
Suasana malam hari yang dingin dengan angin berhembus kencang. malam itu tidak ada tanda tanda akan ada masalah, semua murid yang berjaga malam. Sedang duduk bersantai sembari bercerita.
Tiba tiba api besar melahap salah satu bangunan padepokan tunggal kecher.
"Api, a-pi ke-bakaran ke- ba-karan."
"Cepat padam kan apinya"
Suara teriakan salah satu murid memerintahkan. Murid-murid yang tertidur pun seketika bangun dan berlari keluar, karena mendengar teriakan itu.
Api mulai menjalar melahap sudut bangunan lainnya, asap mengepul kemana mana. Murid-murid terus mencoba memdamkan api, mereka menggunakan cara estafet untuk menyiram api dengan air. Tak lama terdengar teriakan dari sebelah utara Padepokan.
"Pencuri, pencuri, cepat tangkap dia"
"Ke-jar . jangan sampai dia lolos."
Salah satu murid belari kearah hutan yang ada di belakang Padepokan. Dengan membawa buntalan kain putih.
Fia terus berlari sembari sesekali menengok kebelakang. Dengan nafas terengah-engah pemuda itu terus berlari.
__ADS_1
Tiba tiba "wuuusss" dengan sangat cepat pemimpin padepokan dan 2 murid unggulan menghadang di depan pemuda itu. Wajah mereka sangat seram untuk di lihat, bahkan tatapan mata mereka sangat tajam.
#Author: padahal gelap ya karena malam hari. gimana caranya bisa lihat?
Jawabnya karena ada sinar rembulan yang menerangi.
"Kaesang Ku su ma!
cepat serah kan Kitab Perguruan yang kau curi!" suara hentakan Pemimpin Padepokan membuat bulu kuduk Kaesang berdiri.
#Pemimpin Padepokan adalah seorang lelaki yang sudah berumur 40 tahunan. Dia mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin, baru 3 tahun terakhir dan terus menerus terjadi masalah. Dia di kenal dengan sebutan Prambana. Sedangkan murid unggulan itu adalah tangan kanan dan kiri Sang Pemimpin Padepokan saat ini. Nama mereka ialah Parga dan Pargi. Mereka adalah saudara kembar yang satu cerdik yang satu jago bela diri.
"Apa maksud dari ucapan Guru? dengan mencoba tenang, Kaesang menjawab Sang Pemimpin Padepokan.
"Sungguh saya tidak mengerti maksud ucapan Guru, kitab apa yang harus saya berikan" sahut Kaesang dengan tenang.
"Omong kosong! cepat geledah! "
Dengan berteriak Pemimpin Padepokan memerintah kan kedua murid yang ada di sampingnya, untuk menggeledah tubuh Kaesang.
__ADS_1
Kedua murid itu meng-geledah tubuh Kaesang dan tidak di temukan apapun.
Mereka hanya mendapat buntalan kain putih dari tangan Kaesang. Setelah di buka oleh pemimpin, isinya hanya beberapa helai baju, celana, sarung dan jubah. Pemimpin yang kesal melempar buntalan itu. Sekarang auranya menjadi berubah, kedua murid itu mundur beberapa langkah karena mereka sudah tau apa yang akan terjadi.
Angin berhembus kencang, semua dahan pohon ber-goyang. Kaesang pun mulai gemetaran, namun ia sekuat tenaga menahan tekanan itu. Dengan sangat cepat, tangan pemimpin sudah ada di leher kaesang. Perlahan tubuh Kaesang terangkat, cengkeraman itu membuatnya sakit dan sulit untuk berbicara.
"Cepat katakan! dimana kau sembunyikan kitab itu" tanya Pemimpin dengan di penuhi aura kekuatan dan luapan emosi.
Ekkhh. Ekkhh.
Kaesang merasakan sakit di lehernya.
"Sung guh saya ti-da-k men-cu - ri, dan ti-dak tau Gu-ru" cengkraman yang begitu kuat membuat Kaesang sulit bicara sampai harus terbata-bata mengucap kan kalimatnya.
"DASAR PEMBOHONG!"
Pemimpin Padepokan melempar tebuh Kaesang ke tanah dengan sangat keras.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih telah membaca novel karya saya. Ini adalah pengalaman pertama saya dalam menulis Novel.
Mohon maaf jika ada tulisan yang typo. Bersediakah kalian memberi masukan dan saran.