KISAH MASA REMAJA

KISAH MASA REMAJA
《AKHIRNYA BERJUMPA》


__ADS_3

18 AGUSTUS


UNIVERSITAS...


"Cla, nanti jangan lupa untuk membawa skripsimu kepada saya." Ucap pak anton padaku.


"Iya pak, sehabis mata pelajaran ini selesai, cla akan bawa keruangan bapak."


...Dan aku kini berada di salah satu kampus yang berada di Mataram-NTB. Aku telah menginjak S2, dan hampir tiga tahun lamanya bersekolah di kampus ini....


...Jika kalian ingin bertanya, apakah aku memiliki sahabat, atau bahkan pacar saat ini, maka jawabannya adalah TIDAK....


...Kenapa?...


...Karena aku takut. Takut kehilangan, takut tersakiti, dan takut tidak akan selalu bersama. Aku benar-benar takut akan perpisahan....


...Menurutku, perpisahan bagaikan surat bencana, dan di setiap kata 'Perpisahan' maka rasanya akan sangat menyakitkan....


...Saat ini pun, aku masih sama. Aku merasa kehilangan segalanya. Tidak mudah untuk melupakan kenangan-kenangan kecil....


...Setelah selesai mengantar skripsiku pada pak anton, akupun memutuskan untuk pergi ke kelas. Duduk di salah satu bangku, dan terus mengetikkan beberapa kata untuk mengisi setiap episode, yang nantinya akan terbaca pula oleh kalian yang melihatnya....


...Setelah puas untuk bercerita di laptop itu, akupun memutuskan untuk beranjak pergi dari kelas menuju keluar. Mulai memasukkan laptopku kedalam tas, dan berjalan menuju gerbang utama....


"Cla!!!" Panggil seseorang dibelakangku.


...Akupun menoleh....


"Janson?"


"Iya."


"Ada apa?" Tanyaku.


"Ini, disuruh foto copy, dan jangan lupa tugas yang baru dikirim sama pak anton, untuk di jilid."


"Ooh iya, makasi." Ucapku mengambil beberapa kertas di tangan janson.


"Lo mau pulang?" Tanyanya.


"Iya, tapi kayaknya aku mau ke taman kampus dulu mau rileksin pikiran. Sekalian cuci mata untuk lihat pemandangan hijau disana."


"Owh."


"Mau ikut?" Tawarku.


"Nggak, gue lagi banyak urusan."


"Oh, iya udah kalau gitu. Bye!"


"Hm."


...Akupun melanjutkan langkah kakiku menuju gerbang utama....


Bruk...


"Akh..." ringisku yang terjatuh.


...Kertas-kertas yang kupegang, berhamburan....


"Maaf." Ucap laki-laki itu.


"Nggak apa-apa." Balasku yang mulai mengambil satu per satu kertas yang berserakan. Laki-laki itu juga membantu.


...Aku mulai berdiri....


...Tidak sengaja aku melihat dia. Dia yang selama ini kunanti dan kuharapkan....


"Juna?" Panggilku lirih.


...Dia langsung berdiri dan menoleh setelah mengambil beberapa kertas yang berserakan....

__ADS_1


"Nara?" Ucapnya, aku dapat melihat raut wajah syok dari juna.


...Kita kembali berjumpa di waktu yang tidak pernah diramalkan. Kembali melihatmu setelah sekian lama, hari ini membuatku bingung....


...Apa yang harus aku sembunyikan darimu? Rindu? Rasa? Ataukah air mata?...


...Aku memutuskan untuk memeluknya dengan derai air mata, tidak dapat kutahan. Sedangkan juna, hanya dapat terpaku dan terdiam....


"Juna, aku rindu kamu." Cicitku.


"Hiks...hiks...hiks..."


"Juna, hiks..."


...Dia masih saja memelukku, tanpa niat melepaskan. Untuk kesekian kalinya, aku merindukan pelukan itu, sangat merindukannya. Semua tentang juna, aku benar-benar rindu....


"Junaa..."


"Sst, aku minta maaf." Ucapnya.


Aku melepaskan pelukan itu.


"Kenapa kamu nggak pernah hubungin aku?! Mengapa kamu menghilang begitu aja tanpa kabar?! Apa yang seberanya terjadi juna?!" Teriakku padanya dengan berlinang air mata. Tidak dapat kutahan air mata itu untuk tidak mengalir.


"Apa kamu tahu, aku merindukanmu!! Sangat merindukanmu!! Aku tidak bisa melupakanmu dan juga kenangan kita, juna!! Kamu jahat! Jahat!!" Teriakku mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini kupendam sendiri.


...Dia kembali memelukku, mengalirkan kehangatan padaku. Itu sungguh membuatku tertekan, dengan kehangatan yang kini dia berikan, bisakah aku melupakannya jikalau dia akan pergi lagi?...


"Maafkan aku ra, maafkan aku." Ucapnya lirih.


"Hiks...hiks...hiks...j-juna...aku r-rindu..." ucapku.


...Setelah beberapa drama, kami memutuskan untuk pergi karena telah menjadi bahan tontonan para mahasiswa disana....


...Aku mengajak juna ke taman kampus karena tadi aku berniat untuk ke sana juga. Kami mulai duduk tanpa ada satupun pembicaraan yang keluar dari mulut juna....


POV JUNA


"Juna?" Panggilnya lirih.


Aku sangat terkejut.


Nama itu, adalah namaku dulu, yang mungkin tidak diketahui oleh orang-orang di negara ini. Karena kini aku telah mengubah namaku menjadi Reynald Askara. Suara itu, seperti aku telah mengenalnya sangat lama. Siapakah dia?


"Nara?" Ucapku saat mulai berdiri untuk dapat melihatnya.


Sungguh aku benar-benar sangat terkejut. Bagaimana bisa setelah bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa, aku dipertemukan lagi olehnya? Oleh seseorang yang telah merubah hidupku sampai saat ini. Mungkinkah ini adalah takdir kita berdua?


Dia langsung memelukku dengan air mata yang tembus membasahi almamater biru di bagian depan.


"Juna, aku rindu kamu." Cicitnya yang masih dapat terdengar oleh telingaku.


"Hiks...hiks...hiks..."


"Juna, hiks..."


Nara mulai melepaskan pelukan itu. Akupun segera menatapnya lekat-lekat. Kini dia sedang menangis dan terus meyebut namaku. Juna...


Aku kembali memeluknya. Dan membiarkan nara menumpahkan semua kekesalannya kepadaku. Aku tentu tahu betapa kesalnya ia saat ini.


Aku pikir dia akan mencaci-makiku didepan semua orang, tetapi dia tidak melakukannya. Dia malah menyatakan perasaannya kepadaku. Sama seperti nara yang kukenal dulu, tidak ada kata gengsi ataupun malu. Ternyata dia sangat sangat merindukanku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, tak luput dari kata 'Rindu'.


Kami beranjak dari sana, dan nara mengajakku ke taman kampus.


Sunyi menyelimuti kami sesaat, hingga aku memutuskan untuk berbicara.


"Ra, maafkan aku."


"Nggak usah minta maaf, aku cuma butuh penjelasan dari kamu, juna." Ucapnya to the point, sepertinya nara sedang marah kepadaku. Siapa yang tidak marah jika ditinggal oleh kekasihnya pada saat sayang-sayangnya tanpa penjelasan? Pasti terdapat rasa kesal bukan?


JUNA POV END

__ADS_1


"Aku mau kamu ngejelasin kenapa pergi gitu aja."


"Kenapa nggak kasih kabar?" Tanyaku yang sangat penasaran.


"Papa dan mama bercerai ra, lalu papa pergi ke Singapura. Aku dan mama pergi ke Indonesia, tetapi tidak lama kemudian mama meninggal karena sakit. Kelebihan alkohol kata dokter. Kini aku tinggal sendiri di Indonesia.


...Aku merasa bersalah kepada juna. Aku tidak menyangka kehidupannya sangat perih selama beberapa tahun terakhir....


...Aku membiarkan juna menyalurkan kesedihannya kepadaku. Aku sungguh minta maaf juna, karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi....


"Juna, maafkan aku."


...Juna tersenyum, aku merindukan senyuman itu juga....


"Kamu nggak perlu minta maaf ra, seharusnya aku yang minta maaf."


"Juna..." panggilku.


"Hm?"


"Kamu kenapa pergi tanpa kasih tahu aku?"


...Juna terdiam sejenak....


"Karena aku nggak mau nyakitin kamu, aku juga takut kalau kamu tidak akan mengizinkan aku untuk pergi, ra." Jawabnya.


"Sama aja, kamu tetap buat aku sakit, aku juga tetap tidak mengizinkan kamu pergi walau kamu sudah pergi."


"Tapi setidaknya, aku nggak lihat wajah sedih kamu saat aku tinggalkan."


"Terus, kenapa kamu nggak kasih aku kabar walau hanya sebuah pesan? Aku selalu menunggu pesan dari kolom percakapan kita, juna."


"Aku nggak bisa jawab."


"Ck." Aku berdecak sinis.


"Ra, maafkan aku, aku benar-benar nggak bermaksud untuk membuat kamu sedih. Aku juga nggak bermaksud membuat kamu sakit. Karena itu semua terjadi begitu aja, ra."


...Aku mulai terisak, tidak dapat membendung semua kesedihan ini, aku sangat lelah akan semua penantian....


"Juna, apa kamu tahu? Mereka mengira bahwa aku bahagia karena selalu tersenyum, tetapi aku tidak baik-baik saja. Karena kamu telah meninggalkanku. Tidak ada jalan bagiku untuk baik-baik saja."


...Juna langsung meraih wajahku, menaruh kedua tangannya disamping pipiku....


"Ketika itu semua terjadi, kamu tidak dapat membendung rasa sakit pada hatimu. Jangan kamu tutupi."


"Bila kamu merasa tidak ada yang mencintaimu seperti kamu yang tulus memberikan cintamu, aku hanya ingin kamu tahu; dirimu itu berharga ra, lebih dari yang kamu bayangkan." Jelas juna.


...Tangisku kembali pecah. Aku memeluk juna erat....


"Hiks...hiks..."


"J-junaaa, aku sayang kamu..." lirihku.


"Ssstt, udah ya nangisnya." Ucap juna mengelus surai cokelat milikku.


"Hiks...n-nggak bisa..."


"Sst."


...Aku mulai melepaskan pelukan itu. Kini wajahku dan juna saling berhadapan. Juna mulai mengusap sisa air mata yang berada di kedua pipiku....


"Aku juga sayang sama kamu, ra." Ucap juna lirih, sembari mengecup singkat puncuk kepalaku.


...Pertemuan kita hari ini akan menjadi satu-satunya yang paling kuingat. Semesta selalu saja membuat teka-teki yang tidak pernah bisa kutebak....


Akankah ini semua berakhir indah?


...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


@flooobie


__ADS_2