
"Eh, stop-stop-stop." Ucap nara tiba-tiba.
"Wae?"
"Ini, kita udah sampai."
"Mwo?🤨"
"Iya, lihat deh ke kiri."
Juna menoleh ke samping kiri, ia melihat sebuah lapangan yang sangat hijau, dan ditumbuhi dua pohon angsana yang menyatu. Juga dua pasang bangku taman yang indah.
"Yuk turun😊" Ajak nara.
Mereka turun dari mobil milik juna.
"Ini itu, namanya lapangan perasaan. Aku yang namain😄"
"Oh."
"Nama aslinya nggak tahu sih, tapi panggil aja lapangan perasaan💕" Ucap nara yang mulai berbaring di bawah pohon angsana.
"Kenapa kamu namain lapangan perasaan?" Tanya juna mengikuti nara yang tengah berbaring.
"Emm, gimana mau jelasinnya ya?🤔"
"Namanya aku ambil begitu aja, ya karena di sinilah aku tuangin semua perasaan aku."
"Jadi, setiap aku sedih ataupun lagi bahagia, ya kesini."
"Oh."
"Juna." Panggil nara yang sekarang terbaring mengahadap ke arah juna.
"Emm?"
"Kamu, kalau ada masalah atau apapun itu, kesini aja. Di sini udaranya sejuk, jadi cocok buat cerita."
"Jangan ke Emperor Club, disana itu ramai, nggak enak, suasananya pokoknya kacau deh. Oke?"
Juna hanya terdiam, tak menjawab.
"Juna?"
"Memangnya salah ya, kalau aku cuma mau tenangin diri?" Tanya juna yang tiba-tiba.
"Nggak kok, kita sebagai manusia juga butuh ketenangan dalam hidup. Tapi, cara kamu aja yang salah."
"Aku tunjukin lapangan ini ke kamu, untuk merubah cara kamu yang salah, untuk tuangin semua perasaan kamu ke tempat yang benar."
Ya, di sinilah juna sekarang berada. Lapangan perasaan. Juna benar-benar merasakan ketenangan, ia tidak menyangka bahwa tempat seperti lapangan perasaan, ada di dunia ini.
Juna mulai terlelap, merasakan setiap desiran angin musim semi🌺.
Disisi lain, nara hanya memperhatikan juna yang sedang terlelap. Ia bersyukur, akhirnya juna bisa merasakan ketenangan, walau hanya sesaat.
Hari mulai gelap🌃, juna pun sudah mulai tersadar dari tidurnya.
"Pemandangannya bagus🌌🌠" Ucap juna.
"Iya, makanya aku suka disini."
__ADS_1
"Emm, ra."
"Iya?"
"Kamu kalau ada masalah, bagaimana?"
"Aku? Aku ya berusaha untuk meluruskan masalah itu."
"Kalau nggak bisa selesai?"
"Emm, mencurahkan masalah itu ke lapangan perasaan inilah. Atau nggak aku mencurahkannya ke orang lain. Kayak aku curhat ke sahabat. Misalnya shimy sama hani. Kadang juga curhat ke omma."
"Walau masalah itu nggak terselesaikan, tapi beban pikiran kita itu berkurang. Karena udah bercerita ke orang lain."
"Emangnya kamu butuh teman curhat?"
"Nggak."
"Kamu bisa curhat ke aku lho."
"Nggak."
"Ya udah."
"Emm juna, lihat deh di atas sana. Ada bintang-bintang🌠, cantik banget."
"Iya, cantik."
"Menurut aku nih ya, diantara langit malam nan gelap diatas sana, kamu itu bagaikan bintang yang di lukis dengan sangattt menawan."
Juna menoleh ke nara, sangat penasaran apa yang di maksudkannya dari kata-kata itu.
"Ya karena kamu itu unik."
"Punya, semua orang itu pasti punya keunikan tersendiri."
"Di balik mata kamu yang indah, tersimpan banyaakk banget misteri, misteri itu yang belum bisa aku tahu. Tersembunyi setiap kesedihan dan pernderitaan. Mungkin itu nggak bisa dilihat orang lain. Kecuali aku, aku bisa lihat."
"Kalau gitu, aku punya keunikan dimana? Hm?"
"Menurutku salah satu keunikan kamu itu, misalnya kamu tahu sekarang ini sedang mempunyai masalah, tapi nggak mau cerita ke orang lain. Kenapa? Karena kamu nggak mau buat orang itu juga ngerasain penderitaan dan kesedihan yang kamu alami sekarang. Dan keunikan itu yang nggak semua orang bisa miliki."
"Termasuk aku, aku nggak punya keunikan yang kamu punya."
"Jadi menurut kamu, itu keunikan aku?"
"Iya, tapi itu salah satunya. Mungkin ada yang kebih unik dari dalam diri kamu."
"Terus, keunikan kamu apa ra?"
"Aku? Ya, keunikan aku hanya bisa dilihat sama orang lain. Kalau aku sendiri, nggak bisa. Karena orang lainlah yang melihatnya. Bukan diri kita sendiri."
"Ya udah, kita pulang yuk, takut kemalaman soalnya." Sambung nara.
"Emm."
Mereka mulai beranjak dari tempat itu, tempat yang kini sudah mulai diketahui oleh seseorang lainnya.
DI JALAN...
Suara didalam mobil juna mulai sunyi, karena nara yang sering membuat kebisingan, tengah tertidur pulas.
__ADS_1
Juna menoleh kesamping karena penasaran. Pasalnya, nara tak bersuara selama perjalanan ini.
Akmu tidur, rasanya jadi sunyi. Batin juna.
Makasi udah ajak aku ke tempat spesial itu. Aku akan gunain tempat itu sesuai yang kamu pinta tadi, makasi. Batin juna.
DI RUMAH NARA...
Ting...tong...
Pintu rumah nara mulai dibuka.
"Eh, ada den juna. Naranya mana den?" Tanya bi jeje.
"Nara tidur di mobil bi, juna mau bawa ke dalam."
"Ayo den, silahkan."
Juna langsung pergi menuju mobil untuk menggendong nara.
Setelah itu, juna masuk dan menuju ke dalam kamar nara.
Cklek...
Juna meletakkan tubuh nara di atas kasur dengan sangat hati-hati, agar nara tak terbangun dari tidur lelapnya.
Juna diam sesaat, memperhatikan setiap lekuk wajah nara.
Cantik. Batin juna.
Juna keluar dan berpamitan kepada mora dan ji-kyung
"Eomoni, abeoji, maaf karena bawa pulang nara larut."
"Nggak kok, nara juga biasa pulang jalan-jalan jam segini. Makasi udah dijagain, eomoni udah bersyukur."
"Ne eomoni."
"Kalau begitu, juna pamit dulu."
"Hati-hati." Ucap ji-kyung.
"Ne."
DI RUMAH JUNA...
"Kamu habis dari mana? Dari kemarin nggak pulang ke rumah, mau jadi anak brengsek?" Ucap hae-joon.
"Ada urusan." Jawab juna yang berlalu.
"Dasar, anak tak tahu diuntung."
DI KAMAR JUNA...
"Heuh...balik lagi sekarang aku ke neraka." Gumam juna.
Neraka jahannam. Batin juna
...▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎■▪︎...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1
@flooobie