Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
22


__ADS_3

"Ndra ...." Margaretha terdiam. Entah mengapa hatinya merasa nyaman saat merasakan dekapan erat itu. Andra tidak membuka suara, hanya isak tangis tertahan yang terdengar lirih. "Lu nangis, Ndra?" tanya Margaretha.


"Tidak." Andra menjawab cepat. Secepat kilat ibu jarinya menghapus air mata tersebut sebelum Margaretha mengetahuinya.


Margaretha sedikit menggerakkan tubuhnya agar pelukan tersebut terlepas. Lalu Margaretha menatap Andra lekat. Margaretha bisa melihat dengan jelas mata Andra yang sedikit memerah.


"Baru kali ini gue lihat cowok nangis di depan gue," ucap Margaretha setengah meledek.


"Siapa yang menangis? Jangan ngarang kamu, tuh!" bantah Andra. Memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Margaretha.


"Beneran, Ndra." Senyum Margaretha terlihat jelas. Andra pun ikut tersenyum saat melihatnya.


"Kamu mau menikah denganku?" Pertanyaan Andra yang tiba-tiba sontak membuat Margaretha terkejut. Tidak ada angin ataupun hujan, Andra berbicara seperti itu. Sebuah pertanyaan yang bahkan tidak pernah terbesit sekalipun dalam pikiran Margaretha. "Kenapa kamu diam saja, hm?"


Margaretha mendes*hkan napasnya secara kasar ke udara. "Bagaimana kalau gue menolak, Ndra?"


"Aku akan menunggu sampai kamu menjawab iya." Andra berbicara tegas. Memegang kedua bahu Margaretha meskipun gadis itu memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Ndra, lebih baik lu cari cewek lain aja yang lebih pantes buat lu. Lebih baik dan lebih segalanya. Gue kagak cocok, kagak pantes banget buat lu, Ndra," ucap Margaretha. Tatapannya terlihat nanar.


"Kalau aku cuma mau sama kamu, bagaimana?" Andra menatap Margaretha dalam. Namun, Margaretha langsung menggeleng cepat.


"Gue kagak bisa, Ndra. Gue ini bukan cewek suci lagi. Gue ini kotor!" Margaretha memukul dada yang terasa begitu sesak saat kembali teringat perlakuan Wibisono. Mendengar hal itu, Andra memegang kuat kedua bahu Margaretha dan menatapnya penuh selidik. Menyadari tatapan Andra yang begitu mengintimidasi, Margaretha pun segera menunduk dalam. Tidak berani beradu tatapan dengan Andra.


"Katakan padaku, apakah lelaki brengsek itu sudah menodaimu? Apa dia merenggut keperawananmu?" tanya Andra tidak sabar. Napasnya bahkan terdengar memburu karena dipenuhi emosi.


Margaretha menggeleng lemah. Andra pun sedikit bernapas lega. "Lalu? Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


Margaretha tidak menjawab, dia hanya menurunkan selimutnya lalu menyingkap turun baju yang dikenakan. Dari situlah Andra bisa melihat jelas tanda kissmark yang memenuhi leher Margaretha hingga sampai ke dada gadis itu. Andra menurunkan tangannya yang sudah mengepal erat. Emosinya benar-benar naik saat melihat itu.


Margaretha yang melihat wajah Andra yang sudah memerah karena emosi pun menjadi takut sendiri. Rasanya, Andra begitu menyeramkan baginya.


"Aku harus kasih pembalasan untuk mereka!" Andra hendak bangkit, tetapi Margaretha menahan dengan cepat.


"Lu mau ke mana? Sudahlah, Ndra. Jangan memperpanjang masalah." Margaretha menatap Andra memelas.

__ADS_1


"Aku bukan memperpanjang masalah, tapi aku hanya akan membuat perhitungan untuk mereka! Lihatlah! Mereka sudah keterlaluan!" Suara Andra meninggi. Jarinya menunjukkan tanda-tanda di leher Margaretha tersebut.


"Ndra ...."


"Apa? Kamu mau melarang? Aku hanya akan membalas perbuatan mereka yang sudah kurang ajar kepadamu. Kenapa kamu menahan? Apa kamu juga menikmatinya?" tukas Andra.


Margaretha yang mendengar tuduhan itu langsung melepaskan cekalan tangannya dan menunduk dalam. Raut wajahnya terlihat begitu sendu seiring hatinya yang berdenyut sakit mendengar ucapan Andra barusan.


"Bukankah sudah gue katakan kalau gue ini kotor, Ndra. Lebih baik lu cari gadis lain saja yang lebih pantas. Kalau lu ngira gue menikmati ini. Ya ... lu bener! Gue memang menikmatinya sampai-sampai gue rasanya pengen mati aja! Lebih baik gue menyusul papa dan mama!" Margaretha mendongak menatap Andra penuh kecewa.


Menyadari ucapannya sudah menyakiti Margaretha, Andra segera memeluk gadis itu erat dan terus mengucapkan kata maaf. Margaretha terdiam, hanya isak tangis yang terdengar dari gadis itu hingga membuat hati Andra ikut merasa sakit.


"Bukan lu yang salah, Ndra. Tapi gue. Gue yang terlalu khawatir sama lu." Margaretha berbicara disela tangisannya.


"Maafkan aku." Andra melepaskan pelukan itu dan mengusap wajah Margaretha yang masih penuh dengan jejak air mata. Margaretha hendak memalingkan wajah, tetapi langsung ditahan oleh Andra. "Setelah semua keadaan aman terkendali. Aku akan menikahimu."


Margaretha menatap Andra tidak percaya. "Dan aku tidak menerima penolakan," pungkas Andra. Membungkam Margaretha yang hendak membuka suara. "Kalau begitu, aku pergi dulu." Andra mencium puncak kepala Margaretha cukup lama lalu bergegas pergi dengan cepat.

__ADS_1


Margaretha terdiam saat melihat punggung Andra yang menjauh dengan cepat dari pandangan matanya. Untuk saat ini, Margaretha tidak tahu apakah dirinya harus merasa sedih atau bahagia.


Apakah kamu yakin bisa menerimaku yang sudah sehina ini, Ndra? Jika memang kamu menerima, ku berdoa semoga ini tidak akan menjadi masalah buat kita suatu saat.


__ADS_2