
"Nona Cia mau menikah?" tanya Margaretha memastikan. Andra hanya tersenyum untuk menutupi kegugupannya. Namun, Margaretha justru mengartikan lain senyuman itu. "Dengan siapa?"
"Ya, pokoknya ada. Besok akan ada kejutan untukmu di pernikahan Patrick." Andra terkekeh, sedangkan raut wajah Margaretha justru terlihat sendu.
"Kalau gue kagak datang?"
"Kamu harus datang. Patrick bilang kamu adalah tamu spesial di pestanya."
"Kenapa begitu? Gue bahkan enggak terlalu mengenal Nona Cia," ucap Margaretha terheran.
"Ya, karena kamu sekarang adalah nona muda. Sudahlah, aku mau pergi dulu. Besok akan ada yang menjemputmu. Sekarang aku akan mencoba tuxedo-ku dulu." Andra beranjak bangun, dan bersiap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti karena Margaretha menahan tangannya.
"Tuxedo? Jangan-jangan lu yang jadi pengantin prianya?" tukas Margaretha menatap Andra penuh selidik.
Mendengar pertanyaan itu, Andra hanya menanggapi dengan senyuman. Lalu mengacak rambut Margaretha sebelum pergi dari sana tanpa peduli pada panggilan Margaretha. Andra hanya tidak ingin kalau sampai Margaretha curiga dan kejutan yang sudah susah payah disiapkan akan gagal.
Selepas kepergian Andra, Margaretha menyandarkan kepala di sofa dan memejamkan mata saat merasakan hatinya terasa berdenyut. Dia tidak tahu apa yang membuat dirinya merasa seperti itu. Apa karena mengira Andra akan menikah dengan Patricia.
"Bukankah mereka memang cocok," gumam Margaretha.
Dia beranjak bangun dan bergegas ke kamar agar pikiran buruk tidak makin mengganggu. Setibanya di kamar, Margaretha tersenyum melihat Agnes yang sudah tertidur lelap. Bahkan, dengkuran terdengar dari gadis itu. Mengingat bagaimana Agnes yang tidak mau tidur terpisah dengannya membuat Margaretha tersenyum sendiri. Kakaknya itu persis seperti bocah.
Setelah menrebahkan tubuh di samping Agnes, Margaretha segera menarik selimut sampai sebatas dada lalu berusaha agar bisa tertidur lelap meskipun pikirannya sedang terusik saat ini.
***
Margaretha merasa bingung karena dirinya saat ini sedang berdiri di tengah sebuah pesta pernikahan. Namun, Margaretha belum tahu siapakah yang sedang melangsungkan pernikahan. Dia pun melangkah maju untuk melihat lebih jelas. Namun, Margaretha menggeleng tidak percaya saat melihat Andra sedang berdampingan dengan Patricia. Yang membuat penglihatan Margaretha terusik adalah dua orang itu memakai baju pengantin yang seragam.
Patricia memakai gaun putih tulang yang membuat gadis itu terlihat sangat cantik, sedangkan Andra memakai tuxedo dengan warna senada. Belum juga selesai dengan kebingungannya, Margaretha terdiam saat seorang lelaki paruh baya yang duduk di depan Andra, menjabat tangan lelaki itu. Lalu mengucapkan kalimat ijab yang membuat mata Margaretha sontak terbuka lebar.
"Saya terima nikahnya Patricia Anderson Saputri binti Mike Anderson dengan maskawin ...."
"Tidakk!!!" Margaretha terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Napasnya tersengal dan keringat dingin sudah membasahi dahi. Mendengar teriakan itu sontak membuat Agnes ikut terbangun dan terkejut melihat tubuh Margaretha yang terlihat gemetaran.
__ADS_1
"Etha, kamu kenapa?" tanya Agnes khawatir. Dia pun segera mengambil segelas air putih di nakas yang berada tepat di sampingnya.
"Aku mimpi buruk, Nes." Margaretha mengambil gelas tersebut dan segera menenggak habis.
"Mimpi apa?" Agnes terlihat begitu penasaran. Margaretha tidak menjawab dan hanya menggeleng perlahan. "Kalau begitu kita tidur lagi aja. Kata papaku kalau mimpi buruk itu hanyalah bunga tidur."
"Ya. Mungkin karena aku kelelahan jadi mimpi buruk datang menganggu," timpal Margaretha.
"Bisa jadi." Agnes pun mengajak Margaretha kembali tidur karena jam baru menunjuk pukul dua dini hari. Agnes masih bisa terlelap, tetapi tidak dengan Margaretha. Mata gadis itu susah untuk kembali terlelap. Meskipun terpejam, tetapi pikirannya jalan-jalan. Merasa gelisah akan pesta pernikahan esok hari.
Keesokan harinya, Margaretha menghela napas panjang saat dirinya sudah terlihat cantik dalam balutan gaun warna putih susu. Rambutnya yang biasa dikucir kini disanggul tinggi. Margaretha berusaha menolak saat perias itu mendadani wajah dan gaun yang dikenakan. Bagi Margaretha ini terlalu menor untuk seseorang yang hanya menjadi tamu di sebuah pesta pernikahan. Namun, perias itu tidak peduli dan mengatakan kalau itu adalah suruhan Patricia karena Margaretha merupakan tamu spesial di pesta tersebut. Margaretha pun tidak bisa lagi menolak dan hanya bisa pasrah.
Dua jam berlalu dan semua baru saja selesai, Margaretha rasanya sangat lelah, tetapi saat berkaca dia sangat terpukau dengan kecantikannya sendiri.
"Astaga, gue cantik banget. Kenapa gue ngerasa lagi jadi pengantin," gumam Margaretha lirih. Terus mengagumi kecantikannya.
"Wow! Nona Muda cantik sekali."
Margaretha terkejut saat melihat Agnes masuk sembari bertepuk tangan. Gadis itu heboh sendiri.
Tanpa menunggu lama dan setelah semuanya siap, Margaretha dan Agnes bergegas berangkat karena mobil yang bertugas menjemput mereka sudah datang. Selama dalam perjalanan Margaretha hanya duduk gelisah. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak nyaman. Bayangan mimpi buruk semalam membuat Margaretha makin gelisah.
"Jangan gugup, Etha. Bukan kamu yang jadi pengantin wanita," ledek Agnes. Dia tertawa melihat wajah Margaretha yang tadi terlihat gugup kini sudah mencebik karena kesal.
"Ish! Jangan diperjelas. Aku cuma enggak nyaman aja dandan kaya gini. Udah ngalahin pengantin wanitanya aja," ucap Margaretha.
"Siapa tahu kamu nanti yang jadi pengantinnya," seloroh Agnes. Namun, Agnes langsung mengaduh saat Margaretha mencubit tangannya meski tidak kencang.
"Jangan ngawur kamu, Nes!" ucap Margaretha setengah membentak karena kesal. Agnes justru tertawa keras hingga membuat Margaretha makin kesal.
Tawa Agnes mereda saat mobil yang ditumpangi mereka sudah berhenti di depan hotel tempat acara tersebut berlangsung. Margaretha tampak makin gugup apalagi ada dua orang pengawal yang membantu membuka pintu mobil.
"Jangan gugup. Ingat, kita hanya tamu di sini," bisik Agnes saat mereka berjalan ke ruangan di mana acara berlangsung. Margaretha tidak berbicara sama sekali dan hanya menunduk karena banyak kamera yang mengarah kepadanya.
__ADS_1
"Markonah!"
Saat mendengar teriakan itu, barulah Margaretha mengangkat kepala dan terkejut melihat ketiga sahabatnya sudah memakai gaun berwarna senada. Bahkan, motif dan modelnya pun sama. Hanya dirinya yang berbeda.
"Akhirnya elu datang, Mar." Zety memeluk Margaretha erat, dan bergantian dengan Zahra juga Rasya.
"Kenapa kalian jahat banget," rajuk Margaretha.
"Jahat gimana, Mar. Kami udah belain datang ke sini, loh." Zahra terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya.
"Kalian pakai baju samaan. Warna, model pun sama semua. Nah gue, beda sendiri. Apa gue bukan bestie kalian lagi," rengek Margaretha. Dia benar-benar kesal dengan ketiga sahabatnya.
"Markonah ... Markonah. Mana ada pengiring dan pengantin pakai gaun yang sama. Yang ada ntar ketuker mana pengiring mana pengantin," ucap Rasya. Menutupi tawanya yang hendak meledak karena melihat raut wajah Margaretha yang kebingungan.
"Gue kagak mudeng kalian ngomong apa," timpal Margaretha. "Eh tunggu dulu, gue heran kenapa kalian ada di sini. Bukankah ini acara pernikahan Nona Patricia, memangnya kalian kenal?"
"Siapa yang bilang ini pernikahan Nona Patricia?" Zahra ikut menahan tawa.
"Andra yang bilang," jawab Margaretha dengan lugunya.
"Dan lu percaya?" tanya tiga geng Somplak itu bersamaan. Margaretha hanya mengangguk perlahan. Lagi-lagi dia terheran saat mendengar tawa mereka yang meledak.
Belum selesai dengan rasa bingungnya, Margaretha tercengang saat mendengar bunyi tembakan dua kali. Bukan hanya Margaretha, tetapi hampir semua tamu undangan pun ikut terkejut. Apalagi saat sebuah gulungan banner tampak terbuka menurun dan terpampang begitu jelas dari lantai atas.
Margaretha menutup mulut karena terkejut sekaligus tidak percaya saat membaca tulisan yang tertera di sana.
Will You Marry Me? Margaretha Adzakia Affandra
πππ
Eh, Othor juga berbunga-bunga bayangin diromantisin kek gitu ππ
Capek juga nih, tapi masih ada satu bab lagi hari ini dan Othor butuh penyemangat biar makin semangat nulis.
__ADS_1
Bunga, kopi, atau apa pun itu bolehlah dikirim ke Othor, apalagi seblak ππ
Tegangnya udah berkurang ya guys. Waktunya yang manis-manis, meskipun lebih manis Othor tentunya π€