
Margaretha terus ngedumel karena dirinya langsung pergi begitu saja sampai lupa bertanya di ruangan mana Agnes dirawat. Andra pun tersenyum melihat istrinya yang komat-kamit seperti Mbah Dukun lagi baca mantra. Konon katanya, sakitnya karena diguna-guna. Eh salah! malah nyanyi. Margaretha pun tak kehilangan akal, setelah bertanya pada perawat, mereka pun bergegas menuju ke ruangan di mana Agnes dirawat.
Ketika membuka pintu, Margaretha terkejut saat ekor matanya melihat Gatra yang juga berada di dalam sana. Dua orang itu sama-sama sedang tertidur lelap. Bedanya Agnes di brankar, sedangkan Gatra di sofa. Margaretha pun menjadi ragu saat hendak masuk karena khawatir akan mengganggu mereka tidur.
"Kamu mau pulang?" tanya Andra setelah beberapa menit menunggu Margaretha yang hanya berdiri dan menatap Agnes yang masih terlihat sedikit pucat. "Lebih baik sekarang kita pulang saja. Biarkan mereka istirahat. Besok bisa kamu tanyakan semuanya."
"Tapi ...."
"Kalau begitu ikut aku." Andra menarik tangan Margaretha keluar dari ruangan dan menemui dokter yang menangani Agnes. Mereka bertanya banyak hal yang menyangkut tentang kesehatan Agnes. Setelah mendapat penjelasan, barulah Margaretha merasa tenang dan bersedia untuk pulang. Mereka pun kembali ke hotel karena lokasinya yang lebih dekat daripada harus pulang ke rumah Margaretha.
Ternyata, Eldrick menunggu kepulangan mereka. Lelaki paruh baya itu meminta berbicara berdua dengan Andra. Setelah Margaretha masuk, Andra pun segera menuju ke kamar di mana sang ayah menginap. Kedatangan Andra tersebut langsung disambut oleh Eldrick.
"Katakan pada Ayah apa ada sesuatu, Ndra?" tanya Eldrick penuh selidik. Jujur, dia merasa sangat penasaran. Andra tidak menjawab, hanya menghela napas panjang. Andra merasa bingung haruskah dia mengatakan semuanya pada Eldrick atau memilih menyembunyikan saja. "Ndra!" Suara Eldrick sedikit meninggi.
"Aku belum malam pertama, Yah," jawab Andra pada akhirnya. Dia sama sekali tidak bisa berbohong kepada sang ayah.
"Kenapa? Nona Muda datang bulan?" tanya Eldrick lagi. Kali ini suaranya sudah normal seperti biasa.
Andra menggeleng lemah, "Tidak, Yah. Tapi dia trauma karena pernah disentuh Wibisono." Tangan Andra terkepal erat. Gigi-giginya saling bergemerutuk. Seandainya saja dia bisa menemukan Wibisono, mungkin Andra akan membunuh lelaki itu. Membalaskan segala rasa sakit yang Margaretha derita.
"Ayah yakin sebentar lagi dia pasti akan ditemukan. Sabarlah." Eldrick menepuk pundak Andra untuk meredam emosi lelaki itu. "Dekati Nona Muda dengan perlahan. Ayah yakin lama-lama akan luluh."
"Iya, Yah." Andra hanya mengiyakan. Kemudian, mereka mengobrol banyak hal sampai hampir satu jam berlalu, barulah Andra kembali ke kamarnya. Andra berharap semoga saja ketika sampai di kamar, Margaretha sudah terlelap karena dia khawatir tidak bisa mengendalikan diri.
"Untunglah sudah tidur," gumam Andra, bernapas lega. Dia pun segera naik ke tempat tidur dan memeluk Margaretha dari belakang lalu berusaha untuk terlelap.
***
__ADS_1
Jam baru menunjuk pukul enam pagi, tetapi ponsel Margaretha sudah berdering keras hingga membuat pengantin baru yang masih terlelap itu menjadi terkejut. Margaretha mengomel, tanpa melihat siapa yang menghubungi dia langsung menerima panggilan itu.
Margaretha sontak membuka mata lebar saat mendengar lengkingan suara Agnes dari sebrang telepon. Dia bahkan sampai melihat layar untuk memastikan kalau itu memang benar-benar Agnes.
"Astaga, Agnes. Kamu membuatku terkejut." Margaretha mendengkus kasar.
"Ish! Aku ganggu kamu ya? Pasti kamu capek banget. Aku kesepian di rumah sendirian, Etha." Suara Agnes terdengar merengek seperti anak kecil, tetapi Margaretha justru mengerutkan keningnya.
"Di rumah?"
"Iya, aku di rumah. Semalam ada orang baik yang mengantarku pulang. Aku takut mengganggu kamu."
"Kamu yakin sekarang ada di rumah?" tanya Margaretha. Mendes*h kecewa karena ternyata Agnes berbohong padanya. Margaretha pun tak kehabisan akal, dia meminta video call, tetapi Agnes selalu saja menolak.
"Kenapa kamu tidak mau video call, Nes?" Margaretha berusaha memojokkan Agnes agar gadis itu mau jujur.
Belum juga Margaretha berbicara, panggilan itu sudah terputus begitu saja. Margaretha mencebik kesal dan menaruh ponselnya secara kasar.
"Kenapa?" tanya Andra yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Agnes udah bohong sama aku. Dia bilang di rumah padahal sedang di rumah sakit," omel Margaretha. Menarik selimut sampai sebatas dada secara kasar.
"Mungkin dia tidak mau kamu khawatir. Aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama kalau ada di posisi Agnes," ucap Andra berusaha menenangkan hati istrinya. Margaretha pun diam dan dalam hati membenarkan ucapan Andra.
"Lebih baik sekarang tidur lagi, nanti agak siangan aku akan mengantar kamu ke rumah sakit sekaligus aku mau bertemu Mas Gatra."
"Apa kamu punya urusan sama Mas Gatra?" tanya Margaretha penasaran.
__ADS_1
"Iya, Mas Gatra mau buka cabang restoran di kawasan rumah kamu dan aku disuruh mengelolanya. Mungkin aku akan mulai bekerja dua atau tiga hari lagi," terang Andra.
"Jadi, nanti kamu akan sibuk?"
"Tentu. Tapi aku akan usahakan memiliki banyak waktu denganmu. Aku sangat berharap kamu bisa menerima aku yang hanya karyawan biasa di restoran."
"Kalau aku tidak menerima kamu, mana mungkin kita sudah menikah sekarang," ucap Margaretha ketus. Entah mengapa, mendengar ucapan suaminya itu membuat Margaretha menjadi kesal sendiri.
"Jangan jutek gitu." Andra menangkup wajah istrinya lalu menghadapkan ke arahnya.
"Lagian, kenapa kamu mesti kerja? Aku punya rumah dan harta peninggalan mama dan papa," ucap Margaretha. Andra terkekeh saat mendengarnya.
"Dengarkan aku. Meskipun kekayaanmu itu tujuh turunan tujuh tanjakan tidak akan habis. Aku tetap akan menafkahi kamu dari hasil keringatku sendiri. Ya, meskipun aku tidak bisa memberi banyak. Bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan kekayaanmu sekarang. Ingat, saat ini aku adalah suami kamu. Yang wajib memberimu nafkah lahir dan batin. Jadi ... aku sangat berharap kamu bisa menerima hasil jerih payahku meskipun sedikit," tutur Andra panjang lebar.
Mata Margaretha tampak berkaca-kaca. Menangis haru karena tidak menyangka Andra akan berpikiran sedewasa itu. Padahal sebelumnya, Margaretha sudah membayangkan jika hidup bersama Andra pasti akan membosankan menilik bagaimana dulu mereka yang selalu saja bertengkar.
"Makasih, Ndra."
"Tidak perlu berterima kasih."
Mereka berdua saling bertatapan. Andra pun memajukan wajahnya dan hendak meraup bibir Margaretha. Namun, saat kekhawatiran menyergap hatinya akan Margaretha yang trauma, Andra pun memilih mengurungkan niatnya. Memundurkan tubuhnya secara cepat.
"Aku mau mandi dulu. Tidurlah lagi." Andra bergegas turun dan berjalan tergesa menuju ke kamar mandi untuk menidurkan adik kecil yang sebenarnya sudah berdiri sejak tadi. Sementara Margaretha hanya bisa menatap kecewa ternyata Andra tidak menciumnya.
Apa karena aku belum gosok gigi?
Margaretha mendesahkan napas di telapak tangan lalu menciumnya. Beberapa detik selanjutnya gadis itu mengernyit sembari mengibaskan tangan di depan wajah.
__ADS_1
"Oh astaga. Pantesan Andra langsung kabur. Ternyata bau iler." Margaretha terkekeh sendiri.