
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
...Siang melewati malam. Musim dingin berganti menjadi musim semi. Dengan setiap perputaran bumi, siang menjadi sedikit lebih panjang daripada malam hari. Alam semesta terus beredar....
...Awal musim semi yang indah. Bunga-bunga bermekaran, burung-burung berkicauan, udara dan sinar matahari hangat di hari yang sempurna....
...Saat seperti itu, suara jangkrik yang terdengar seperti hujan deras pun sejenak berhenti....
...Dalam kesunyian yang tiba-tiba hadir, aku menyadari betapa indah dunia ini....
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
24 MARET
"Omma, nara keluar dulu ya."
"Ne, jangan pulang larut malam."
"Ne omma arasso."
...Sebuah lapangan dengan bentangan rumput hijau yang mengelilinginya. Ditumbuhi juga dengan dua buah pohon Angsana besar yang menyatu dan terlihat tidak dapat dipisahkan....
...Di situlah tempat favoritku. Tempat favoritku untuk mencurahkan isi hati, senang ataupun sedih yang pernah kurasa....
...Aku tak tahu nama sebenarnya dari lapangan itu apa? Tapi yang pasti, aku menamainya dengan lapangan perasaan. Jika diputar kembali kapan aku menemukan lapangan itu, yaitu saat aku masih menduduki bangku SMP....
...Ya, saat itu di awal musim gugur. Pikiranku, perasaanku, hatiku, sedang benar-benar kacau-balau. Karena suatu masalah yang tidak dapat kujelaskan di cerita ini, ataupun cerita lainnya....
...Di saat diriku sedang dalam masa dimana sangat terpuruknya, ingin menghirup udara segar, itulah yang kurasa....
...Ku kayuhlah sepedaku, terus bersepeda, lurus kedepan dengan pikiran yang kosong. Pada akhirnya, kakiku terhenti untuk mengayuh sepeda. Tidak tahu hari itu sebuah kebetulan atau takdir, aku menemukan lapangan....
...Lapangan yang saat itu masih berwarna orange sedikit cokelat dan kemerah-merahan. Itu pula disebabkan oleh musim. Yang saat itu sedang menginjak musim gugur....
...Setelah penemuan lapangan yang sampai kini masih kunamakan dengan lapangan perasaan, aku jadi lebih sering berkunjung, dengan tidak lupa pula mengajak kimi dan memperkenalkan lapangan perasaan....
...Hampir setiap masa yang kami lewati selama kurang lebih 3 tahun lamanya, ditemani oleh lapangan perasaan....
...Dan kini aku rindu dengan saat-saat itu. Saat dimana aku masih dapat melihat lapangan perasaan itu, saat dimana aku dapat melewati hari dengan kimi....
Drett...drett...(suara handphone).
"Hadeuh...siapa yang telepon sih? Ganggu orang lagi menyendiri aja." Ucapku kesal.
Drett...drett...
"Sabarr..."
Akupun langsung mengambil handphone yang berada disamping kepalaku tadi.
"Oppa? Iiih, nyusahin banget."
Nara:
Yeoboseyo oppa, wae?📱
Kanglim:
Nara dimana?📱
Nara:
Emang kenapa? Kalau nara kasih tau juga oppa nggak bakalan tau nara dimana📱
Kayak tahu nama lapangan perasaan aja. Batinku.
Kanglim:
Aish...nara bisa ke tempat oppa nggak?📱
Nara:
Emang oppa dimana? Ada apa? Kenapa?📱
Kanglim:
__ADS_1
Oppa ada di...📱
Nara:
Dimana oppa? Ini emangnya kenapa sih?📱
Kanglim:
Oke, oppa kasih tau tempatnya, tapi janji nara nggak akan kasih tau omma sama appa📱
Nara:
Heuh...oke, fine📱
Kanglim:
Oppa ada di Emperor Club...📱
Nara:
MWO!? OPPA NGAPAIN DISANA? ITU KAN...📱
Kanglim:
Mianhaeyo, oppa diajak temen-temen📱
Nara:
Terus, nara harus ngapain disana?📱
Kanglim:
Disini itu ada juna, oppa lihat juna yang lagi minum banyak banget, terus sekarang nggak sadarin diri📱
Nara:
Mwo!? Tapi kok juna bisa ada disana?📱
Kanglim:
Nara:
Ne oppa, arasso📱
Tut...(sambungan terputus).
"Taxi dimana ya?"
"Ah, TAXI!" Teriakku melihat satu taxi yang sedang melintas.
"Ajossi, tolong antarkan saya ke Emperor Club."
"Ne, arasseumnida."
***
EMPEROR CLUB...
Akupun langsung berlari dan masuk.
Dup...dap...dup...dap...dup...dap...
(suara musik yang menggema di ruangan itu).
Wanita-wanita menari dengan menggunakan pakaian yang sangat sexy.
"Oppa dimana?"
"Nara!" Panggil seseorang.
Aku yang mendengar panggilan itupun menoleh, dan itu adalah oppa hwa-shin.
"Oppa hwa-shin?"
"Sini, juna ada didalam." Ucap hwa-shin.
__ADS_1
"Ne."
Aku mengikuti oppa hwa-shin dari belakang, dan mulai menjauh dari keramaian musik dan orang-orang disana.
"Juna!?" Ucapku sangat syok.
Aku menghampiri juna yang tergeletak diatas sofa dengan keadaan kumal.
"Oppa, juna kenapa?😢🥺"
"Oppa juga nggak tau, tadi oppa kesini karena udah pesan tempat, eh malah ketemu juna yang udah habisin hampir dua botol minuman🍾🍾"
"Hiks...hiks...oppa...😭😭" Seketika tangisku pun pecah.
"Udah-udah, mungkin juna lagi ada masalah. Kita bawa dia kerumah aja ya."
"M-masalah?"
"Ya, mungkin ada sesuatu, jadi untuk menenangkan diri, dia kesini. Dari pada lama, ayo kita bawa kerumah."
"Hiks...r-rumah..s-siapa?"
"Nara emang nggak tahu rumah juna dimana?"
"Hiks...n-nggak.."
"Heuh...kalau gitu, bawa kerumah aja."
"T-tapi omma sama a-appa gimana?"
"Udah, ntar kita pikirin."
"Bro, bantu saya bawa ni anak." Perintah oppa.
"Hm."
"Ayo oppa, palli."
"Emm, ne."
DI KAMAR NARA...
"Udah dong ra, besok juga juna bakalan bangun." Ucap omma.
"Keunde omma, nara museowo🥺"
"Ya udah, kamu temenin aja juna sampai sadar. Tapi kamu juga jangan lupa tidur." Pinta appa padaku.
"Ne appa, gomawo."
Lalu semua orang keluar, kini hanya juna yang terbaring diatas kasur dan aku yang sedang memandangi wajah juna.
"J-juna, nara museowo. Cepet b-bangun dong🥺"
"J-juna ada masalah a-apa? Cerita dong, sama nara."
"Hiks...🤧"
DI RUANG TAMU...
"Kok juna bisa seperti itu? Ada apa ini kanglim?" Tanya ji-kyung.
"Mianhae appa, kanglim juga nggak tahu."
"Terus, kamu temuin juna itu dimana? Dia kan habis minum, atau jangan-jangan kalian berniat untuk minum juga?" Ucap mora yang mulai curiga.
"Nggak gitu ma, tadi itu c-cuma..."
"Kali ini appa maafkan apapun alasan kamu, tapi lain kali, jangan harap. Kalian juga, ingat!"
"Ne abeoji." Jawab mereka bertiga serempak. Yang tak lain adalah yeong-bin, hwa-shin, dan eun-woo.
...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1
@flooobie