Kisah Margaretha

Kisah Margaretha
38


__ADS_3

Margaretha ingin sekali bertemu dengan para sahabatnya. Rasanya sudah sangat merindukan mereka. Akan tetapi, dia tidak mungkin meninggalkan Agnes sendirian karena saat ini hanya dirinya yang Agnes miliki. Margaretha tidak mungkin sekejam itu meninggalkannya.


Andra belum juga kembali. Sejak sarapan tadi pagi, Andra langsung meminta izin kepada Margaretha untuk pergi bersama Gatra ke lokasi cabang Restoran Gama berada. Margaretha pun hanya mengiyakan. Meskipun pada akhirnya dirinya saat ini gelisah karena memikirkan Andra.


"Kamu tidak pulang, Etha?" tanya Agnes. Dia melirik jam yang sudah menunjuk pukul empat sore. Margaretha menggeleng lemah.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian." Margaretha menjawab disertai senyum. Dia tidak ingin sampai Agnes merasa tidak enak hati padanya. Namun, Agnes tetap saja merasa bersalah. Gadis itu mendes*hkan napas ke udara secara cepat.


"Maafkan aku, Etha. Seharusnya saat ini kamu sedang menikmati waktu berdua dengan suami barumu. Seharusnya saat ini kalian sedang bersenang-senang, tapi kamu justru harus di sini menungguku," ucap Agnes lirih. Margaretha menatap lekat gadis itu.


"Tidak masalah, Nes. Bagiku sekarang, kesehatanmu lebih penting." Margaretha duduk di samping Agnes dan mengusap wajah gadis itu secara lembut.


"Kapan aku bisa berhenti menjadi beban untuk orang lain? Sejak kecil aku selalu saja merepotkan siapa pun. Aku benar-benar manusia yang tidak berguna sama sekali," rutuk Agnes. Memejamkan mata saat merasakan cairan bening hendak memaksa keluar dari sana.


"Jangan berbicara seperti itu. Kamu bukan menjadi beban untuk orang lain," timpal Margaretha. Berusaha menenangkan hati Agnes. Margaretha tidak ingin kalau sampai tubuh Agnes kembali drop.


"Etha, kenapa Tuhan menakdirkan manusia lahir hanya untuk menjadi beban untuk orang lain? Sejak kecil aku selalu saja merepotkan. Mungkin itu juga yang membuat Mama Anjani meninggalkan aku sendirian." Agnes menghirup napas dalam saat mulai merasa sedikit sesak.


"Lebih baik sekarang kamu tidur dan jangan berbicara macam-macam. Aku yakin mama pergi bukan karena kamu sakit-sakitan, tapi mungkin karena ada sesuatu dengan papamu yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun." Margaretha mengusap air mata Agnes yang sudah menetes. Dengan cepat, Agnes menyingkirkan tangan Margaretha. Dia tidak ingin dicap sebagai wanita lemah. Meskipun Agnes menyadari kalau dirinya memang wanita lemah.


"Etha ...."

__ADS_1


"Diamlah, Nes! Atau aku akan meninggalkanmu sendirian!" ancam Margaretha karena tidak ingin Agnes makin berbicara ngelantur. Sungguh, Margaretha sangat khawatir pada kesehatan gadis itu. Namun, Margaretha tertegun saat mendengar isakan Agnes yang terdengar jelas di ruangan tersebut yang sangat sunyi. Margaretha pun segera bangkit dari duduk untuk memastikan.


"Kenapa kamu menangis, Nes?" tanya Margaretha menuntut jawaban. Agnes tidak menjawab, hanya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Margaretha pun berusaha membuka tangkupan tangan itu, tetapi Agnes menahan sekuat tenaga. "Katakan padaku kenapa kamu menangis, Nes."


"Pergilah, Etha. Bukankah kamu bilang akan meninggalkanku sendirian? Pergilah. Aku memang tidak pantas memiliki siapa pun. Aku ini memang sangat merepotkan." Agnes berbicara sambil menutup wajahnya.


Margaretha menghirup napas dalam untuk meredam emosi agar tidak naik ke ubun-ubun dan khawatirnya akan meledak karena tidak mampu mengendalikan diri.


"Aku tadi hanya mengancam saja. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian." Margaretha berbicara sembari menghela napas berkali-kali.


"Bohong! Kamu pasti akan meninggalkanku sendirian. Apalagi saat ini kamu sudah memiliki suami. Kamu pasti akan sibuk—"


"Kalau kamu terus berbicara maka aku benar-benar akan meninggalkanmu." Margaretha mulai kehilangan kesabaran. Dia berpura-pura hendak pergi, dan benar saja, Agnes segera membuka kedua telapak tangannya dan langsung melihat Margaretha yang sedang berdiri sembari menahan kekesalan.


"Aku harus pergi, sebentar saja."


"Hiksss!! Jangan pergi, Etha. Aku janji akan jadi anak baik."


"Aku hanya pergi sebentar untuk beli sesuatu."


"Memangnya kamu mau beli apa?" tanya Agnes penasaran.

__ADS_1


"Ice cream." Margaretha menjawab malas dan sudah bersiap dengan respon Agnes yang begitu bungah. Gadis yang barusan menangis itu kini tersenyum lebar sembari bertepuk tangan.


"Aku mau satu box rasa coklat, sama Boba rasa vanila. Jangan pakai es." Agnes memesan tanpa diminta. Bahkan, gadis itu sampai melupakan kalau dirinya satu menit yang lalu masih menangis.


"Baiklah. Tunggu sebentar lagi." Margaretha berjalan menuju ke sofa dan memainkan ponselnya di sana. Melihat Margaretha yang justru duduk, Agnes pun menatap terheran-heran.


"Katanya mau beli, tapi kenapa kamu justru duduk?" Agnes bersidekap untuk menunjukkan kekesalan.


"Biar suamiku yang beli." Margaretha menjawab sembari fokus pada layar ponselnya.


"Ciee, yang udah punya suami. Aku kapan?"


"Kapan-kapan," jawab Margaretha asal. Agnes mencebik, tetapi Margaretha tidak peduli dan tetap sibuk mengetik pesan untuk Andra.


"Etha, mantan bos kamu yang punya restoran itu apa dia sudah punya istri?" tanya Agnes ragu. Margaretha segera mengalihkan pandangannya karena tak percaya mendengar pertanyaan Agnes.


"Kenapa memangnya? Kamu naksir sama Mas Gatra?" tanya Margaretha penuh selidik.


"Ti-tidak," bantah Agnes cepat. Namun, wajahnya yang tampak gugup membuat Margaretha makin curiga. "Lihat itu suami kamu datang," ucap Agnes setengah berteriak. Margaretha pun segera menoleh ke arah pintu, tetapi dia tidak melihat siapa pun di sana. Margaretha terlihat kesal karena sudah dijahili oleh Agnes.


"Awas kamu, Nes! Aku jodohin kamu sama Mas Gatra," ancam Margaretha. Namun, Agnes justru terkekeh.

__ADS_1


"Biarlah itu menjadi urusan Akak Othor, Etha."


"Hmmm." Margaretha pun memilih kembali fokus pada ponsel sebelum tensinya makin naik menghadapi kakaknya yang seperti bocah itu.


__ADS_2