
DI RUANG OSIS...
Sesampainya disana, terdapat banyak sekali senior juga junior yang sedang mengobrol ria.
"Eh nara?" Ucap hwa-shin.
"Masuk yuk." Ajak yeong-bin.
"Ne😊"
"Kanglim nggak ada disini😒" Ucap eun-woo sinis.
"Sotoy aye🙄, aku disini bukan cari Oppa, tapi mau bilang kepada kalian semua yang ada disini, kalau aku mau izin pulang lebih cepat sama juna nanti waktu rapat osis, jadi tolong dimaklumi."
"Owh😒" Sambung eun-woo.
"Makanya, jadi manusia itu jangan sotoy, mending urusin aja tuh pacar kamu shimy, katanya dia kurang kasih sayang😏" Celetuk nara.
"Mmppphtt..." yang lainnya sedang menahan tawa.
"Bwhahahaha..😅🤣😭" sambung yeong-bin benar-benar tak dapat menahan tawanya.
"Apa?😑" Tanya eun-woo menyembunyikan rasa malunya.
"Jadi gimana nih? Boleh nggak?" Tanya nara.
"Iya, boleh kok. Lagian kita rapat osis untuk hari ini nggak terlalu penting bahasannya. Jadi bagi yang nggak mau ikut sama sekalipun juga nggak apa-apa." Jelas Hwa-shin.
"Ne, komawoyo." Ucap nara membungkuk dan bergegas pergi.
Cerewet Nara💯:
Kita nggak usah ikut rapat ya, kata sunbae Hwa-shin boleh kok.
Tling...(notifikasi handphone nara).
Juna🦋:
Kenapa?
Cerewet Nara💯:
Katanya pertemuan kali ini cuma membahas tentang tema bulanan.
Juna🦋:
Owh, iya.
•●•●•●•●•●•●•●•
DI MOBIL JUNA...
"Juna, kita mau kemana? Ini kan bukan jalan rumah aku."
"Belanja."
"Hah? Belanja apaan? Kan festival sekolah udah lewat."
Deg...
Jika mengingat saat itu, nara menjadi murung. Karena mengingat masa dimana dia sangat sakit akan patah hati.
"Ra." Panggil juna.
Nara tidak menjawab, ia hanya melamun.
"Ra, kenapa?" Tanya juna menepuk bahu nara.
"Eungh, nggak ada."
"J-juna, sebenarnya kita mau kemana sih?"
"Aku udah bilang mau belanja, sekalian jalan sama kamu. Udah lama banget nggak pernah jalan bareng."
"Owh, gitu dong bilangnya dari tadi, a-aku kan jadi paham."
Juna hanya terkekeh pelan.
Lampu-lampu dalam mall itu seakan membelah gelap yang disajikan malam. Rentetan toko yang terbentang di setiap lekuk mall. Malam nan ramai yang menyelimuti juna dan nara hari ini.
"Juna, kamu mau beli apa di mal? Kamu kan nggak suka ramai."
"Kini aku sudah terbiasa, karena kamu."
"Maksudnya?"
"Kamu yang sudah merubah diriku yang merasa sepi ini menjadi ramai."
"Ikut aku." Sambung juna.
Nara hanya mangut-mangut.
Juna menarik tangan nara pelan, mengajaknya ke suatu toko yang menjual pakaian khusus wanita.
"Kamu pilih mau ambil yang mana, malam ini ada yang spesial soalnya." Bisik juna.
"Hah? Spesial apa?"
"Udah, pilih aja dulu."
Nara hanya mengangguk, pikirannya sedang melayang kemana-mana. Mengapa dia diajak belanja?
"Baik." Jawab salah satu pelayan toko.
"Udah ra?" Tanya juna.
"Udah, bajunya udah di kasir."
"Baju aja? Kamu nggak ambil yang lain?" Tanya juna heran.
Nara hanya mengangguk tanda membenarkan.
"Terus sepatu?"
"Aku pakai sepatu ini aja juna."
"Itu sepatu sekolah ra, aneh jadinya."
"Iya, iya. Aku pilih sepatu dulu."
"Nah, itu baru benar." Jawab juna mengacak rambut nara.
Ya, sehabis pulang sekolah juna langsung mengajak nara pergi ke mall. Tanpa mengganti pakaian.
"Mbak, saya ambil yang ini juga ya." Tunjuk nara pada sebuah sepatu berwarna merah dengan ciri khas kupu-kupu kaca merah jambu dibagian depannya. High heels itu tidak terlalu tinggi, sekitar tiga senti saja.
"Baik." Jawab pelayan tersebut.
"Udah kan? Puas kan?" Tanya nara pada juna.
Juna hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah keluar dari toko itu, juna mengajak nara ke salah satu salon.
__ADS_1
"Kenapa kesini?"
"Udah, ikut aja."
Nara mulai masuk dan disambut oleh pelayan yang berada di sana.
"Eoseo oseyo." Ucap pelayan tersebut.
"Ra, kamu mau dibuat model apa rambutnya?" Tanya juna.
Nara hanya bingung.
"A-aku?"
"Hm."
"G-gimana ya? Aku sih mau model rambut yang biasa aja. Tapi dibuat lebih fresh."
"Ne, arasseumnida." Jawab pelayan itu.
Kemudian nara direbahkan, rambut mulai dikeramas, juna juga ikut untuk 'membuat rambutnya lebih fresh'
Dua jam mereka telah berkeliling mall. Dan kini, telah berada di dalam mobil sport merah milik juna.
Jam menunjukkan pukul 20:53, mereka telah sampai di sebuah restoran mewah. Dekorasinya benar-benar sangat menwan. Suara air yang jernih tembus sampai ke telinga. Lampion keemasan yang terpajang dan dapat menyinari taman.
"Juna, kita kenapa kesini?" Tanya nara yang berjalan berdampingan dengan juna.
"Makan."
"Ya aku tahu makan, tapi makan nggak usah ribet gini dong, kan tinggal makan aja, ngapain harus ke salon dulu sama belanja?"
"Kita makan malam sama keluargaku. Aku ngajak kamu kesini, untuk ngenalin kamu sebagai pacar aku, bukan teman seperti saat itu."
Nara mengingat kembali ucapan juna yang mengatakan 'saat itu' ternyata dia baru mengingatnya. Yang dimaksud juna adalah pada saat nara kerumah juna bersama sooya. Dan juna menjawab nara hanya teman.
Mereka telah sampai pada meja yang telah berisikan dua orang. Yaitu sooya mama juna, dan hae-joon papa juna.
"Annyeong haseyo." Ucap nara membungkukkan badan agar terlihat lebih sopan saat menyapa.
"Wah, nara?" Tanya sooya memastikan, sebab nara yang didepannya saat ini benar-benar sangat cantik.
Dress yang berpadu dengan kulit putihnya, sepatu yang menambah kesan jenjang di kaki nara, rambut terurai cokelat gelombag dengan beberapa jepit rambut sedikit keemasan. Bibir berwarna merah jambu mengkilap, bulu mata lentik nan hitam, pipi merah muda merona, hidung mancung, yang semakin menambah kesan elegannya.
"Ne eomoni😊"
"Wah, neomu yappeo"
"Hehe😁 kamsahamnida eomoni☺"
"Ayo, silahkan duduk." Ajak sooya.
Dan dijawab anggukan oleh nara dan juna.
"Kalian terlihat sangat serasi." Ucap hae-joon tiba-tiba.
"Ne?" Jawab nara spontan, ia tentunya terkejut dengan ucapan hae-joon itu.
Tidak ada balasan apapun dari hae-joon sehabis dia mengatakan hal itu. Disisi lain, juna menatap hae-joon dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.
Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan telah sampai. Wah, sangat banyak dan terlihat sedap.
...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...
...BERSAMBUNG......
@flooobie
DI RUANG OSIS...
Sesampainya disana, terdapat banyak sekali senior juga junior yang sedang mengobrol ria.
"Eh nara?" Ucap hwa-shin.
"Masuk yuk." Ajak yeong-bin.
"Ne😊"
"Kanglim nggak ada disini😒" Ucap eun-woo sinis.
"Sotoy aye🙄, aku disini bukan cari Oppa, tapi mau bilang kepada kalian semua yang ada disini, kalau aku mau izin pulang lebih cepat sama juna nanti waktu rapat osis, jadi tolong dimaklumi."
"Owh😒" Sambung eun-woo.
"Makanya, jadi manusia itu jangan sotoy, mending urusin aja tuh pacar kamu shimy, katanya dia kurang kasih sayang😏" Celetuk nara.
"Mmppphtt..." yang lainnya sedang menahan tawa.
"Bwhahahaha..😅🤣😭" sambung yeong-bin benar-benar tak dapat menahan tawanya.
"Apa?😑" Tanya eun-woo menyembunyikan rasa malunya.
"Jadi gimana nih? Boleh nggak?" Tanya nara.
"Iya, boleh kok. Lagian kita rapat osis untuk hari ini nggak terlalu penting bahasannya. Jadi bagi yang nggak mau ikut sama sekalipun juga nggak apa-apa." Jelas Hwa-shin.
"Ne, komawoyo." Ucap nara membungkuk dan bergegas pergi.
Cerewet Nara💯:
Kita nggak usah ikut rapat ya, kata sunbae Hwa-shin boleh kok.
Tling...(notifikasi handphone nara).
Juna🦋:
Kenapa?
Cerewet Nara💯:
Katanya pertemuan kali ini cuma membahas tentang tema bulanan.
Juna🦋:
Owh, iya.
•●•●•●•●•●•●•●•
DI MOBIL JUNA...
"Juna, kita mau kemana? Ini kan bukan jalan rumah aku."
"Belanja."
"Hah? Belanja apaan? Kan festival sekolah udah lewat."
Deg...
Jika mengingat saat itu, nara menjadi murung. Karena mengingat masa dimana dia sangat sakit akan patah hati.
"Ra." Panggil juna.
Nara tidak menjawab, ia hanya melamun.
__ADS_1
"Ra, kenapa?" Tanya juna menepuk bahu nara.
"Eungh, nggak ada."
"J-juna, sebenarnya kita mau kemana sih?"
"Aku udah bilang mau belanja, sekalian jalan sama kamu. Udah lama banget nggak pernah jalan bareng."
"Owh, gitu dong bilangnya dari tadi, a-aku kan jadi paham."
Juna hanya terkekeh pelan.
Lampu-lampu dalam mall itu seakan membelah gelap yang disajikan malam. Rentetan toko yang terbentang di setiap lekuk mall. Malam nan ramai yang menyelimuti juna dan nara hari ini.
"Juna, kamu mau beli apa di mal? Kamu kan nggak suka ramai."
"Kini aku sudah terbiasa, karena kamu."
"Maksudnya?"
"Kamu yang sudah merubah diriku yang merasa sepi ini menjadi ramai."
"Ikut aku." Sambung juna.
Nara hanya mangut-mangut.
Juna menarik tangan nara pelan, mengajaknya ke suatu toko yang menjual pakaian khusus wanita.
"Kamu pilih mau ambil yang mana, malam ini ada yang spesial soalnya." Bisik juna.
"Hah? Spesial apa?"
"Udah, pilih aja dulu."
Nara hanya mengangguk, pikirannya sedang melayang kemana-mana. Mengapa dia diajak belanja?
"Baik." Jawab salah satu pelayan toko.
"Udah ra?" Tanya juna.
"Udah, bajunya udah di kasir."
"Baju aja? Kamu nggak ambil yang lain?" Tanya juna heran.
Nara hanya mengangguk tanda membenarkan.
"Terus sepatu?"
"Aku pakai sepatu ini aja juna."
"Itu sepatu sekolah ra, aneh jadinya."
"Iya, iya. Aku pilih sepatu dulu."
"Nah, itu baru benar." Jawab juna mengacak rambut nara.
Ya, sehabis pulang sekolah juna langsung mengajak nara pergi ke mall. Tanpa mengganti pakaian.
"Mbak, saya ambil yang ini juga ya." Tunjuk nara pada sebuah sepatu berwarna merah dengan ciri khas kupu-kupu kaca merah jambu dibagian depannya. High heels itu tidak terlalu tinggi, sekitar tiga senti saja.
"Baik." Jawab pelayan tersebut.
"Udah kan? Puas kan?" Tanya nara pada juna.
Juna hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah keluar dari toko itu, juna mengajak nara ke salah satu salon.
"Kenapa kesini?"
"Udah, ikut aja."
Nara mulai masuk dan disambut oleh pelayan yang berada di sana.
"Eoseo oseyo." Ucap pelayan tersebut.
"Ra, kamu mau dibuat model apa rambutnya?" Tanya juna.
Nara hanya bingung.
"A-aku?"
"Hm."
"G-gimana ya? Aku sih mau model rambut yang biasa aja. Tapi dibuat lebih fresh."
"Ne, arasseumnida." Jawab pelayan itu.
Kemudian nara direbahkan, rambut mulai dikeramas, juna juga ikut untuk 'membuat rambutnya lebih fresh'
Dua jam mereka telah berkeliling mall. Dan kini, telah berada di dalam mobil sport merah milik juna.
Jam menunjukkan pukul 20:53, mereka telah sampai di sebuah restoran mewah. Dekorasinya benar-benar sangat menwan. Suara air yang jernih tembus sampai ke telinga. Lampion keemasan yang terpajang dan dapat menyinari taman.
"Juna, kita kenapa kesini?" Tanya nara yang berjalan berdampingan dengan juna.
"Makan."
"Ya aku tahu makan, tapi makan nggak usah ribet gini dong, kan tinggal makan aja, ngapain harus ke salon dulu sama belanja?"
"Kita makan malam sama keluargaku. Aku ngajak kamu kesini, untuk ngenalin kamu sebagai pacar aku, bukan teman seperti saat itu."
Nara mengingat kembali ucapan juna yang mengatakan 'saat itu' ternyata dia baru mengingatnya. Yang dimaksud juna adalah pada saat nara kerumah juna bersama sooya. Dan juna menjawab nara hanya teman.
Mereka telah sampai pada meja yang telah berisikan dua orang. Yaitu sooya mama juna, dan hae-joon papa juna.
"Annyeong haseyo." Ucap nara membungkukkan badan agar terlihat lebih sopan saat menyapa.
"Wah, nara?" Tanya sooya memastikan, sebab nara yang didepannya saat ini benar-benar sangat cantik.
Dress yang berpadu dengan kulit putihnya, sepatu yang menambah kesan jenjang di kaki nara, rambut terurai cokelat gelombag dengan beberapa jepit rambut sedikit keemasan. Bibir berwarna merah jambu mengkilap, bulu mata lentik nan hitam, pipi merah muda merona, hidung mancung, yang semakin menambah kesan elegannya.
"Ne eomoni😊"
"Wah, neomu yappeo"
"Hehe😁 kamsahamnida eomoni☺"
"Ayo, silahkan duduk." Ajak sooya.
Dan dijawab anggukan oleh nara dan juna.
"Kalian terlihat sangat serasi." Ucap hae-joon tiba-tiba.
"Ne?" Jawab nara spontan, ia tentunya terkejut dengan ucapan hae-joon itu.
Tidak ada balasan apapun dari hae-joon sehabis dia mengatakan hal itu. Disisi lain, juna menatap hae-joon dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.
Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan telah sampai. Wah, sangat banyak dan terlihat sedap.
...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1
@flooobie