya Agnes penasaran setelah kedua lelaki itu pergi dari sana.
"Pasti, Nes. Aku dan Andra dulu sama-sama bekerja di sini."
"Sekarang kalian berhenti?" tanya Agnes lagi. Margaretha hanya mengangguk mengiyakan lalu menyuruh Agnes untuk segera menghabiskan makanan tersebut.
Sementara itu, Gatra duduk bersebelahan dengan Andra di sofa yang berada di ruangan miliknya. Mengobrolkan banyak hal dan mereka berdua begitu nyambung. Gatra merasa senang karena memiliki teman mengobrol lagi sekarang. Jujur, setelah Andra berhenti bekerja, Gatra merasa kesepian karena selama bekerja di restoran itu, Andra sangat bisa membantu.
"Kamu belum bekerja lagi, Ndra?" tanya Gatra. Terdengar sedikit serius.
"Iya, Mas. Aku masih jadi pengacara alias pengangguran banyak acara," sahut Andra disertai gelakan tawa. Gatra pun ikut tertawa saat mendengarnya.
"Bagaimana kalau kamu membantuku saja."
__ADS_1
"Membantu apa, Mas?"
"Aku akan membuka cabang restoran di daerah jalan XX, tapi aku kesulitan mengelola sendirian. Maukah kamu membantuku mengelolanya? Beberapa hari ini aku sangat kesulitan menghubungi kamu," ucap Gatra. Kening Andra terlihat mengerut dalam.
"Memangnya kapan dibuka, Mas?" tanya Andra lagi.
"Dua hari lagi. Kalau kamu mau mengajak Margaretha atau siapa pun untuk bekerja di sana pun, aku tidak akan melarang. Yang pasti, dia bisa bekerja dengan baik. Bagaimana?" tawar Gatra.
Andra mengusap dagu untuk berpikir. Dirinya saat ini memang membutuhkan pekerjaan tetap, tentu saja selain tugasnya sebagai mata-mata bersama Patricia. Melihat tatapan Gatra yang begitu menaruh harapan padanya, Andra pun mengangguk mengiyakan. Menerima tawaran itu. Saking senangnya Gatra sampai memeluk Andra erat. Setelahnya, Andra berpamitan pulang karena dia harus mengawasi Margaretha.
***
Agnes tidak lagi kembali ke rumah sakit karena gadis itu menangis meminta pulang. Meskipun kesehatan yang belum benar-benar pulih, tetapi Agnes akhirnya pulang bersama dengan Margaretha menuju ke rumah Anjani. Mulai saat ini, Margaretha akan tinggal di sana bersama Agnes. Eldrick dan Andra pun ikut tinggal di sana setelah Margaretha begitu memaksa.
Setelah melihat Agnes yang tertidur lelap, Margaretha segera turun dari tempat tidur dan keluar kamar menuju ke ruang keluarga di mana Eldrick dan Andra sedang duduk berdua.
"Belum, Paman. Kenapa kalian juga belum tidur?" Margaretha bertanya balik.
"Belum, Nona Muda. Masih ada hal yang sedang kami bahas. Nona, bagaimana dengan Janu? Anda sudah siap untuk membahas kasus ini?" Eldrick menatap Margaretha yang terlihat sedang menghela napas panjang berkali-kali.
"Paman, bagaimana kalau kita sudahi saja. Aku akan memaafkan lelaki itu."
"Tidak bisa!" Andra menyela cepat. Nada bicaranya terdengar penuh emosi. "Mar, lelaki brengsek itu sudah membunuh orang tua kamu bahkan hampir saja membunuh kamu. Setelah kita susah payah menangkapnya dan kamu akan melepaskan begitu saja? Aku tidak tahu jalan pikiranmu, Mar!" Andra menggeleng. Margaretha bisa melihat tatapan kecewa dari sorot mata Andra.
"Aku kasihan sama Agnes," timpal Margaretha lirih.
"Biarkan saja! Bukankah lelaki itu tidak menaruh kasihan sama sekali padamu? Jangan terlalu baik jadi orang, Mar! Kalau semua orang seperti kamu yang ada kejahatan akan semakin merajalela!" Andra benar-benar terlihat sangat kesal.
"Benar apa kata Andra, Nona? Lelaki itu harus mendapatkan balasan atas perbuatannya." Eldrick menyetujui ucapan Margaretha hingga membuat gadis itu diam seketika. Tidak tahu lagi harus berbicara apa.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari kalau Agnes menguping dari balik tembok. Gadis itu tidak benar-benar tidur tadi. Ketika mendengar langkah Margaretha, Agnes dengan segera berlari dan masuk ke kamar. Sebelum Margaretha membuka pintu, Agnes terlebih dahulu memejamkan mata.
Margaretha naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Agnes. Dia terlihat menghela napas panjang berkali-kali untuk sedikit mengurangi kebimbangan hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Margaretha galau. Di satu sisi dia ingin Janu dipenjara selama mungkin, tetapi di sisi lainnya merasa tidak tega dengan Agnes. Pasti gadis itu merasa sangat kesepian. Margaretha khawatir kalau kesehatan Agnes akan drop.
"Etha ...."
Margaretha tersentak saat mendengar panggilan dari Agnes. Dia menoleh dan melihat tatapan Agnes begitu susah dijelaskan.
"Kamu terbangun?" tanya Margaretha setengah gugup.
"Etha ... aku haus."
Tanpa berbicara apa pun, Margaretha segera turun dari tempat tidur lalu keluar untuk mengambilkan minum untuk Agnes. Senyum Agnes merekah dengan sikap Margaretha yang begitu perhatian padanya.
"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Margaretha. Menaruh gelas yang telah kosong di atas nakas. Agnes menggeleng perlahan. "Kalau begitu, tidurlah lagi."
Margaretha merebahkan tubuhnya lagi, Agnes pun melakukan hal yang sama. Namun, kedua gadis itu sama-sama menatap langit kamar dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Etha ... aku mau bertanya sesuatu hal sama kamu. Maukah kamu menjawab jujur?" tanya Agnes memecah keheningan di antara mereka. Margaretha memiringkan tubuhnya dan menatap Agnes yang masih menatap ke atas.
"Apa yang akan kamu tanyakan?"
"Apa benar papaku sekarang sedang di luar kota? Bukan di tahanan?"
Margaretha membisu mendengar pertanyaan Agnes. Dia pun makin terlihat gugup saat Agnes sudah berbalik hingga posisi mereka saat ini saling berhadapan.
"Katakan sejujurnya, Etha. Meskipun nantinya menyakitkan, itu lebih baik daripada harus berbohong," ucap Agnes begitu menuntut.
__ADS_1