Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
30


__ADS_3

Janu tersentak saat seseorang yang berada dalam satu sel dengannya, menepuk pundaknya cukup kencang hingga membuat Janu terbangun tiba-tiba. Dia tampak kebingungan, begitu juga dengan orang itu. Janu pun segera mengusap wajah sedikit kasar sembari mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


"Kamu mimpi buruk?" tanya orang itu. Janu tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Orang itu pun segera meminta air putih kepada petugas dan segera menyerahkan pada Janu yang langsung ditenggak habis.


"Terima kasih banyak." Janu berbicara sopan. Orang tersebut tersenyum lalu kembali ke tempatnya semula. Janu pun menghela napas panjang dan berusaha untuk bisa kembali terlelap meskipun sangat sulit karena bayangan mimpi buruk tadi begitu mengusik pikirannya. Semua luka di masa lalu kenapa bisa hadir kembali meskipun hanya dalam mimpi. Namun, tetap saja mampu membuat Janu makin berasa bersalah dan sangat menyesal.


Setelah berjuang keras agar bisa kembali terlelap, Janu dikejutkan dengan petugas yang memanggilnya karena ada yang ingin bertemu. Janu hanya diam menurut meski dalam hati terus menerka siapa yang ingin menemuinya. Ketika Janu sampai di depan, dia tercengang melihat Agnes yang datang bersama Margaretha. Janu pun segera berlari dan memeluk putrinya sangat erat. Melepaskan segala kerinduan teramat dalam yang begitu menyiksa batinnya.


Agnes membalas pelukan tersebut tak kalah erat. Margaretha yang melihatnya pun tak kuasa menahan air mata. Namun, secepat kilat dia menyeka agar tidak ada seorang pun yang mengetahui. Sungguh, dia merasa terharu sekaligus tidak tega.


"Papa sangat merindukanmu, Sayang." Janu melerai pelukan tersebut lalu menghujami wajah Agnes dengan banyak ciuman. Dia mengusap kedua mata Agnes yang sudah terlihat basahndan air mata hampir memaksa keluar dari sana.


"Aku juga sangat merindukan Papa." Agnes menatap Janu lekat lalu kembali memeluk erat. "Papa jaga diri baik-baik di sini." Suara Agnes terdengar parau dan terdengar jelas isakannya.


"Tentu. Kamu juga harus selalu jaga diri baik-baik. Maafkan papa, Sayang." Janu lagi-lagi mencium puncak kepala Agnes. Dari situlah terlihat jelas betapa Janu sangat mencintai putrinya. Margaretha tersenyum saat melihat pemandangan yang membuat hatinya bergetar.


Mereka pun lanjut mengobrol, sedangkan Margaretha hanya diam dan menunggu sampai mereka selesai. Memberikan waktu untuk ayah dan anak itu saling melepaskan rindu. Dia berusaha tersenyum walau beberapa kali mengembuskan napas berat. Margaretha membayangkan seandainya dirinya bertemu kedua orang tuanya, pasti dia akan merasa sangat bahagia. Namun, semua hanyalah mimpi yang akan menjadi nyata.


Ketika jam berkunjung telah selesai dan Janu kembali masuk ke tahanan. Agnes menangis keras seperti anak kecil karena tidak mau dipisah dengan sang papa. Janu pun merasa tidak tega, tetapi dia tetap merayu Agnes agar segera pulang. Jujur, Janu sangat khawatir dengan kesehatan putrinya.


"Etha ... aku mau di sini sebentar lagi." Agnes bersidekap sembari mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah. Aku tunggu sampai kamu mau pulang." Margaretha duduk santai di samping Agnes.

__ADS_1


"Ish! Kalau begitu lebih baik sekarang kita pergi saja." Agnes pun bangkit dan berjalan dengan langkah menghentak. Margaretha terkekeh saat melihat tingkah Agnes yang sangat kekanak-kanakan. Lalu dia pun menyusul Agnes sebelum gadis itu tersesat di jalan.


***


Andra menemui Patricia yang sedang menyiapkan segala persiapan pernikahan dibantu dengan para sahabat Margaretha. Mengetahui akan ada kejutan untuk sahabatnya, mereka bertiga begitu antusias ikut membantu dan besok semuanya sudah siap. Rasanya, geng Somplak itu tidak sabar dan berharap semoga semua berjalan lancar. Margaretha mau menerima Andra dan mereka hidup bahagia selamanya.


"Andra!" panggil Zety. Tersenyum semringah saat melihat kedatangan Andra.


"Astaga. Kalian bertiga juga di sini," kata Andra saat sudah bergabung bersama mereka.


"Tentu saja. Kami tidak akan mungkin melewatkan kejutan untuk Markonah," ucap mereka bertiga kompak. Andra hanya menanggapi dengan senyuman.


"Ndra, gue mohon sama lu jangan sakiti Markonah." Zety menatap Andra penuh meminta.


Setelahnya, Andra pun berbincang banyak hal dengan Patricia. Soal persiapan pernikahan yang sudah hampir selesai. Entah mengapa, Andra merasa sangat gugup padahal dirinya baru membayangkan menikah dengan Margaretha. Apalagi saat acara nanti, Andra berharap semoga lidahnya tidak kesleo.


Cukup lama saling mengobrol, Andra pun kembali berpamitan untuk menemui Margaretha yang baru saja pulang mengantar Agnes menemui Janu. Margaretha yang saat itu baru sampai rumah pun terkejut dengan kedatangan Andra. Melihat raut Andra yang sepertinya akan berbicara serius, Agnes pun berpamitan ke kamar dan memberi ruang untuk kedua orang itu saling berbicara.


"Hal penting apa yang mau lu bicarakan, Ndra?" tanya Margaretha setelah mereka sama-sama diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Mar ...." Andra kembali diam dan merasa ragu saat hendak melanjutkan ucapannya.


"Apa, Ndra?" Margaretha rasanya tidak sabar sendiri.

__ADS_1


"Aku mau tanya sama kamu. Seandainya ada lelaki tampan, kaya, dan ya ... pokoknya luar biasa. Dia datang melamar kamu, apakah kamu akan menerimanya?" Andra bertanya ragu dan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan Margaretha.


"Entah." Margaretha mengembuskan napasnya secara kasar. "Gue enggak yakin bakalan ada orang yang mau sama gue. Apalagi yang sempurna seperti itu dan lebih tepatnya lagi, gue yang takut dan trauma sama kejadian waktu itu."


"Tapi, Mar. Aku yakin banyak lelaki yang akan bersedia menikah denganmu. Hartamu sudah kembali. Kamu sekarang adalah seorang nona muda dan pasti lelaki yang pantas bersanding denganmu adalah lelaki yang sederajat." Andra berbicara lirih dan penuh maksud. Margaretha pun menoleh dan menatap Andra lekat.


Jujur, dalam hati Margaretha merasa kecewa. Bukankah kemarin Andra berbicara akan menikahinya setelah semua selesai, tetapi kenapa sekarang lelaki itu datang dan menyatakan keraguan.


"Ndra, memangnya siapa yang mau dengan gadis kotor seperti gue. Gue enggak pantas untuk siapa pun. Bahkan, lu yang bilang bakal nikahin gue pun pada akhirnya gagal. Gue sadar diri sekotor apa diri gue, Ndra!" Margaretha berbicara berat karena berusaha menahan air mata agar tidak terjatuh. Margaretha tidak ingin terlihat rapuh di depan Andra.


Margaretha terkejut saat Andra berjongkok di depannya dan membantu mengusap wajah Margaretha untuk menghapus air mata gadis itu.


"Aku merasa tidak pantas untukmu, Mar. Aku ini lelaki biasa."


Andra dan Margaretha pun saling beradu tatapan. Saling berusaha menyelami pikiran mereka masing-masing. Namun, Andra segera memalingkan wajah karena tidak ingin makin terhanyut yang kemungkinan bisa membuat dirinya lupa diri.


"Em, besok aku akan mengajakmu datang ke pesta pernikahan. Jadi, bersiaplah," ucap Andra.


"Pesta pernikahan siapa?" tanya Margaretha, menatap begitu menuntut jawaban hingga membuat Andra gugup dan salah tingkah. "Ndra ...."


"Pernikahan Patrick," jawab Andra asal. Margaretha hanya membulatkan bibir dan merutuki dirinya yang sudah merasa terlalu percaya diri.


Gue terlalu percaya diri. Mana mungkin Andra mau menikahi gue yang jelas-jelas sudah pernah disentuh lelaki lain. Arggh!! gue benci diri gue sendiri. Jangan terlalu pede, Mar! Dasar Markopolo eh Markonah!

__ADS_1


__ADS_2