
#Trio dengan me-mapah Sona berjalan ke arah rumah Paman dan bi Wijah.
***
Dalam sebuah kamar di kediaman milik Paman dan bi Wijah.
Kaesang yang dibaringkan di atas dipan yang beralas tikar. Terlihat Kaesang yang tidak dalam keadaan sadar, tubuhnya mengeluarkan banyak keringat.
Sedang Paman dan bi Wijah yang terus berada di sisi Kaesang, mereka menunggu tabib desa datang.
Tidak lama, masuk seseorang kedalam rumah Paman dan bi Wijah. Karena merasa gelisah, Paman segera keluar untuk melihat.
Namun baru Paman sampai di pintu ruangan, dia berhenti. Paman melihat Trio yang dengan me-mapah Sona sudah di dalam rumahnya itu.
"Ada perlu apa, anak muda?"
Pelan Paman karena kecewa, mengira bahwa mereka adalah Tabib.
"Bagaimana keadaan lelaki tadi? " tanya Sona sopan.
"Apakah aku dapat melihat keadaan lelaki itu? " lanjut Sona lagi.
"Dia ada di dalam?" mengarahkan tangan ke dalam ruangan Kaesang.
Trio dan Sona berjalan masuk ke dalam ruangan Kaesang. Mereka berdua melihat keadaan Kaesang yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Melihat keadaan Kaesang, Sona merasa bersalah karena sudah melibatkan Kaesang dalam pertarungannya.
Sebenarnya bukan salah aku. Hanya saja dia yang tiba-tiba ikut campur. Tetapi jika aku tidak menolongnya. Mungkin dia bisa mati sekarang.
"Apakah tidak ada tabib disini? " ujar Sona bertanya dengan sopan.
"Aku telah meminta orang untuk me-manggil tabib. Tetapi tidak tahu kenapa, belum datang juga sampai sekarang!"
Bertambah gelisah perasaan Si Paman.
__ADS_1
"Iya, kenapa lama sekali Tabibnya " sarga Bi Wijah dengan sedih.
Tidak lama.
Tabib telah tiba.
Tabib telah tiba.
Suara penduduk yang berada di luar kediaman milik Paman. Kegembiraan nampak diwajah semua penduduk desa yang berada di sana.
Trio, Sona, Paman dan Bi wijah yang berada di ruangan Kaesang juga merasa lega. Seketika, Paman segera keluar dan menuntun Tabib untuk ke ruangan Kaesang.
Beberapa saat setelah Tabib melihat keadaan Kaesang. Tabib itu memohon maaf, karena tidak sanggup untuk mengobati lukanya. Tabib itu hanya dapat memberikan ramuan sederhana. Agar luka di tubuh Kaesang tidak menyebar. Tabib itu kembali dengan membawa sedikit rasa bersalah.
Semua orang yang berada di dalam kediaman Paman, merasa kasihan pada Kaesang. Semua menunjukkan wajah kesedihan. Seakan nyawa anak.muda ini telah hilang. Mereka takut kalau Kaesang sampai kehilangan nyawanya karena luka di tubuhnya itu.
***
"Apa yang sedang Dinda lakukan? " masuk seorang lelaki gagah perkasa berwajah tampan. Dengan senyuman kecil di wajahnya. Dia di kenal sebagai Raja Adiputra Mahesa atau sinuon.
Permaisuri sudah mengira kalau seseorang ini pastilah suaminya. Dari langkah kaki, suaranya. Bahkan aroma tubuhnya sudah tercium dari jarak lima langkah kaki.
"Kanda? "
sahut Permaisuri manja mem-balas senyuman.
"Dinda sedang menyiapkan pakaian untuk putra kita?" jawab Permaisuri, seraya memilih beberapa pakaian dipangkuannya.
"Begitu banyak? " lanjut suaminya.
"Tentu saja, Dinda ingin.
__ADS_1
Kaesang mencoba dan memilih pakaian yang Kaesang suka.
"Karena, Dinda sungguh tidak tahu warna apa, yang putra kita sukai "
wanita cantik yang berumur 40 tahunan itu mulai merasa sedih hingga menitihkan air mata.
Melihat istrinya yang menangis. Raja me-langkah mendekat, dan duduk di sebelah istrinya. Dengan lembut Raja menyeka air mata di wajah Sang istri. Lalu memeluk nya dengan penuh kehangatan. Dengan lembut dan perlahan, tangan Sang raja membelai pundak Sang ratu, ntuk menenangkan hatinya.
Selama hampir 17 tahun Raja dan Ratu harus menanggung perasaan bersalah. Serta rasa rindu yang amat besar kepada putra ragil mereka. Perasaan orangtua yang harus hidup terpisah dari anaknya. Perasaan orangtua yang terus menerus membayangkan. Bagaimana anaknya tumbuh, apakah dia sehat? Atau kah dia sakit. Bagaimana wajahnya, apakah dia mirip dengan Ibundanya. Atau dia lebih mirip seperti Ayahandanya.
Perasaan seperti itu terus menghantui Raja dan Ratu selama bertahun-tahun. Tanpa bisa melihat keadaan putra mereka. Walau pada kenyataannya, mengetahui dimana putranya berada.
Mendengar dan mengetahui perasaan istrinya yang terus menangis. Membuat Raja hampir ikut meneteskan air mata. Namun di dalam dirinya berkata. "Aku tidak boleh menangis, hanya karena ingin menangis. Aku adalah Raja, serta suami dan Ayahanda untuk putra dan putri ku."
Sebentar Raja menghela nafasnya. Menekan agar tidak terbawa perasaan. Lalu melepaskan pelukannya. Dengan bijak Raja mulai tersenyum. Raja kembali menyeka air mata di wajah Sang Ratu.
Dengan penuh kelembutan Raja memandang mata istrinya. Seraya berkata.
"Pandang aku"
Sang Ratu masih saja menunduk dan menangis.
"Pandang aku! "
Lagi ujar Sang Raja. Namun, Sang Ratu masih terus menunduk.
"Jangan seperti ini, Dinda. " tangan Raja meraih dagu Sang Ratu. Perlahan Ratu menaikkan wajahnya karena itu.
"Sebentar lagi, kita dapat bertemu dengan anak kita. Apakah Dinda ingin memperlihatkan wajah Dinda yang cantik? Atau wajah Dinda yang jelek ini? karena terus menangis."
Sadar akan hal itu, Sang Ratu segera menghentikan tangisannya. Menghapus air mata yang berlinang di wajahnya. Ratu kembali terlihat cantik dengan tersenyum kepada Raja.
"Dinda akan memperlihatkan, betapa cantik Ibundanya" senyuman yang membuat hati Sang Raja merasa senang dan lega.
__ADS_1
#Bersambung>>
matursuwon. jangan lupa LIKE dan ♡