
Nara keluar dan tidak sengaja berpapasan dengan juna yang ingin masuk kedalam ruang kepala sekolah dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Juna? Kamu ngapain disini?" Tanya nara.
"Ada urusan, terus kamu?"
"Aku juga ada urusan, pak kepala sekolah suruh aku isi formulir, nih." Jawab nara memperlihatkan beberapa lembaran.
"Oh." Balas juna yang masuk dengan amarah yang berapi-api.
Juna kenapa? Kok aneh gitu?🤔 Batin nara.
Udahlah, lagian itu buka urusan aku juga.
Tetapi, saat ia ingin beranjak untuk pergi, rasa penasaran seorang nara pun muncul tiba-tiba.
Kok aku jadi penasaran gini sih? Batin nara.
Kayaknya nggap papa deh, kalau nguping dikit😁
Nara langsung bersembunyi didekat pintu.
"Abeoji!"
Hae-joon dan pak kepala sekolah yang terkejut langsung menoleh ke arah sumber suara.
Abeoji? Jadi om hae-joon itu appanya juna?
"Juna?" Ucap hae-joon.
"Abeoji, juna kan sudah bilang untuk jangan datang ke sekolah!" Bentak juna.
"Em, kalau begitu pak, saya permisi keluar dulu. Maaf bila mengganggu waktunya." Ucap pak kepala sekolah tiba-tiba.
"Ne, mullon imnida."
Pak kepala sekolah pun pergi meninggalkan ruangan yang mulai memanas itu.
Waduh, ada pak kepsek nih. Aku nggak boleh ketahuan kalau lagi nguping😬 Batin nara.
Nara pun berlari kecil dan bersembunyi di belakang pintu.
Heuh...syukur kagak ketahuan, kalau ketahuan kan bisa berabe urusannya😵 Batin nara.
"Juna, saya yang punya sekolah ini. Jadi kamu tidak berhak untuk melarang saya datang ke sekolah ini!" Pertengkaran mulai berlanjut.
"Apa kamu terganggu dengan keberadaan saya?! Atau kamu terganggu untuk berdua-duaan dengan gadis itu tanpa rasa takut dan khwatir?!"
"Abeoji?! Juna sayang sama nara! Apa salah?"
Deg...
Apa? Juna sayang sama aku?😳 Batin nara.
Mendengar itu keluar dari mulut juna secara langsung, membuat nara sangat bahagia.
Tetapi disisi lain...
Nara merasa sedih dan tidak menyangka, bahwa ia sangat dibenci oleh orang tua juna.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah, tetapi dia tidak pantas untuk kamu!"
"Ingat! Jika kamu ingin hidup gadis itu bahagia, jauhi dia dan bertunanganlah secara resmi dengan minji!"
Deg...
Ucapan yang baru saja keluar dari mulut hae-joon, membuat hati nara seakan tersayat oleh rasa sakit.
Apa aku serendah itu untuk juna?
Apa aku cuma beban di hidup juna?
Apa aku terlalu salah untuk mengharapkan hati juna?
"Abeoji! Juna tidak akan setuju dengan itu!"
"Sudahlah jika kamu memang tidak menyetujuinya. Tapi ingat! Bahwa setiap pembantahan, akan ada hukuman yang harus kamu terima!" Ucap hae-joon tersenyum smirk.
Hae-joon pun keluar dari ruangan itu. Ia juga sempat berpapasan dengan nara yang masih tertegun di posisinya. Hae-joon hanya melirik sebentar, lalu ia memutuskan untuk beranjak pergi.
Juna hanya tertunduk dalam diam, sungguh juna tidak menerima keputusan abeojinya itu. Tetapi, ia juga tak bisa menghentikannya.
Ternyata selama ini aku cuma beban di hidup juna. Aku yang udah buat semua masalah ini, maafin aku juna, maafkan aku🥺 Batin nara
Nara memutuskan untuk pergi. Ia juga tidak dapat membendung semua kesedihannya kali ini.
"Hiks...hiks..."
"K-kenapa aku nggak pernah sadar?! K-kenapa aku n-nggak pernah sadar bahwa akulah yang menyebabkan semua masalah dan beban pikiran di hidup juna?!"
"KENAPA?!"
"Hiks...hiks...hiks..."
...Mengayuh sepedaku ke lapangan perasaan. Aku merasa seakan-akan alam semesta bersinar memancar dari dalam diriku, seolah-olah akulah yang merupakan pusat dunia....
...Di bawah pohon Angsana, terbaring. Aku mulai memejamkan mataku, dan kubiarkan seberkas cahaya keemasan menembus kelopak mataku yang terpejam....
Rasa sakit dalam hati, tidak bisa aku sembunyikan.
...Ku buka mataku perlahan. Matahari keluar dari balik awan-awan, bersiap-siap tenggelam di atas puncak-puncak bangunan kota. Ku pejamkan kembali mataku, di dalam hati enggan untuk pergi....
Suatu hari nanti, aku berharap air mata ini akan berhenti mengalir.
Suatu hari nanti, setelah kegelapan ini menghilang, aku berharap hangatnya matahari mengeringkan air mata ini.
Tetap diam, tapi jangan bersembunyi di kegelapan. Sekali lagi, cahaya akan kembali menyala.
Tunggulah, pasti akan datang. Meskipun malam panjang, matahari akan tetap terbit.
Dan suatu hari nanti, rasa sakitku akan sembuh.
Kukatakan kepada diriku untuk percaya diri, tapi aku tak bisa.
Aku telah berpaling darinya, menghindarinya, dan menutup mataku.
Karena aku takut, aku tidak memiliki kepercayaan diri akan dicintai dengan apa adanya aku.
Aku tidak ingin membuat dia merasakan beban hanya untukku. Aku tak menginginkannya.
__ADS_1
Jika aku dapat memutar kembali waktu, kemana kita harus dan akan kembali?
Jika kita sampai ke tempat itu, dapatkah kita memperbaiki semua kesalahan yang kita lakukan?
Sehingga kita dapat menjadi bahagia?
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
...Bahkan, jika kita mengulang musim yang sama dan tidak terhitung jumlahnya....
...Ada beberapa tempat dan keinginan yang tak bisa kita capai. Pada akhirnya, semua yang harus kita lewati dan hadapi adalah badai yang berbeda dari hari sebelumnya....
...Untuk mengahadapi badai itu dan melewatinya, untuk mencintai tanpa rasa takut dan keragu-raguan akan perpisahan, untuk mencintai diriku apa adanya, dibutuhkan KEBERANIAN....
...KEBERANIAN yang mungkin tidak akan terhitung jumlahnya....
♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎
Drett...
Nara menghapus air matanya cepat-cepat saat mendengar panggilan.
"Shimy vc? Aku angkat aja deh, biar dia nggak khawatir."
"Halo ra!!!🤗🤗 Aku ada berita bahagia nih buat kamu."
"Apa shim?"
"Sekolah kita menang lho, ngalahin sekolah lainnya! Bangga nggak nih?😉"
"I-iya shim, aku banggaa banget🙂"
"Kamu kenapa ra? Sakit?"
"Nggak kok, aku nggak papa."
"Eh, tapi kok daritadi aku nggak pernah lihat kamu sih?😑"
"Oh itu, tadi aku cuma mau menyendiri aja. Jadi keluar dari festival, terlalu ramai soalnya😄"
"Kamu ada masalah?😑"
"Ah, itu, n-nggak kok, aku nggak ada masalah. C-cuma lagi pengen sendiri aja😊"
"Ya udah, eh ra, aku dipanggil sama kak eun-woo, ntar kita lanjut vc lagi ya😊"
"Emm, ne."
"Bay🤗"
"Bay🙂"
Heuh...aku lelah untuk berpura-pura, ingin sekali rasanya untuk mencurahkan kesedihan ini.
...Hari mulai gelap. Bulan bertengger tinggi di langit. Cahayanya menyinari lapangan perasaan. Kini saatnya aku bangkit dan mulai mengayuh sepedaku lagi....
...Menyusuri setiap jalanan kota Seoul yang ramai. Ditemani banyaknya kerlap-kerlip cahaya yang memancar dari setiap gedung....
...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...
__ADS_1
...BERSAMBUNG......
@flooobie