
Selama dalam perjalanan, Andra merasa heran karena Margaretha lebih banyak diam. Mulut gadis itu tidak berisik seperti biasa yang terkadang membuat telinganya serasa tuli. Bahkan, hampir sepulih menit berada di dalam satu mobil, sama sekali tidak ada pembicaraan di antara mereka dan itu mampu membuat Andra menjadi bingung sendiri.
"Apa kamu sedang ada masalah? Kenapa sejak tadi diam saja?" tanya Andra pada akhirnya. Dia tidak sesabar itu menunggu Margaretha membuka suara. Rasanya ada yang kurang jika gadis itu diam. Seperti sayur sop tanpa wortel. Eh!
"Aku hanya kepikiran Agnes," sahut Margaretha berbohong. Dia kembali diam saat mendengar desah*n kasar keluar dari mulut Andra.
"Jangan berusaha berbohong," ucap Andra setengah menyindir. Lelaki itu sepertinya sangat paham kapan saat Margaretha jujur dan berbohong.
Haruskah aku bilang kalau sebenarnya aku kecewa sama kamu karena tidak jadi menciumku. Aku memang trauma disentuh lelaki, tapi aku juga pengen dicium suamiku sendiri. Aargghh!!! Ada apa dengan diriku ini.
"Kamu kenapa? Aneh sekali," gumam Andra saat melihat Margaretha memukul kepalanya sendiri. Seperti orang yang sedang sangat frustrasi.
"Enggak papa." Margaretha menjawab singkat dan ketus karena tidak ingin Andra curiga.
"Hmmm baiklah. Mungkin kamu sedang kumat," cemooh Andra. Berbicara santai seolah tanpa beban.
"Kamu bilang apa!" Margaretha melotot. Andra yang melihatnya justru tergelak keras.
__ADS_1
"Jangan melotot seperti itu. Apa kamu tidak takut bola matamu copot?" Andra melipat bibir dan berusaha menahan tawa. "Ahh, tenang saja. Kalau seandainya bola matamu itu salah satu atau keduanya copot maka aku akan menggantinya dengan bola mata sapi. Lebih besar dan pastinya penglihatanmu juga akan lebih jelas."
"Kalandra Wirasableng!"
"Heh! Kamu memanggilku apa?" Andra yang barusan tertawa kini langsung terlihat dongkol. "Ingat, aku ini suamimu jadi jangan memanggilku asal!"
"Tidak jadi." Margaretha menatap keluar jendela karena tidak ingin bertatapan dengan Andra. Namun, dia terheran saat Andra tiba-tiba menepikan mobilnya padahal mereka belum sampai di rumah sakit. Margaretha pun menoleh dan hendak bertanya, tetapi dia dibuat terkejut saat Andra langsung mencium bibirnya meski hanya sebentar. Namun, hal itu mampu membuat pipi Margaretha bersemu merah.
"Aku tahu ini yang kamu inginkan dan ini alasan yang buat kamu jadi sensi," ucap Andra disertai seringai tipis.
"Ish! Pede!" Margaretha mencebik karena tidak ingin Andra sampai tahu kalau tebakan lelaki itu memang benar.
"Tidak. Lebih baik sekarang jalan saja. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu Agnes." Margaretha berusaha menyudahi karena dia tidak ingin terlalu larut dan akan terbuai pada pesona Andra.
Aku akan melakukan secara perlahan sampai trauma kamu benar-benar hilang, Mar. Aku yakin pasti bisa.
***
__ADS_1
"Makanlah. Ini sudah siang dan kamu belum makan sama sekali." Gatra mendengkus kasar. Sejak tadi dia berusaha merayu Agnes agar sarapan, tetapi gadis itu selalu saja menolak. Ketika Gatra hendak menyuapi, tetapi Agnes justru menutup rapat mulutnya. Sampai Gatra menjadi kesal sendiri karena dirinya juga belum sarapan. Dia baru akan makan setelah gadis manja itu selesai sarapan.
"Aku akan makan sebentar lagi. Apa kamu tidak dengar? Padahal aku sudah mengatakan berkali-kali sampai mulutku berbusa," rajuk Agnes. Melipat kedua tangan di depan dada.
"Mana? Aku tidak melihat busa dari mulutmu sama sekali," timpal Gatra. "Atau jangan-jangan kamu makan detergen makanya berbusa?"
"Diamlah! Aku pusing. Kenapa kamu tidak pergi saja dari sini?" Agnes berbicara setengah mengusir. Namun, bukannya pergi, Gatra justru duduk di samping gadis itu dengan santainya. Agnes hendak berbalik untuk membelakangi Gatra, tetapi langsung ditahan oleh lelaki itu.
"Makanlah. Kamu harus jaga kesehatan agar cepat pulih dan segera pulang dari sini." Gatra berbicara lembut. Tanpa sadar bibir Agnes tersenyum saat mendengar perhatian Gatra itu.
"Kamu perhatian sekali," puji Agnes. Senyumnya merekah sempurna hingga membuat jantung Gatra berdebar kencang. Namun, Gatra masih bisa berusaha menyadarkan diri agar tidak tergoda pada pesona gadis itu.
"Aku melakukan ini juga terpaksa," ucap Gatra mengambil sesendok nasi lalu menyuapkan ke mulut Agnes dan langsung diterima dengan baik.
"Kalau terpaksa, kenapa masih kamu lakukan saja? Kalau tidak ikhlas, tidak perlu! Aku masih bisa menjaga diriku sendiri," kata Agnes ketus.
"Aku tidak mau kamu mati. Ingatlah kalau saat ini yang menjaga kamu itu aku. Kalau sampai kamu mati, bisa-bisa dikira aku yang membunuh kamu." Gatra berusaha menahan tawa saat melihat raut wajah Agnes yang mendadak kesal. Bahkan, gadis itu sampai menghentikan kunyahannya.
__ADS_1
"Astaga. Mulut kamu jahat sekali," protes Agnes. Tapi, Gatra tidak peduli dan kembali menyuapkan nasi ke mulut Agnes hingga membuat kedua pipi Agnes menggelembung karena penuh dengan nasi. Agnes pun terlihat susah payah saat mengunyahnya.
Lucu dan menggemaskan sekali bocah dewasa ini. Batin Gatra. Dia seperti terpikat pada Agnes.