
"Ti-tidak." Margaretha berusaha menghilangkan kegugupannya. Deru napas Andra yang menerpa lehernya mampu menciptakan sebuah gelayar aneh yang membuat jantung Margaretha berdebar kencang. Sementara Andra makin merapatkan kedua tangannya yang melingkar di perut Margaretha. Mencium aroma wangi yang menguar dari rambut Margaretha. Rasanya, Andra ingin sekali mencumbu wanita itu saat ini juga. Namun, Andra sadar kalau semua belum waktunya dan tinggal bersabar sebentar lagi.
Pelukan Andra yang menciptakan rasa nyaman membuat Margaretha merasa enggan untuk melepaskan. Dia terus bergeming, tanpa peduli pada tatapan orang-orang yang mengarah pada mereka. Sampai akhirnya, Eldrick maju dan berdeham keras untuk menyadarkan sejoli itu.
"Pa-paman." Margaretha tergagap. Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar, Margaretha melepaskan pelukan tersebut. Dia menunduk malu seperti orang pacaran yang ketahuan mesum di tempat umum, sedangkan Andra tetap terlihat tenang. Tidak ada rasa bersalah ataupun gugup sama sekali.
"Sebaiknya kalian tahu tempat," ucap Eldrick. Berlalu meninggalkan kedua orang itu karena tidak ingin terjadi perdebatan. Dia hanya sebatas ingin mengingatkan.
Margaretha menatap punggung Eldrick yang perlahan menjauh. Merasa bersalah dan tidak enak hati sendiri. Padahal, Eldrick pun memaklumi pasangan pengantin yang masih terbilang sangat baru. Pasti ingin terus menempel seperti lem dan perangko.
"Ndra, apakah paman marah?" tanya Margaretha khawatir. Andra tersenyum simpul dan mencium pipi Margaretha tiba-tiba hingga membuat pipi calon mantan gadis itu bersemu merah. Masih calon karena gawang Margaretha belum dijebol. "Andra!"
"Apa, Sayang?" Bukannya takut melihat pelototan mata Margaretha, Andra justru makin gencar menggoda istrinya. Melihat wajah istrinya yang tampak kesal sekaligus salah tingkah merupakan pemandangan yang menggemaskan bagi Andra.
"Ish! Nyebelin!" Margaretha menepuk dada Andra cukup kencang lalu bersidekap seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Kalau kamu bersikap seperti ini, kamu terlihat sangat mirip dengan Agnes." Andra mengacak rambut Margaretha tidak peduli pada omelan istrinya. Setelahnya, Andra pun mengajak Margaretha untuk makan bersama di ruang belakang.
__ADS_1
"Etha!" Baru saja sampai di pintu yang menghubungkan dapur, langkah kedua orang itu terhenti saat mendengar panggilan dari Agnes. Margaretha berbalik dan melihat Agnes berjalan setengah berlari ke arahnya.
"Kamu baru sampai?" Margaretha mengerutkan kening dalam sembari menatap Agnes yang sedang berusaha mengatur napas.
"Astaga, Etha!" Agnes memukul bahu Margaretha cukup kencang, sedangkan Margaretha yang belum tahu apa masalahnya hanya berusaha menghindar. Raut kebingungan tampak memenuhi wajah Margaretha. "Bisakah kamu jangan mengebut saat naik motor. Mas Gatra sampai kehilangan jejakmu!"
"Heh! Mana aku tahu kalau ternyata kalian buntutin aku. Lagian nih, ya ... Mas Gatra palingan juga sengaja nyetir pelan, 'kan jalan sama gebetan," celetuk Margaretha santai.
Gatra yang barusan masuk dan langsung mendengar ucapan Margaretha pun segera memalingkan wajah. Merasa tersindir dengan ucapan Margaretha yang memang tidak sepenuhnya salah. Sementara Agnes menggeleng sembari berdecak kesal.
"Kamu sudah makan, Ndra?" tanya Gatra berusaha mengalihkan pembicaraan. Gatra tidak ingin makin menjadi bahan ledekan Margaretha nantinya.
"Kalau begitu, kita makan bersama saja." Gatra masuk ke ruangan belakang dan disusul oleh mereka bertiga. Sementara Eldrick masih berjaga untuk melihat kinerja karyawan di sana. Memastikan keadaan aman dan terkendali.
***
Margaretha uring-uringan di kamar sendirian. Berguling tidak jelas ke sana-sini seperti anak kecil. Sejak satu jam yang lalu, Margaretha sudah pulang ke rumah padahal dirinya masih ingin di Restoran Gama bersama mereka. Namun, Andra melarang dan meminta Margaretha agar pulang bersama Agnes. Meskipun menolak, tetapi akhirnya Margaretha menuruti keinginan Andra setelah lelaki itu memberikan ancaman. Margaretha juga tidak tega saat melihat wajah Agnes yang sedikit pucat.
__ADS_1
Sejak tadi, Margaretha menatap jam di dinding yang baru menunjuk pukul tujuh malam. Itu artinya, satu jam lagi Andra baru pulang. Sementara Agnes sudah tidur sejak tadi karena kelelahan. Margaretha yang merasa bosan pun akhirnya melakukan panggilan ke grup Somplak. Berharap ada salah satu dari mereka yang mau menemani dirinya mengobrol agar tidak kesepian.
Bibir Margaretha yang barusan cemberut pun kini tersenyum lebar saat ketiga sahabatnya menerima panggilan itu bersamaan. Margaretha pikir, tidak ada dari mereka yang mau menerimanya.
"Mar, lu ngapain telfon jam segini? Emangnya lu kagak kerja malam?" tanya Rasya.
"Kerja malem apaan, Ra. Gue aja sekarang pengangguran."
"Pengangguran kaya raya, Mar." Zety menimpali, sedangkan Zahra masih saja diam.
"Ya lembur, lah. Kalau manten baru 'kan biasanya lemburan. Apa jangan-jangan lu belum jebol gawang juga," tukas Rasya. Margaretha hanya diam karena merasa bingung harus menjawab apa. Antara menjawab jujur atau berpura-pura.
"Jangan diem aja, Mar. Ntar suara desah*n gue jadi kedengeran," celetuk Zahra.
"Astaga, Zae. Mulut lu pengen gue ulek! Kagak usah mesum bisa kagak lu, Zae!" Margaretha kesal sendiri. Entah mengapa, sekarang sahabatnya yang satu itu menjadi sangat mesum. Apalagi sejak dinyatakan hamil, Zahra dinobatkan sebagai ratu mesum dalam geng Somplak.
"Nanti dulu, Mas. Aku kelarin ngobrol bentar. Aku tahu kamu mau tiga ronde," bisik Zahra. Namun, masih bisa didengar baik oleh mereka bertiga.
__ADS_1
"Zaenabb!!!" pekik Rasya, Zety, dan Margaretha kompak.