Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
26


__ADS_3

Melihat pintu yang terbuka lebar dan Margaretha tampak mengintip dari baliknya, senyum Agnes pun merekah sempurna. Gadis itu tampak sangat bahagia. Berbeda dengan Margaretha yang menatap tidak tega. Membayangkan reaksi Agnes jika gadis itu tahu kalau papanya saat ini sudah ditangkap polisi.


"Kupikir papaku yang datang." Agnes sedikit mendes*hkan napasnya ke udara. Ada kekecewaan yang tampak dari gadis itu. Margaretha berusaha untuk tersenyum dan duduk di samping Brankar.


"Bukan. Oh iya, Nes. Mulai sekarang aku yang akan menemani kamu di sini sampai sembuh."


"Kenapa begitu?" tanya Agnes heran. Menatap Margaretha dengan tatapan yang begitu menuntut jawaban.


"Emm ...." Margaretha bimbang alasan apa yang akan diberikan kepada Agnes agar bisa masuk di akal.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Agnes menyela. Tidak sabar menunggu jawaban Margaretha.


"Emm ... Papamu bilang dia sedang ke luar kota karena ada urusan yang sangat penting. Dia berjanji akan segera pulang kalau urusan itu sudah selesai," ucap Margaretha setengah gugup. Dia khawatir Agnes akan menyadari kebohongannya.


"Baiklah kalau begitu. Besok pagi aku ingin kamu menemaniku jalan-jalan." Agnes tersenyum dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Meskipun merasa sedikit curiga, tetapi Margaretha mengembuskan napas lega karena Agnes tidak bertanya apa pun lagi.


Margaretha pun menemani Agnes mengobrol sampai cukup lama. Setelah hampir dua jam, dia pun berpamitan untuk mengambil baju ganti dan berjanji akan kembali datang lagi untuk menemani. Agnes pun hanya mengiyakan.


Selepas kepergian Margaretha, beberapa kali Agnes menghela napas panjangnya dan mengembuskan secara cepat. Entah mengapa, Agnes merasa yakin kalau sesuatu telah terjadi terhadap papanya.


"Apa mungkin papa sudah tertangkap polisi? Kalau belum, pasti papa akan meneleponku dan tidak mungkin meninggalkanku sendirian." Agnes bergumam lirih. Air mata tanpa sadar mengalir dari kedua pelupuk matanya. Namun, dengan segera Agnes mengusapnya. Khawatir ada orang yang tiba-tiba masuk dan melihat dirinya menangis. Mulai saat ini, Agnes akan belajar menjadi gadis yang lebih kuat meskipun dia merasa tidak yakin.

__ADS_1


***


"Bagaimana, Ndra? Apa sudah lebih baik?" tanya Patricia yang baru masuk ke ruangan di mana Andra menjalani perawatan.


"Ya. Hanya sedikit nyeri." Andra menurunkan lengan bajunya agar menutup bekas tembakan yang masih terbalut perban tersebut.


"Banyaklah istirahat agar lukamu lekas sembuh." Patricia menepuk bahu Andra secara perlahan.


"Ya. Tapi aku masih belum puas rasanya melihat lelaki itu berhasil kabur. Aku belum membalas rasa sakitku karena dia sudah melecehkan Margaretha." Tangan Andra terkepal erat. Patricia yang melihat itu pun hanya menghela napas panjang.


"Aku yakin suatu saat lelaki itu pasti ketemu. Lebih baik sekarang fokuslah pada kesehatanmu. Lagi pula, si tua brengsek itu sudah berhasil ditangkap," ucap Patricia.


"Kamu benar. Setidaknya dalang dari semuanya sudah tertangkap. Patrick, kuharap kamu tidak bilang pada Margaretha kalau aku sedang terluka seperti ini. Aku tidak mau dia khawatir," ujar Andra lirih.


"Kamu jangan mulai menyebalkan!" cebik Andra membalas ucapan Patricia diiringi decakan.


"Aku hanya bicara sesuai kenyataan saja. Ndra, gimana? Kamu jadi menikah dengan Margaretha?" tanya Patricia, seketika membungkam mulut Andra. Patricia terus menatap Andra yang mendadak diam seribu bahasa. Sampai tiba-tiba Andra tersentak saat sebuah tepukan cukup kencang mengenai pundaknya hingga lengan yang terluka terasa sedikit nyeri.


"Sakit, Patrick!" Andra tampak kesal dan seperti hendak merem*s wajah sahabatnya itu.


"Kamu ditanya diam aja, udah kayak orang bisu!" sarkas Patricia.

__ADS_1


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku sudah yakin akan menikahi Margaretha, tapi jujur aku masih merasa ragu." Andra mendes*h kasar saat hatinya merasa bimbang saat ini.


"Apalagi yang kamu ragukan, Ndra?" Patricia bersidekap untuk menunjukkan kekesalannya.


"Aku ngerasa tidak pantas aja. Sebentar lagi, seluruh kekayaan yang berhak dimiliki Margaretha akan kembali. Dia akan menjadi nona muda, sedangkan aku? Hahaha bukankah kamu tahu, Patrick! Aku hanyalah seorang pengangguran." Andra tergelak. Menertawakan dirinya sendiri. Namun, itu hanya sesaat karena dia langsung terdiam saat Patricia menonyor kepalanya cukup kencang.


"Pengangguran gundulmu!" Patricia tampak kesal sendiri.


"Astaga! Di mana Kenzi? Biar aku adukan betapa bar-bar calon istrinya," ucap Andra setengah menggoda.


"Adukan saja! Aku tidak takut!" ucap Patricia menantang. Andra seolah hendak beranjak pergi untuk menggoda Patricia, tetapi langsung ditahan oleh gadis itu.


"Daripada kamu bikin masalah, lebih baik sekarang aku bantu siapkan pesta pernikahan," kata Patricia. Andra menatap heran ke arah Patricia hingga keningnya terlihat mengerut dalam.


"Pesta pernikahan untuk siapa?" tanya Andra.


"Astaga. Jangan bilang kamu tetap jadi orang bodoh soal cinta, Ndra! Bukankah kamu bilang akan menikahi Margaretha. Jangan sampai kejadian kemarin terulang. Kali ini, aku akan bantu siapkan pesta yang megah untuk kalian." Patricia terlihat bersemangat sekali.


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu tinggal terima beres dan kuharap kamu bisa hidup bahagia bersama Margaretha," ucap Patricia penuh harap.

__ADS_1


Andra pun tidak bisa menolak lagi dan hanya mengiyakan keinginan sahabatnya. Dia berharap semoga Margaretha benar-benar bisa menerimanya.


Akan aku buktikan kepadamu kalau aku pantas bersanding denganmu, Mar.


__ADS_2