KISAH MASA REMAJA

KISAH MASA REMAJA
《CAMER/CALON MERTUA》


__ADS_3

♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎


...Ketika kamu membenci dirimu sendiri. Ketika kamu rasa bagai ingin menghilang, maka ciptakanlah sebuah pintu di dalam hatimu. Jika kamu membuka pintu itu lalu masuk ke dalamnya, sebuah tempat akan menunggumu. Tidak apa-apa dan percayalah itu akan bisa menghiburmu....


♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎♥︎


20 JUNI


LAPANGAN PERASAAN...


...Masih terlalu gelap untuk membedakan tanah dan langit dari kejauhan....


...Dan saat aku memandang langit berubah warna dari kelabu menjadi biru......


...Disana...jauh disana, sekitar delapan puluh juta mil di ujung sana, ada seberkas cahaya pucat mulai muncul, secercah....


...Momen matahari terbit itu sangat menakjubkan....


...Itulah kali pertama aku melihat momen matahari terbit pada tahun ini....


...Heuh...😪...


...Aku merebahkan badan dan melihat hanya sampai sejauh ini aku dapat menggambarkannya dengan kata-kata....


...Matahari yang sama, bumi yang sama, fajar istimewa yang sama, itu tentang waktu yang akan terus berganti....


...Waktu telah menunjukkan pukul 06:17...


...Aku masih diam dan duduk memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi biru laut. Karena itu adalah Musim Panas, yaitu hari libur, jadi aku memutuskan untuk bermeditasi dan menghilangkan penat di lapangan perasaan....


...Setelah penat hilang, aku ingin pergi ke minimarket untuk membeli minum. Karena sedang musim panas, aku jadi jauh lebih sering merasa haus dan lelah....


...Ku kayuhlah sepedaku dan mulai menjauhi lapangan perasaan. Udara nan hangat sepanjang musim panas yang menggelora....


...Setelah sampai di salah satu minimarket terdekat, aku memutuskan untuk membeli soda. Menurutku itu adalah minuman yang pas, walaupun aku sendiri belum makan. Lalu aku duduk di halte bus dan memandangi jalanan yang tidak terlalu ramai. Meskipun awalnya mungkin sederhana, semoga akhirnya menjadi luar biasa....


"Ttal." Panggil seseorang.


Nara pun langsung menengok ke samping kiri. Dan di lihatnya adalah seorang wanita.


"Ne?" Ucap nara.


"Eomoni seperti mengenal kamu, tetapi dimana?"


Nara hanya bingung dan berpikir. Ia juga memikirkan hal yang sama dengan ibu itu, nara merasa pernah bertemu sebelumnya.


"Apakah eomoni adalah orang yang waktu itu akan di copet?" Tanya nara, dan pertanyaannya itu tidak salah melainkan benar.


"Ne, ternyata itu adalah kamu? Saya tidak menyangka dapat bertemu kamu lagi di sini."


"Ne eomoni😊😄"


"Apakah kamu sibuk?"


"Ah, aniyo eomoni. Nara nggak sibuk sama sekali, karena ini juga hari libur."


"Begitu rupanya? Kalau begitu, apakah kamu ingin mengunjungi rumah eomoni?"


"Tidak perlu eomoni, dan juga eomoni sendiri udah kelihatan sibuk."


"Aniyo, eomoni sedang tidak sibuk. Eomoni mohon ya untuk ikut."


"Baiklah eomoni."


Nara yang tidak tega langsung mengikuti permintaan sooya.


DI PERJALANAN...


"Apakah kamu tahu nama eomoni?" Tanya sooya.


"Ne, dari kartu nama waktu itu."


"Ah, majayo."


DI RUMAH SOOYA...


"Eomoni harus panggil kamu apa?" Tanya sooya.


"Nara aja eomoni."


"Tentu, tapi bicaranya jangan formal, anggap aja eomoni ini omma-mu😊"

__ADS_1


"Ne eomoni."


"Ayo nara silahkan duduk, eomoni akan memasak sesuatu, pasti nara belum sarapan kan?"


"Ah, ne eomoni. Tapi biar nara bantu ya? Nara juga bisa masak lho😉"


"Oke, kita lihat hasil masakan kamu."


Lalu, nara dan sooya pergi ke dapur untuk memasak bersama.


***


"Wah, kelihatannya enak ya eomoni." Ucap nara girang.


"Iya."


"Eomoni, apa eomoni tinggal di rumah besar ini sendirian?" Tanya nara.


"Aniyo, eomoni di sini tinggal bersama suami dan anak."


"Wah, yang bener? Terus, mereka dimana?"


"Anak eomoni jarang keluar kamar. Itu aja kalau makan atau sekolah."


"Dia selalu mengurung diri di kamar." Sambung sooya.


"Eomoni, itu berarti dia mempunyai alasan tersendiri di balik semua sikapnya." Jelas nara.


"Ya, itu pasti. Oke kalau gitu, eomoni akan panggil dia dulu ya." Ucap sooya yang mulai beranjak dari meja makan.


"Ne."


DI KAMAR JUNA...


"Heuh... aku pergi saja, menenagkan pikiranku yang telah kacau karena permasalahan tadi." Ucap juna bersiap untuk keluar.


Ya, tadi telah terjadi sedikit perselisihan di antara juna dan hae-joon.


Cklek...(pintu dibuka).


"Eomoni? Wae?" Tanya juna sedikit kaget.


"Kita kedatangan tamu, ayo sambut." Ajak sooya.


"Juna!"


"Juna!" Panggil sooya.


Disisi lain, nara yang sedang berada di meja makan...


"Juna? Itu kan nama juna, apa itu juna yang aku kenal?" Ucap nara penasaran dan mulai melangkah menuju tangga.


Mereka berhadapan. Juna menatap nara dengan kagetnya. Sama halnya dengan nara yang menatap juna dengan sangat terkejut.


Nara? Kenapa dia bisa disini? Apa tamu yang di maksud itu...


"Juna? Jadi kamu tinggal disini? Terus kamu anaknya eomoni sooya?" Tanya nara.


"Kamu kenapa bisa disini?" Tanya juna tanpa menjawab.


"Kalian saling kenal?" Tanya sooya dari atas.


"Ne eomoni, juna itu teman nara." Jawab nara.


"Bagus kalau gitu, jadi eomoni tidak perlu susah payah mengenalkan nara ke kamu." Sambung sooya.


"Eomoni, kalian kenapa saling kenal?" Tanya juna heran sekaligus penasaran.


"Kamu mau tahu? Kalau gitu kita duduk di meja makan dulu, sarapan bareng, habis itu eomoni akan cerita." Ajak sooya menarik tangan juna dan nara.


DI MEJA MAKAN...


Hae-joon datang dengan angkuh, berencana untuk pergi ke kantor.


"Juna, itu appa kamu, aku jadi takut deh. Garang banget kelihatannya." Bisik nara kepada juna yang masih dapat di dengar oleh sooya dan hae-joon.


"Kamu jangan gibahin saya langsung didepan orangnya." Jawab hae-joon sinis.


"mianhae om hae-joon😄"


"Ayo duduk, kita sarapan bersama." Ajak sooya.

__ADS_1


"Ne eomoni." Jawab nara.


Mereka pun duduk di kursi masing-masing.


"Jadi ini itu masakannya nara. Di coba dulu, enak apa nggak." Ucap sooya.


"Oh, jadi kamu bisa masak? Saya kira kamu cuma anak manja yang takut api dan sombong." Ucap hae-joon.


Ishh...ni orang kok omongannya pedes banget ya? Kapan makan cabainya coba? Batin nara.


"Ah, om hae-joon bisa aja😄 Saya nggak bisa jadi anak yang manja om, orang tua saya nanti kesusahan. Saya juga lahir dari keluarga yang sederhana, jadi apa yang mau di sombongin coba om?😊" Balas nara.


Juna hanya melotot ke arah nara yang sangat berani menjawab ucapan hae-joon.


"Sudah, ayo kita makan dulu, nanti makanannya keburu dingin." Ucap sooya.


Mereka mulai menyantap makanan buatan nara dan sooya.


SELESAI MAKAN...


"Eomoni kenapa bisa kenal nara?" Tanya juna yang masih penasaran. Sebenarnya, hae-joon pun juga sangat penasaran akan hal itu.


"Oh itu, jadi gini ceritanya, waktu itu eomoni mau di copet, terus tiba-tiba nara dateng dan selamatin eomoni, jadi tas-nya nggak jadi di copet." Jelas sooya.


"Jadi kamu bisa bela diri? Saya kira kamu anak yang penakut dan sok cantik." Ucap hae-joon sinis. Dia memang tidak menyukai nara sejak awal kenal.


"Nggak lah om, nara itu orangnya pintar, baik, cantik, jago bela diri, populer lagi, ya walaupun nggak kaya sih. Tapi menurut nara itu aja udah cukup kok untuk buat nara jadi calon mantu-nya om😉😊" Balas nara yang kepedean.


Juna dan sooya hanya terkekeh dengan pernyataan nara itu. Sangat berani.


Sedangkan hae-joon hanya senyum-senyum sendiri. Beraninya anak SMA seperti nara menggodanya hingga salting.


"Kamu ternyata sangat pintar membuat lelucon." Sambung hae-joon sok cool.


"Bukan om, itu bukan lelucon, tapi kenyataan." Jawab nara meyakinkan.


"Capek saya ngomong sama kamu tidak selesai-selesai juga."


"Iya om, saya memang gitu orangnya😀 Tapi gimana makanannya? Enak nggak?" Tanya nara.


"Biasa aja." Jawab hae-joon.


Hadeuh...biasa aja tapi tadi udah nambah dua kali, apa yang biasa coba? Bilang aja enak. Batin nara kesal.


"Biasa aja tapi kamu nambah dua kali lho." Ucap sooya. Dan itu mampu membuat hae-joon blush.


"Sudahlah, juna antar pacar kamu ini pulang, saya lelah berdebat." Pinta hae-joon.


"Syukur deh om." Jawab nara.


"Kenapa kamu bersyukur?" Tanya hae-joon heran, bukannya marah karena di usir tapi malah bersyukur.


"Iya, nara bersyukur aja gitu, karena om udah mengakui kalau nara itu pacarnya juna, padahal bukan. Terus nara juga bersyukur karena bisa pulang, soalnya om hae-joon ngeri-ngeri sedep waktu dihadapin."


Hae-joon bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.


"Om!" Panggil nara.


Hae-joon langsung berhenti.


"Nara boleh nebeng nggak? Habisnya sepeda nara ketinggalan di minimarket tadi."


Nara....lo kenapa buat masalah lagi? Udah liat itu abeoji marah banget, pakai acara minta nebeng segalaaaa. Batin juna.


"Baiklah, tapi cepat naik dan tidak pakai lama." Jawab hae-joon dan bergegas.


"Eomoni, nara pergi dulu ya." Uacap nara berpamitan dan memeluk sooya.


"Iya, kamu hati-hati di jalan."


"Ne eomoni."


"Juna, aku pamit pulang dulu, nanti kalau aku sampai rumah dengan selamat, aku kabarin ya."


"Emm."


"Annyeong!"


Nara pun berlari kecil menuju garasi mobil untuk menemui hae-joon yang berada di sana.


...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...

__ADS_1


...BERSAMBUNG......


@flooobie


__ADS_2