
"Kamu ingin menarik simpatiku?" Janu menatap setengah kesal ke arah Margaretha. Dirinya saat ini benar-benar berada dalam kebimbangan setelah mendengar ucapan demi ucapan Margaretha. Sementara itu, Margaretha mengulas senyumnya.
"Tidak. Aku hanya berbicara apa adanya." Sebelah sudut bibir Margaretha tertarik, sedangkan Wibisono yang sejak tadi hanya diam pun menggeleng. Tidak menyangka kalau Margaretha akan sepintar itu.
"Kamu urusi gadis itu agar tidak bicara lagi!" Janu memerintah Wibisono. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Margaretha dan Wibisono berdua di sana. Setelah pintu tertutup rapat, tubuh Margaretha kembali terlihat gemetaran. Jika tadi dia menghadapi Janu dengan berani, tetapi tidak saat berhadapan dengan Wibisono. Apalagi saat melihat tatapan Wibisono yang sangat menyeramkan.
"Ternyata kamu licik sekali," ucap Wibisono. Menggenggam dagu Margaretha kuat hingga membuatnya meringis kesakitan. Ibu jari Wibisono pun mengusap sudut bibir Margaretha yang menyisakan bercak darah yang mulai mengering.
"Aku tidak menyangka kamu berani berbicara seperti itu. Berusaha menarik simpati? Hahaha." Wibisono tergelak keras dan Margaretha beringsut takut mendengar tawa yang menggelegar tersebut. "Kalau sampai terjadi hal buruk terhadap nona muda maka nyawamu akan jadi taruhannya!"
"Bunuh aku saja! Bukankah itu yang kalian inginkan? Orang tuaku sudah mati, hartaku sudah diambil alih. Untuk apa gunanya aku hidup? Aku tidak takut mati!" Margaretha berbicara keras. Suaranya meninggi, tetapi tatapan matanya tampak sayu.
"Kamu mungkin bisa mempengaruhi Bos Janu, tapi tidak padaku!" Seringai tampak terlihat jelas pada bibir Wibisono.
Lelaki itu dengan cepat kembali mencium leher jenjang Margaretha dan menambah tanda kepemilikan di sana. Margaretha benar-benar sudah merasa jijik dengan dirinya sendiri. Air mata Margaretha mengalir saat tangan Wibisono sudah mulai merem*s kedua bukit kenyalnya. Hal yang baru pertama kali Margaretha rasakan. Tubuhnya menggelinjang saat perasaan aneh menyusup masuk ke hatinya.
"Menangislah atau memberontaklah. Itu lebih baik daripada kamu diam saja seperti ini," suruh Wibisono. Namun, Margaretha menggeleng dan terus saja diam dengan air mata yang tidak surut.
"Silakan kamu nodai aku dan setelah ini bunuh aku. Tidak ada gunanya aku hidup dengan tubuh kotor seperti ini." Margaretha berbicara lirih. Wibisono kembali mencetak tanda kepemilikan dan entah sudah berapa puluh tanda itu tercetak di leher dan dada Margaretha. "Papa ... Mama ... maafkan Etha. Tunggu sebentar lagi Etha akan menemui kalian," gumam Margaretha lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Wibisono.
__ADS_1
Cih!
"Sialan!" Wibisono mengumpat dan segera bangkit berdiri menatap Margaretha dengan tatapan yang susah dijelaskan. Bahkan, tanpa berbicara sepatah kata pun Wibisono pergi dari ruangan tersebut begitu saja. Meninggalkan Margaretha yang keheranan dan juga mengembuskan napas lega. Bersyukur karena kesuciannya masih terjaga sampai saat ini.
Wibisono yang sudah masuk ke kamar miliknya yang berada di sebelah kamar tamu pun segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Beberapa kali dia memukul tembok dan tanpa sadar air matanya mengalir saat bayangan masa lalu berputar dalam otaknya. Sebuah kejadian menyakitkan yang juga menorehkan luka teramat dalam baginya.
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa lelaki baik seperti yang kakak inginkan." Wibisono terus saja memukul tembok tanpa peduli pada punggung jarinya yang sudah mulai terasa sakit dan terlihat memerah.
***
"Kita mau ke mana?" Agnes mulai gelisah saat melihat mobil yang dikendarai Andra terus melaju jauh meninggalkan area rumah sakit.
"Kembalikan ponselku!" pinta Agnes setengah berteriak, tetapi Patricia menggeleng cepat. "Aku mohon kembalikan ponselku!"
"Tidak akan, Nona." Patricia tersenyum miring.
"Kalian sebenarnya siapa? Apa kalian mau menculikku? Kalau iya, maka jangan salahkan aku kalau nanti kalian akan dibunuh papa!" Agnes bersidekap dan bibirnya terlihat mengerucut. Andra dan yang lain tersenyum miring saat melihat tingkah Agnes yang benar-benar kekanak-kanakan.
"Kami tidak takut, Nona." Andra menjawab sembari terkekeh. Sementara itu Agnes hanya diam meskipun dia merasa sangat ketakutan.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Andra pun memasuki halaman rumah Opa Jo dan masih tampak ramai karena mereka masih menunggu di sana. Saat mobil sudah benar-benar berhenti, Andra segera meminta Agnes untuk turun, tetapi gadis itu menolak dan tetap duduk di tempatnya. Namun, sepersekian detik selanjutnya Agnes berteriak saat Andra memanggulnya secara paksa seperti sedang memanggul karung beras. Patricia dan Kenzi menggeleng saat melihat itu. Mereka pun berjalan mengekor Andra.
"Astaga, Ndra! Elu ada-ada aja." Zety tertawa saat melihat Andra masuk dan langsung menghempaskan tubuh Agnes di sofa.
"Ramai sekali. Apa di sini sedang ada pesta?" tanya Agnes dengan polosnya hingga mengundang tawa.
"Memang benar-benar gadis bodoh!" umpat Andra meskipun bibirnya tersenyum.
"Hei! Kamu bilang apa?" Agnes bangkit dan berkacak pinggang sambil menatap Andra penuh kekesalan.
"Nona, apa kamu tidak sadar kalau sekarang sedang diculik?" tanya Rasya.
"Apa? Diculik?" Agnes berteriak keras hingga mengejutkan mereka semua. "Huaaaaa ... Papa aku takut." Agnes menangis keras, sedangkan mereka menggeleng melihat tingkah Agnes yang benar-benar kekanak-kanakan.
"Diamlah! Jangan seperti bocah ingusan!" protes Andra. Kepalanya terasa pusing karena tangisan keras itu.
"Aku tidak ingusan! Lihatlah!" Agnes mengusap hidung dengan jari lalu menunjukkan pada Andra dan yang lainnya.
"Astaga! Bodoh sekali."
__ADS_1