
Sinar mentari pagi mengintip dari sela-sela tirai jendela kamar. Mata Margaretha pun mulai terbuka perlahan. Mantan gadis itu menoleh dan melihat Andra yang masih terlelap sembari memeluknya erat. Margaretha membuka sedikit selimut yang menutup tubuhnya lalu menggeleng lemah saat tidak melihat sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
"Akhirnya, aku sudah resmi menjadi istri sepenuhnya." Margaretha bergumam lirih.
"Dan aku yakin kalau kamu pasti bahagia seperti aku yang sedang merasa sangat bahagia saat ini." Andra menimpali tanpa membuka mata. Margaretha pun berbalik dan menatap lekat wajah suaminya. Lelaki yang semalam membuat dirinya mengerang kesakitan sekaligus nikmat dan membuat ketagihan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Margaretha dengan bodohnya.
"Belum." Andra menjawab santai.
"Ish! Menyebalkan." Margaretha memukul dada bidang suaminya. Andra pun menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman bahagia. Lalu membuka mata dan langsung mencium bibir Margaretha mesra. Namun, itu hanya sesaat karena Margaretha langsung melepaskan dan menutup mulutnya rapat.
"Kenapa, hm?" Andra menatap Margaretha heran.
"Jangan menciumku. Aku belum gosok gigi. Masih bau iler." Margaretha tidak percaya diri. Namun, Andra justru terkekeh dan menurunkan tangan Margaretha.
"Tidak apa." Andra pun mencium bibir itu lagi. Benda kenyal yang sudah menjadi candu untuknya. Margaretha tidak mampu lagi berkutik karena sentuhan Andra lagi-lagi membuatnya terbuai.
"Ndra, punyaku masih sakit." Margaretha hendak menolak saat Andra kembali menindihnya. Walaupun dalam hati Margaretha menginginkan hal semalam lagi. Surga dunia yang benar-benar membuat ketagihan.
"Aku akan sangat pelan saat melakukannya." Andra berbisik lembut. Margaretha pun tidak bisa menolak dan hanya bisa pasrah saat Andra kembali menjajah dirinya.
***
"Etha mana?" tanya Agnes saat melihat Andra yang turun sendirian ke ruang makan untuk sarapan.
"Masih tidur." Andra mendudukkan bokong di kursi yang berada di depan Eldrick. Andra pun tidak peduli pada lelaki paruh baya itu yang menatapnya curiga. Eldrick yakin sesuatu telah terjadi semalam menilik raut wajah Andra yang berbinar bahagia.
"Kenapa dia masih tidur? Apa Etha sakit? Biar aku melihatnya." Agnes hendak bangun untuk melihat Margaretha, tetapi langsung dilarang oleh Andra.
"Biarkan saja. Dia sedang marah karena aku melarangnya ikut bekerja. Lebih baik sekarang kamu sarapan sebelum Mas Gatra menjemputmu." Andra memberi perintah. Agnes pun hanya bisa mendengkus kasar dan menuruti perintah Andra tersebut. Sementara Eldrick hanya diam dan tidak mau terlalu ikut campur urusan anak muda.
__ADS_1
Setelah sarapan, ketiga orang itu pun bergegas ke restoran termasuk Eldrick. Lelaki paruh baya itu selama satu bulan akan berada di restoran untuk menemani Andra karena merasa jenuh jika harus terus di rumah.
Sementara itu, Margaretha masih bermalas-malasan di atas tempat tidur. Merasa enggan untuk turun karena tubuhnya yang terasa remuk redam setelah dua kali digagahi Andra. Ya, meskipun Margaretha merasakan kenikmatan bahkan ingin disentuh lagi dan lagi.
Sebenarnya, Margaretha ingin bangun dan mengantar Andra sampai depan pintu. Namun, Andra melarang dan menyuruh istrinya agar tetap di kamar karena dia sudah menyewa tiga pelayan untuk bekerja di rumah mewah tersebut. Margaretha pun hanya menurut perintah suaminya.
"Ihh, siapa yang nelpon pagi-pagi, sih!" Margaretha mencebik. Mengambil ponsel di nakas lalu mengembuskan napas kasar saat melihat nama sahabatnya tertera di layar.
"Markonah!" pekik Zahra seperti hendak memecahkan gendang telinga Margaretha saat itu juga.
"Astaga, Zae. Teriakan lu kurang keras," protes Margaretha. Mengusap telinga yang berdenging.
"Hahaha. Biar elu bangun, Mar. Gimana semalam hati lu udah kebuka?" tanya Zahra penasaran.
"Zae, ini masih pagi loh!"
"Yang bilang udah siang siapa, Mar?" Zahra tergelak dan itu terdengar sangat menyebalkan bagi Margaretha. "Gimana semalem? Lu udah dapat pencerahan dari video yang gue kirim?"
"Setan elu, Zae!" dengkus Margaretha.
"Ya. Lu baik hati. Bukan hati gue aja yang kebuka, tapi semuanya. Puas lu!" Margaretha sewot sendiri. Dia marah dengan sahabatnya meskipun hanya drama. Tidak benar-benar marah.
"Tunggu dulu, Mar. Jadi lu semalam belah duren?"
"Hmmmm."
"Pecah perawan?" Zahra makin heboh.
"Hmmmm."
"Uh-ah uh-ah?"
__ADS_1
"Gila lu, Zae!" Walaupun marah, Margaretha tetap tersenyum. Sahabatnya ini beneran kocak.
"Yess! Kalau gitu gue yang menang taruhan." Zahra bersorak kegirangan. Sementara Margaretha memudarkan senyumnya saat mendengar ucapan itu.
"Taruhan apa?" tanya Margaretha penuh selidik.
Kekehan Zahra terdengar lagi dan Margaretha mencebik kesal karenanya. "Jangan bilang lu, Kurap, sama Suketi jadiin gue bahan taruhan lagi?"
"Cakeep. Pinter banget, sih, elu, Mar. Bisa nebak gitu." Zahra berbicara seolah tanpa dosa.
"Sialan!" umpat Margaretha kesal. Dia tidak habis pikir dengan para sahabatnya yang sangat menyebalkan itu.
"Hahaha. Jangan marah, Mar."
"Emang kalian taruhan apa?" tanya Margaretha ingin tahu.
"Ihh kepo lu."
"Asem! Zaenab katakan ...."
"Taruhan lu bakal kehilangan keperawanan tadi malam atau tidak. Jadi, karena keperawanan lu udah hilang, gue yang menang."
"Astaga ... kalian gitu amat. Jahat sama gue." Margaretha ngedrama seolah marah. "Terus karena lu menang dapat apa?"
"Traktiranlah. Kurap sama Suketi bakal traktir gue sepuasnya."
"Terus lu bakal minta traktiran apa?" Margaretha merasa curiga dengan keinginan sahabatnya. "Jangan bilang lu minta ditraktir seblak, Zae. Udah bosen. Lagi pula, kejam amat lu. Seblak harganya murah kagak setara sama harga diri keperawanan gue, Zae.
"Ish, gue belum jawab lu udah ngerocos kek kereta api. Gue cuma minta mie ayam ceker."
"Itu doang?" Margaretha melongo mendengar permintaan sahabatnya. Jauh dari kata taruhan untuk kalangan orang kaya seperti mereka.
__ADS_1
"Iyalah. Tapi gue minta dikasih ceker dua yang kanan dan kiri. Biar kalau jalan kagak pincang. Hahaha."
"Astaga, Zae. Emang sarap lu." Margaretha menggeleng. Namun, dia pun tak kuasa menahan tawa mendengar permintaan sahabatnya itu. Sungguh di luar dugaan.