
12 APRIL
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
...Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian itu. Tapi hatiku masih terasa sama, tidak ada yang berubah selama tiga hari terakhir ini....
...Tidak bersekolah, tidak pernah keluar dari kamar, dan tidak ada kabar. Selama tiga hari terakhir, aku mengurung diri, tidak ingin membiarkan orang lain mengetahui penderitaan ini....
...Mencoba menutup diriku untuk sementara waktu, sampai aku benar-benar ingin membuka diriku kembali....
...Kakiku tidak membiarkan tubuhku beranjak satu senti pun dari kamar. Akhir-akhir ini, aku sangat menderita....
Apakah ini rasanya patah hati?
Sangat sakit, sampai aku tidak dapat menahan rasa sakit ini.
Ternyata sesakit ini ya rasanya patah hati?
...Rasanya seperti aku terkunci jauh di dalam realitas mimpi. Seseorang datanglah dan selamatkan aku, tolong. Kuembuskan napas lelah karena ini memang hari yang melelahkan....
Aku rasa semua orang sedang bahagia.
Bisakah mereka melihatku sekarang?
Karena kini aku abu-abu.
Tawaku bersembunyi dalam warna abu-abu.
...Sebuah arti dari air mata yang terpantul di cermin. Seandainya jika air mataku dapat dihitung, pasti butuh waktu yang sangat lama....
..."Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, itu terlalu menyakitkan."...
...Kurasa bagi kalian, mungkin terdengar alay dan lebay bagi orang yang belum merasakan sakitnya patah hati....
...Semoga saja kalian tidak merasakannya. Ini sungguh sakit. Sangat sakit....
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
Tok...tok...tok...
"Ra, waktunya makan! Ni oppa udah bawain cemilan!" Ucap kanglim.
Nara pun membuka pintu kamarnya. Ya, ia tak pernah melewatkan sedikitpun waktu makan. Dan matanya terlihat sangat bengkak, mungkin karena terus saja mengalir air mata.
"Mata nara bengkak banget. Udahlah, nggak usah kayak gitu, oppa jadi nggak tega lihatnya." Ucap kanglim mengelus pipi nara.
"Udahlah oppa, segimana pun menghibur hati orang yang lagi patah hati, itu bakalan susah. Oppa nggak bakalan bisa."
"Nara masuk dulu, gomawo makanannya." Sambung nara yang langsung menutup pintu kamarnya.
"Buset dah, tu anak kok jadi gila banget, kayak kehilangan separuh jiwa dalam hidupnya aja."
"Juna emang segitu berharganya ya, ampai kayak begini? Syukur aja omma sama appa lagi di luar kota."
Kanglim pergi dari depan kamar nara. Sungguh adiknya benar-benar kehilangan akal sehat saat patah hati seperti ini.
Ia tak pernah melihat nara segitu dramatisnya menangisi seseorang. Saat yunmi pergi ke LA pun, nara tidak begitu gilanya. Dia hanya kehilangan ***** makan dan kurang candaan juga senyuman.
Sedangkan ini? Sungguh terlaaaluuuu...
Mending sekolah, bosen lihat nara begitu mulu. Batin kanglim.
Bestie Ra♡:
Kim, aku lagi patah hati banget akhir-akhir ini. Bener-bener nggak bisa lupain juna😭
Bestie Kimi♡:
Kamu masih belum bisa move on? Ini kan udah beberapa hari raaaa
Bestie Ra♡:
Iya kim, sesakit ini ya rasanya patah hati?
Bestie Kimi♡:
Iya ra, aki dulu juga pernah ada di posisi kamu, dan itu benar-benar sakit. Tapi kamu harus coba move on dari juna, aku tau kamu bisa😊 HWAITING!
Bestie Ra♡:
Komawoyo kimi, kamu selalu menyemangatiku selama ini, jadi kangen dehh
Bestie Kimi♡:
__ADS_1
Aku juga kangen sama kamu ra
***
DI SEKOLAH...
"Han, aku kangen sama naraaaa😫😫😫" Rengek jimmy.
"Aku juga sama shim, aku kangen. Tapi mau gimana? Naranya aja lagi belum mau sekolah, itu semua kan sesuai keputusan nara shim."
"Tapi kan han, kalau berdua gini itu kurang seruu."
"Eh, apa aku tanya juna aja kali ya? Siapa tahu dia tahu nara dimana dan lagi apa." Sambung jimmy.
"Terserah."
Jimmy langsung bangkit dari duduknya, dan menuju ke ruang osis.
Sesampainya disana, ia hanya melihat beberapa orang.
"Cari eun-woo shim?" Tanya do-ryu.
"Bukan."
"Terus?"
"Lagi cari juna, ada hal penting yang mau aku tanya sama dia. Ini itu tentang nara."
"Owh."
"Kamu lihat nggak?"
"Mungkin di perpus."
Hadeuh...kenapa harus di sana sih? Kan perpustakaan luas, gimana juna mau cepet ketemu coba? Batin jimmy.
"Do ryuuu, boleh minta tolong nggak?🙁😟" Ucap jimmy sok imut.
"Mulai lagi nih🥱"
"🥺😟🙁"
"Oke-oke, mau minta tolong apa? Tapi jangan yang aneh-aneh."
"Heuh...emm, aku teleponin juna sekarang." Ucap do-ryu yang langsung mengambil handphone-nya dari saku.
Do-ryu:
Juna, kamu dimana?📱
Juna:
*L*agi di roof top, wae?📱
Do-ryu:
Boleh ke ruang osis nggak? Di sini ada hal yang mendesak, cepetan ya📱
Tut...(sambungan terputus).
"Puas? Sekarang tinggal tunggu aja, juna bakalan dateng."
"Komawoyo do-ryuuu."
"Emang juna bakalan dateng?" Tanya jimmy yang memastikan, karena ia takut telah lama menunggu dan membuang semua waktunya untuk juna, tetapi ia tidak datang. Kan lucu.
"Nggak tahu, tunggu aja napa."
"Iya-iya, cerewet banget deh☹"
Tidak lama kemudian juna pun datang.
"Oh, jadi ini urusan mendesaknya😒" Ucap juna melirik ke arah jimmy.
"I-iya😄 mianhae juna, dia yang maksa teleponin kamu." Ucap do-ryu gugup.
"Terus, dia ada keperluan apa?🤨" Tanya juna.
"Jadi gini, beberapa hari ini itu kan nara nggak pernah masuk sekolah, aki mau tanya, siapa tahu kan kamu tahu nara itu ada masalah apa. Emangnya nara tuh sebenernya kenapa sih? Terus sekarang dia lagi dimana?" Tanya jimmy panjang lebar.
"Nggak tahu."
"Beneran nggak tahu sedikitpun gitu tentang nara?"
__ADS_1
"Emm. Lebih baik kamu pergi, cari sahabatmu di luar, jangan cari dan tanya ke aku. Karena aku juga nggak tahu😒"
Aish...jutek banget deh jadi cowok, syukur aku nggak pernah suka sama dia. Kasian nara yang menyukaimu. Batin jimmy.
Jimmy pergi meninggalkan ruang osis tesebut.
"Juna, memang nara kenapa?" Tanya do-ryu.
"Nggak tahu, kan udah dibilang tadi."
"Hehe😅 minhae."
Sebenarnya, juna sangat khawatir belakangan ini terhadap nara. Ia juga jadi lebih sering berkunjung ke lapangan perasaan. Karena juna ingat perkataan nara, jika dia mempunyai masalah atau apapun itu, nara tentu akan mencurahkannya ke lapangan perasaan.
Tetapi, nara tidak pernah terlihat. Maka dari itu, juna sangat khawatir.
Juna mulai merebahkan tubuhnya di sofa ruang osis. Ia sungguh lelah hari ini. Biasanya, saat juna seperti ini, selalu ada nara yang menghiburnya, menggodanya, bahkan menemaninya sampai mood juna kembali stabil.
Sedangkan sekarang?
Tidak ada lagi.
Aku merindukanmu nara, sebenarnya kamu kenapa? Batin juna.
"Woy, kamu kenapa? Buset, kok kesepian gini." Ucap yeong-bin melemparkan almamaternya ke arah juna.
"Ish.." Juna melemparkan balik.
"Diemin aja lah, dia lagi membutuhkan seseorang." Sambung hwa-shin.
"Kasihan banget nih adekel kita."
"Yoi."
Eun-woo dan kanglim pun datang.
"Shut, kamu apain nara?" Tanya kanglim duduk di sofa.
"Tidak pernah." Jawab juna yang mulai bangun dari tidurnya.
"Sebenarnya nara kenapa lim?" Tanya eun-woo.
"Adekku nangis terus tiga hari belakangan ini, katanya lagi patah hati." Jelas kanglim.
"Patah hati? Nara punya pacar?" Tanya hwa-shin.
"Buset dah, adek saya walaupun begitu juga cantik kaleee, kalian bilang nara nggak punya pacar? Emang nggak punya sih😁"
"Yahhh." Ucap yang lainnya.
Nara? Apa salah aku sama dia? Batin juna.
"Wet, beengong aje. Sebenernya kamu itu apain adek saya sih? Ditanya kagak di jawab, nggak sopan nih."
"Memang kalian pacaran?" Tanya eun-woo.
"Nggak." Jawab juna.
"Lah terus, kenapa kanglim tanya ke kamu?"
"Kan dia yang deket sama nara goblok, kagak tahu napa?" Ucap yeong-bin.
"Ampe-ampe nih ya, ada rumor kalau bapaknya juna kagak ngerestuin." Sambung hwa-shin.
Deg...
Jadi nara mendenger pembicaraan waktu itu? Batin juna.
"Saya pergi." Ucap juna yang meninggalkan ruang osis.
"Eh, mau kemana?!" Teriak kanglim.
"Jawab pertanyaan saya dulu goblok!"
"Shut, sepertinya juna ada urusan mendesak, dia pakai bicara formal gitu." Ucap hwa-shin.
"Iya juga sih." Sambung yeong-bin.
▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎
BERSAMBUNG...
@flooobie
__ADS_1