
Keesokan paginya, rumah Zety tampak ramai karena Rasya dan Zahra beserta Baby Bima berkunjung ke sana untuk melihat keadaan Margaretha. Suasana terasa sangat berbeda karena Margaretha terus saja diam. Tidak ada senyuman apalagi tawa yang tersemat di bibir gadis itu. Meskipun ketika ditanya Margaretha akan menjawab, tetapi gadis itu terus saja memasang raut wajah datar.
"Mar, kenapa lu dari tadi diem mulu?" tanya Rasya. Menatap nanar sahabatnya. Sungguh, Rasya merasa sedih saat melihat keadaan Margaretha. Seolah bisa merasakan sakit hati yang dirasakan sahabatnya itu.
"Baby Bisul sangat lucu, Ra." Bukannya menjawab, Margaretha justru mengalihkan pembicaraan.
"Lu ingin gendong keponakan lu yang tampan ini?" Rasya menawari. Raut wajah Margaretha tampak semringah bahkan dia mengangguk berkali-kali. Rasya pun menyerahkan Baby Bima untuk dipangku Margaretha.
"Kesayangan Onty," gumam Margaretha. Mencium bayi gembul itu dengan penuh sayang. Tanpa sadar air mata Margaretha mengalir membasahi wajahnya.
"Jangan menangis, Mar. Ada kami di sini." Zahra mengusap bahu Margaretha untuk sekadar menenangkan gadis itu. Rasya pun mengambil alih Baby Bima dan menyerahkan kepada baby sitternya. Lalu Rasya meminta baby sitter tersebut untuk pergi karena mereka akan berbicara hal serius. Setelah pintu kamar tertutup rapat, tiga orang itu segera mendekati Margaretha. Menatap Margaretha dengan tatapan yang susah dijelaskan.
Menyadari tatapan ketiga sahabatnya, Margaretha pun hanya bisa menunduk dalam. Merasa terintimidasi.
"Mar ...."
"Maafin gue." Margaretha menyela ucapan mereka.
"Emang seharusnya lu minta maaf sama kami, Mar." Zety menimpali dengan ketus.
"Ya, gue minta maaf karena gue harus pamit dari kalian," ucap Margaretha lirih bahkan nyaris tidak terdengar.
"Pamit? Lu mau ke mana?" tanya Zahra. Menatap Margaretha penuh selidik.
"Gue kagak pantes lagi berteman sama kalian. Gue ini terlalu rendahan. Mungkin setelah ini gue akan pergi jauh dan entah kapan akan kembali." Suara Margaretha terdengar berat.
__ADS_1
"Jangan ngomong seperti itu, Mar. Lu sangat pantes buat jadi sahabat kami. Sampai kapan pun lu bakal jadi sahabat kami." Rasya merangkul bahu Margaretha erat. Seolah memberi ketenangan untuk gadis itu.
"Tapi ... gue ...."
"Lu apa? Jangan asal ngomong, Mar. Kita ini sahabat dan sampai kapan pun akan jadi sahabat. Apa pun yang terjadi," ujar Zety.
"Kami nyuruh lu minta maaf karena lu udah salah. Kenapa lu nyembunyiin semuanya dari kami, Mar? Apa sebegitu tidak berartinya kami buat lu?" imbuh Zahra. Margaretha setengah mendongak. Saat melihat tatapan Zahra, Margaretha bisa melihat kekecewaan terlihat dari sorot mata sahabatnya.
"Seharusnya lu terbuka sama kami, Mar. Susah-senang harus kita lalui bersama. Saling menguatkan di saat salah satu di antara kita terpuruk." Zety kembali berbicara.
"Maafin gue." Margaretha tidak mampu berkata-kata. Hanya air mata membasahi wajah cantiknya yang masih terlihat sedikit pucat.
"Lu harus tahu. Status kita bukan lagi teman, tapi sahabat. Jika teman akan meninggalkanmu saat terpuruk, tapi tidak dengan sahabat. Dia adalah orang yang akan membantumu bangkit dari keterpurukan."
Margaretha menunduk karena tidak mampu melihat tatapan Zety yang membuat hatinya terasa berdesir sakit.
"Kalian udah bahagia. Udah menemukan keluarga baru, sedangkan gue? Bahkan, saat ini gue kagak bisa tersenyum saat merasakan hidup ini berasa sangat kejam. Kenapa gue ngerasa Tuhan tidak adil? Kenapa dari dulu gue harus selalu hidup menderita." Margaretha berusaha menyeka air matanya meskipun percuma karena cairan bening itu terus saja mengalir.
"Tuhan memberi cobaan tidak akan pernah melebihi kemampuan hamba-Nya. Gue yakin ada hikmah di balik setiap kejadian dan cobaan. Setiap ujian ada agar seseorang itu makin kuat dan tegar. Sabarlah, Mar. Karena setelah ini gue yakin lu akan hidup bahagia. Pelangi ada setelah badai datang menerjang, dan kebahagiaan selalu menanti di setiap ujung rasa kecewa." Zety yang tak kuasa menahan tangis pun segera memeluk erat sahabatnya. Begitu juga dengan yang lain. Keempat sahabat itu pun saling berpelukan erat.
"Makasih banyak." Suara Margaretha sesenggukan.
"Teruslah berjalan, Mar. Dan kita akan selalu ada di samping lu." Rasya berbicara sembari mengusap air matanya.
"Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bergandengan tangan," imbuh Zahra.
__ADS_1
Suasana di sana terasa haru. Margaretha merasa beruntung, meskipun dia harus hidup sendiri tanpa kedua orang tua, tetapi setidaknya dirinya masih memiliki sahabat yang sangat menyayangi dirinya. Bahkan, mereka seperti keluarga yang sangat dekat. Ketika sedang asyik berpelukan, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Mereka pun segera melerai pelukan tersebut. Zety berjalan cepat ke pintu sembari mengusap wajah yang masih meninggalkan jejak air mata.
Ketika pintu kamar terbuka, terlihat salah seorang pelayan membungkuk hormat. Lalu mengatakan kalau ada Andra di luar yang ingin bertemu dengan Margaretha. Zety pun hanya mengiyakan dan mengajak kedua sahabatnya untuk pergi.
Margaretha tampak gugup saat melihat Andra yang saat ini sudah berdiri di depannya. Melihat Andra yang menatapnya sangat lekat, Margaretha segera merapatkan selimut untuk menutup tubuhnya hingga sebatas leher. Bayangan saat Wibisono menyentuhnya membuat tubuh Margaretha gemetar ketakutan.
"Jangan mendekat ... jangan mendekat ...." Margaretha bergumam lirih. Tubuhnya makin gemetar saat melihat Andra yang saat ini sudah berdiri di tepi tempat tidur. Margaretha hendak bergeser untuk menjauh dari Andra, tetapi dengan gerakan cepat Andra merengkuh tubuh Margaretha dan mendekapnya erat. Margaretha berontak, tetapi Andra justru makin mengeratkan pelukannya.
"Kalau lu juga ingin menodai gue. Lakukan, Ndra! Gue udah kotor." Margaretha merasa pasrah dan tidak lagi berontak. Andra tidak berbicara apa pun. Masih terus memeluk erat dan tanpa sadar air mata Andra menetes.
Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa sakit melihat kamu seperti ini.
π€ͺπ€ͺπ€ͺ
Markonah masih perawan. Cuman, di stempel aja udah ngerasa kotor padahal banyak sekarang yang baru pacaran aja udah bikin anak π
Sorry guys, emang begitu π
Setiap orang memiliki cara pandang berbeda. Tapi, aku yakin kebanyakan wanita akan merasa sakit dan terluka saat ada lelaki yang menyentuh, mencium, padahal lelaki itu tidak dikenal. Bahkan, kebanyakan dari mereka akan merasa trauma.
π₯²π₯² Mungkin Othor yang terlalu berlebihan ππ
Bab selanjutnya on proses ya kak π tidak bisa balas komentar kalian satu persatu karena dibatasi.
Terima kasih buat kalian yang selalu kasih dukungan buat karya othor yang masih butuh banyak pembenahan ini. Love you All πππ
__ADS_1