Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
42


__ADS_3

Agnes duduk di ruang makan sendirian. Namun, gadis itu sejak tadi terlihat salah tingkah sendiri. Beberapa kali menoleh ke arah pintu untuk melihat kedatangan Margaretha dan Andra.


"Ahh aku lapar. Pasti mereka sedang melanjutkan adegan tadi." Agnes menggaruk keningnya. Dia masih terbayang adegan yang dilihat tanpa sengaja tadi. Di mana bibir Andra dan Margaretha saling bertabrakan, bahkan posisi mereka sangatlah intim. Membuat tubuh Agnes ikut merasakan panas dingin.


"Kenapa aku mesti melihatnya tadi? Mata suciku jadi ternoda 'kan."


Arrgghh!


Agnes menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena bayangan adegan itu seperti menggoda pikiran. Tidak mau pergi sama sekali. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mengusir pikiran kotor tersebut. Saking sibuknya berkutat dengan pikirannya sendiri, Agnes sampai tidak menyadari kedatangan Margaretha dan Andra yang disusul Eldrick di belakang.


"Kamu kenapa, Nes?" tanya Margaretha tiba-tiba. Tubuh Agnes terjengkit karena terkejut. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Margaretha yang sedang menarik kursi tepat di sebelahnya.


"Ti-tidak papa. Kamu sudah selesai?" Agnes bertanya balik, tetapi Margaretha justru mengerutkan keningnya dalam.


"Apanya yang selesai? Kita bahkan baru akan mulai makan malam," sahut Margaretha. Agnes tidak lagi menjawab karena dia takut keceplosan. Jadi, Agnes lebih memilih untuk diam dan menunjukkan rentetan gigi putihnya.


Mereka pun akhirnya saling menikmati makanan tersebut. Bahkan, Margaretha sampai nambah saking enaknya. Entah mengapa, Margaretha begitu menikmati masakan Andra itu. Andra yang melihat betapa lahap Margaretha makan pun tak kuasa menahan senyum. Hati Andra merasa bahagia ketika melihat itu.


***


Dua hari berlalu, Andra sama sekali belum bisa menjebol gawang Margaretha karena gadis itu masih gemetar saat Andra mulai menyentuh ke tempat yang lebih intim. Namun, Andra merasa senang karena mulai ada perubahan. Sesekali Andra mencium leher Margaretha meski hanya dua detik saja.


Hari ini, Andra sangat sibuk untuk mengurus pembukaan cabang restoran milik Gatra. Margaretha ingin sekali ikut karena lokasi restoran tersebut tidak jauh dari tempat tinggalnya. Namun, Andra melarang. Meminta istrinya agar tetap tinggal di rumah bersama Agnes, sedangkan dirinya pergi bersama Eldrick.


"Astaga, Nes. Aku bosen banget di rumah." Margaretha menggerutu. Sudah setengah hari berlalu, tetapi Andra belum juga pulang atau sekadar memberi kabar. Margaretha pun menjadi galau karenanya. Terus menantikan dan memikirkan lelaki itu.

__ADS_1


"Bilang aja kalau kamu kangen sama Andra," cibir Agnes setengah meledek.


"Ish! Ngarang!" bantah Margaretha. Namun, Agnes justru terkekeh membuat hati Margaretha merasa kesal karenanya.


"Terus, ngapain kamu dari tadi ngintipin ponsel mulu?" Agnes tersenyum menggoda. "Kalau kangen, samperin. Bukan cuma didoain cepet pulang, Etha," imbuhnya terus menggoda.


"Aku mau tidur aja." Margaretha merebahkan tubuhnya di ranjang dan memeluk guling dengan sangat erat.


"Beneran mau tidur?" tanya Agnes. Margaretha pun mengangguk mengiyakan. "Ya udah kalau gitu aku pergi sendiri aja."


Margaretha yang barusan menutup mata pun, langsung membukanya cepat. "Kamu mau ke mana?" tanya Margaretha menuntut.


"Aku mau ke sana. Udah dijemput Mas Gatra di bawah," jawab Agnes jujur. Margaretha pun makin menatap Agnes secara dalam.


"Mas Gatra?"


"Kalau gitu aku juga mau kerja bareng kamu. Bosen kalau di rumah sendirian," cebik Margaretha. Mengerucutkan bibir karena kesal.


"Heh! Etha! Halloo, kamu ini adalah Nona Muda. Jadi, buat apa kamu kerja di restorannya Mas Gatra. Bahkan, kamu saja bisa membangun restoran sendiri," ujar Agnes.


"Ya udah, kalau gitu aku bangun aja restoran sendiri. Biar Andra yang mengelola," cetus Margaretha, tetapi Agnes justru tergelak keras. "Jangan ketawa kamu, Nes!"


"Itu ide bagus, Etha. Biar nanti aku melamar jadi karyawan di restoran kamu," ucap Agnes berusaha meredam tawanya.


Margaretha yang merasa kesal karena Agnes yang terus tertawa seperti meledeknya pun memilih untuk turun dan berjalan keluar kamar. Agnes langsung menyusul di belakang Margaretha.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Etha?" tanya Agnes, berjalan cepat berusaha menyeimbangi langkah Margaretha.


"Ke tempat Andra."


Margaretha naik ke motor matic yang terletak di garasi. Namun, saat hendak melajukannya, Agnes langsung menahan. Mengatakan kalau Gatra sudah menunggu di depan rumah. Margaretha justru menolak ajakan Agnes karena tidak ingin menjadi obat nyamuk untuk kedua orang itu. Lebih baik Margaretha naik motor sendiri. Agnes pun hanya bisa mengiyakan, tetapi dia meminta Gatra untuk mengikuti Margaretha dari belakang karena khawatir pada gadis itu.


Sementara itu, Andra terlihat sangat sibuk mengurusi pembukaan restoran apalagi Gatra sedang pergi untuk menjemput Agnes. Sebenarnya Andra sudah sangat merindukan Margaretha karena sehari belum bertemu dengannya. Namun, restoran sedang ramai pengunjung yang berbondong-bondong untuk menyantap makanan gratis di sana sebagai bentuk syukur restoran tersebut akhirnya dibuka.


Andra dibantu oleh Eldrick dan beberapa karyawan dari restoran utama yang ditutup seharian ini. Mereka berkumpul menjadi satu di sana.


"Mas Andra, di mana Mas Gatra?" tanya salah seorang karyawan perempuan. Tubuhnya sangat ideal dengan kulit putih bersih. Gadis itu merupakan karyawan paling cantik di restoran Gama sejak Margaretha dan Andra mengundurkan diri.


"Sedang pergi. Memangnya ada apa?" tanya Andra balik.


"Oh ini. Aku mau membicarakan sesuatu hal. Apa sama Mas Andra aja?" tawarnya.


"Baiklah."


Andra pun mengajak gadis itu duduk di salah satu meja yang kosong. Mereka terlihat begitu serius saat membicarakan sesuatu hal. Hingga sepuluh menit berlalu barulah Andra bangkit karena urusan mereka telah selesai. Gadis itu pun ikut bangkit dan hendak memulai bekerja lagi. Namun, tiba-tiba tubuh gadis itu terhuyung ke depan karena tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri. Andra dengan sigap menangkap gadis itu agar tidak terjatuh ke lantai.


Sayangnya, Andra tidak menyadari keberadaan Margaretha yang baru saja sampai dan saat ini sedang menatap penuh ke arah mereka. Margaretha hanya diam, tetapi hatinya terasa memanas saat melihat pemandangan itu.


"Berhati-hatilah." Andra melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu. Namun, dia tersentak saat melihat Margaretha sedang berdiri menatap padanya. Dengan langkah lebar, Andra mendekat ke tempat Margaretha dan langsung memeluknya erat tanpa peduli pada orang-orang yang menatap ke arahnya.


Namun, Andra terkejut saat Margaretha justru melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya aku mengganggu waktumu," ucap Margaretha lirih. Dia berbalik dan hendak pergi, tetapi Andra langsung memeluk erat dari arah belakang. Tidak peduli pada Margaretha yang berusaha melepaskan kembali pelukan itu.


"Jangan bilang kalau kamu cemburu, Sayang," bisik Andra tepat di telinga Margaretha hingga membuat tubuh Margaretha seketika meremang.


__ADS_2