
***
Malam hari.
Di dalam sebuah ruangan padepokan Tunggal Kecher. Terlihat pargi yang sedang berbaring di tempat tidur yang terbuat dari kayu dan bambu yang hanya beralaskan tikar. Seorang lelaki sebaya nya, terlihat sedang mengoleskan ramuan obat ke lengan kanan nya. Pargi terlihat menyeringai kesakitan, lengan nya tampak sebam biru karena luka itu.
"Apa yang telah terjadi?"
Masuk prambana menghampiri dengan langkah panjang terburu-buru.
"Guru!" serentak parga dan pargi.
Parga menundukkan kepala nya, menunjukkan sopan santun.
Sedang pargi yang hendak bangkit dari dipan untuk memberi salam. mendadak tangan guru nya menghentikan.
"Berbaring saja!"
Perintah prambana merasa khawatir.
"Jelaskan!"
Mengingat pertanyaan pertamanya saat masuk ruangan.
Prambana duduk di kursi kayu, dengan kaki menyilang. Matanya memperhatikan Pargi yang sedang di obati itu. Sekilas prambana mengalihkan pandangan tajam ke arah Parga, menunggu penjelasan darinya.
"Begini Guru," Parga dengan terbata bata.
"Saat kami sedang mengikuti Kaesang, sampai dihutan kami melihat ia berbicara sangat mencurigakan dengan dua pendekar jahat. " jelas Parga.
"Siapa?"
"Si Setan merah, Guru."
"Setan merah? Pendekar aliran hitam, suka merampok dan membunuh! "
berbicara berdasarkan yang ia ketahui.
__ADS_1
"Hmm, lalu? "
lanjut Prambana bertanya.
"Mereka berbicara sangat lama, dan sepertinya sangat akrab. Karena bersembunyi terlalu jauh, kami tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Jadi, kami keluar dari persembunyian dan menghampiri mereka.
"Benar saja Guru, saat kami mendesak Kaesang. Si Setan merah begitu membelanya. Bahkan saat kami hendak kembali, mereka terus mengoceh menghina padepokan kita. "
jelas Parga dengan emosi mengebu gebu.
"lalu, kalian berkelahi dengan setan merah ! benar?
sekilas menatap tajam murid nya.
"Benar Guru! maafkan kami."
jawab Parga merendah.
"Tidak perlu minta maaf, aku bangga karena kalian mau membela Padepokan yang telah dihina.
"Namun perlu kalian tau! Pendekar aliran hitam sangatlah licik dan kejam.Harus sangat hati-hati menghadapi mereka.
"Racun?"
Parga tertegun mendengar ucapan Guru nya.
"iya, tangan nya bengkak dan biru. kalau kau tak segera membawa dia pulang untuk segera diobati. Mungkin sekarang dia sudah kehilangan nyawanya. "
Prambana bangkit dari duduk nya, dan meyentuh tangan Pargi yang luka.
"Seperti nya ini racun bisa ular!
Apakah seluruh tangan mu terasa panas?" bertanya kepada Pargi.
"Iya Guru, sangat panas dan perih?
"Parga! bantu cari ular kobra dan ambil bisa nya. Setelah itu pergi kekebun halaman belakang dan cari kan aku daun dadap serep. Akan ku buat ramuanya penangkal racun nya."
__ADS_1
"cepat berangkat!" lanjut Prambana
dengan tak sabar memerintah Parga.
"Baik Guru. "
dia berjalan keluar meninggalkan ruangan.
"Darman !
memanggil murid yang mengobati Pargi.
"iya guru" jawabnya segera mendekat.
"Ambilkan kain panjang."
perintah nya kepada Darman.
Darman mengangguk dan segera mengambil kain panjang. dan segera ia berikan kepada Guru Prambana.
"bantu pegang tangan nya !
perintah prambana kepada darman.
Terlihat Prambana yang mengikat bahu kanan pargi dengan sangat erat. Dia terus melilitkan kain panjang ke bahu Pargi sampai aliran darah nya ketangan berhenti.
Beberapa saat kemudian, datang Parga membawa bahan yang telah Prambana perintahkan untuk mencari. Prambana segera bergegas menuju kediaman nya bersama Parga, untuk meramu obat penangkal racun.
Setelah sampai di kediaman nya, Prambana segera menumbuk daun dadap serep dengan bahan ramuan lain nya. Setelahselesai menumbuk, lalu ia mencampur kan bisa ular kobra kedalam nya. Akhirnya selesai juga Prambana meramu obat. Segera ia memerintahkan Parga untuk mengobati Pargi dengan ramuan nya itu.
"Oleskan ramuan ini pada seluruh tangan nya. Jangan buka ikatan kainnya, agar racun nya tak menyebar ke bagian tubuh lainnya.
"pergilah! "
perintah Prambana kepada Parga.
#Bersambung>>
__ADS_1
Jangan lupa klik ♡ & LIKE nya, matursuwon.