
"Kembalikan ponselku, Etha!" Agnes berusaha merebut ponsel itu, tetapi Margaretha justru mengangkat tinggi agar Agnes tidak bisa menjangkaunya. "Etha ...."
"Sebentar. Biar aku yang menerima panggilan ini. Aku benar-benar penasaran."
"Jangan! Aku mohon jangan, Etha." Agnes melarang sembari memasang wajah memelas. Namun, Margaretha tidak peduli. Dia tetap akan menerima panggilan itu untuk menjawab rasa penasaran, tetapi sayangnya dering ponsel tersebut telah berhenti bahkan sebelum Margaretha menekan ikon hijau.
"Yah ... udah mati, Nes." Margaretha mendudukkan tubuhnya secara lemas sembari memasang wajah setengah meledek. Agnes rasanya sangat kesal dan langsung merebut ponsel miliknya.
"Etha, kenapa kamu sangat menyebalkan." Agnes ngedumel sembari menekan-nekan layar ponsel untuk mengirim pesan kepada Gatra.
"Aku penasaran. Bagaimana bisa kamu memiliki nomor ponsel Mas Gatra," kata Margaretha.
"Bukan urusan kamu," sahut Agnes ketus. Namun, gadis itu tidak benar-benar marah meskipun nada bicaranya terdengar penuh kekesalan.
"Ehem!" Rasya berdeham dan memberi kode pada Margaretha. Zety yang melihat itu pun hanya tersenyum pias. Entah mengapa, Zety merasa tidak nyaman saat menganggap kode tersebut sebagai perhatian Rasya kepada Gatra. Namun, di detik selanjutnya Zety menepuk keningnya sendiri untuk menyadarkan diri kalau dia telah salah. Tidak sepatutnya dia memikirkan Gatra apalagi sekarang dirinya sudah memiliki Kiano, lelaki yang sangat menyayanginya.
"Nes, katakan padaku sejujurnya, ada hubungan apa kamu dengan Mas Gatra?" Margaretha menangkup dagu Agnes agar menghadap ke arahnya karena gadis itu sama sekali tidak terusik saat sedang mengetik pesan. Saking fokusnya sampai membuat kedua alisnya saling bertautan dan bibir maju beberapa centi.
"Tidak ada apa-apa. Aku saja tidak tahu kalau ada nomor lelaki itu di ponselku," kilah Agnes. Berusaha berpaling dari Margaretha, tetapi segera ditahan. Agnes pun memejamkan mata karena tidak mau bertukar tatapan dengan Margaretha. Yang ada, dirinya akan ketahuan.
"Kenapa kamu selalu berbohong? Apa kamu sangat suka berteman dengan setan?" sarkas Margaretha. Mencebik kesal, sedangkan ketiga sahabatnya hanya menjadi penonton dan pendengar setia. Biarlah kakak-adik itu menyelesaikan perdebatan itu.
"Iihh, Etha! Aku 'kan tidak punya teman," ucap Agnes setengah merengek. Margaretha menurunkan tangannya sembari mengembuskan napas kasar.
"Baiklah kalau kamu tidak ingin berkata sejujurnya maka aku akan pergi dari sini," ancam Margaretha. Dia hendak turun dari ranjang, tetapi Agnes dengan gerakan cepat menahannya.
"Jangan pergi," pinta Agnes. Namun, Margaretha tidak berbicara apa pun dan tetap memaksa turun dari ranjang. "Baiklah, aku akan katakan semuanya."
Mendengar ucapan Agne itu, Margaretha pun akhirnya kembali duduk dan menatap Agnes begitu menuntut. Agnes pun menaruh ponsel dan menghirup napasnya secara dalam.
__ADS_1
"Sebenarnya aku minta nomor dia kemarin, soalnya aku pengen kerja dan Mas Gatra bilang di restoran miliknya sedang butuh karyawan," ucap Agnes lirih. Kepalanya menunduk dalam karena takut Margaretha akan marah padanya.
"Untuk apa kamu bekerja, Nes? Uang yang ditinggalkan oleh papa mamaku masih cukup untuk makan kita, aku juga yakin kalau harta milik papamu masih ada banyak dan itu akan menjadi hak kamu nantinya." Margaretha pun ikut berbicara lirih. Entah mengapa, mendengar Agnes hendak bekerja membuat Margaretha merasa tidak tega kepada gadis itu.
"Tapi aku tidak mau bergantung pada siapa pun terus, Etha. Aku juga ingin belajar jadi gadis dewasa, syukur-syukur jadi wanita karir yang sukses karena usaha aku sendiri," lanjut Agnes. Mereka berempat pun hanya diam. Ada desiran yang mereka rasakan dalam hati.
"Tapi ...."
"Etha, kamu sekarang sudah memiliki suami dan hiduplah berumahtangga yang baik. Jangan terlalu memikirkan aku." Agnes berbicara lembut sembari tersenyum lebar. Berusaha menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Kalau kamu lelah, jangan dipaksa. Kamu harus janji bisa menjaga kesehatan kamu," nasehat Margaretha.
"Astaga. Kenapa kamu cerewet sekali. Baiklah aku pasti akan menjaga diriku dengan sangat baik. Kamu juga, aku tunggu keponakan yang lucu untukku." Agnes berbicara setengah merengek seperti anak kecil.
"Astaga, aku heran sama kamu, Nes. Terkadang kamu kayak bocah, tapi kadang bisa mikir dewasa."Margaretha menggeleng apalagi saat melihat senyuman Agnes yang merasa bangga mendapat pujian seperti itu.
"Sekarang kita bukan berempat lagi," ucap Rasya mengalihkan perhatian kedua wanita itu.
"Berlima." Rasya menunjukkan telapak tangan kanannya yang terbuka lebar. "Empat Somplak Lima Somplak Sempurna. Haha."
"Astaga. Kurapp!!" pekik ketiga sahabat Rasya, sedangkan Agnes hanya plonga-plongo karena dia belum tahu apa maksudnya. Mendengar pekikan sahabatnya pun Rasya langsung tergelak keras. Namun, hanya sesaat karena dia harus beranjak bangkit dan menimang Baby Bisul yang terbangun mendengar teriakan si Somplak itu. Tangisan Baby Bisul seketika memenuhi kamar tersebut.
"Ish! Gara-gara kalian bayi gue jadi nangis 'kan!" Rasya memasang wajah kesal. Pasalnya, bayi itu jika terganggu maka akan menangis keras dan susah untuk ditidurkan lagi.
"Sini, biar gue yang nenangin Baby Bisul," kata Zety. Meraih bayi itu dan menggendongnya penuh kasih sayang. Tangisan Baby Bisul yang semula kencang pun kini mereda perlahan. Bahkan, bayi itu mulai tertidur lelap.
"Eh, kok diem? Ajaib! Sama elu langsung diem, Suk?" Rasya menatap heran.
"Pasti, dong!" Zety menaik-turunkan alisnya sembari tertawa sombong. "Zety Kirania gitu."
__ADS_1
"Mungkin karena masih bau kembang manten. Suketi 'kan masih manten baru," ucap Margaretha.
"Lu malah lebih baru, Mar." Zahra yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara lagi.
"Lu kenapa sejak tadi diem mulu, Zae? Sariawan?" tanya Rasya terheran. Apalagi saat melihat raut wajah Zahra yang tampak muram.
"Kagak. Gue laper dan haus. Sejak berkunjung di sini. Belum juga disuguhi apa pun. Tuan rumahnya pelit banget," sindir Zahra. Margaretha yang mendengar sindiran itu pun hanya terkekeh. Lalu keluar kamar untuk mengambilkan minum dan makanan ringan sendiri karena Margaretha belum memiliki satu orang pelayan pun.
Ketika sampai di dapur, Margaretha langsung membuat lima gelas teh panas. Namun, dia terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang. Margaretha pun berbalik dan langsung memukul dengan nampan yang tergeletak di dekat tangannya tanpa melihat siapa yang sedang memeluknya saat ini.
"Berani sekali kurang ajar padaku!"
"Sakit, astaga."
Margaretha terkejut saat mendengar Andra yang mengaduh kesakitan sembari mengusap kepala. Margaretha yang awalnya melongo pun pada akhirnya tergelak, bukannya meminta maaf.
"Rasain! Suruh siapa bikin kaget," ucap Margaretha. Kembali menaruh nampan di tempat semula. Namun, lagi-lagi dia dikejutkan oleh Andra yang langsung memojokkan tubuhnya hingga Margaretha bersandar meja. Kedua tangan Andra berada di kedua sisi samping tubuh Margaretha untuk menahan agar tidak kabur.
"Kamu berani padaku, hm?"
🤪🤪🤪🤪
Jangan lupa selalu tinggalkan like dan komen.
waktunya ngasih vote guys 😘
lanjut, gak?
lanjut, gak?
__ADS_1
lanjut, lah! masa enggak?
wkwkwkwk