
Kaesang terlihat sangat kesakitan, Tubuhnya meringkuk setelah terlempar ke tanah. Tangannya menyentuh lehernya, yang masih terasa sakit. Sekuat tenaga ia mencoba menahan rasa sakit itu. Dengan mengerut kan dahi, tubuhnya mulai bangkit.
"Guru! Sung-guh aku tidak mencuri dan tidak tau menau soal kitab itu." Kaesang dengan sungguh sungguh mencoba meyakinkan Gurunya.
Pemimpin Padepokan itu tampak tidak percaya, raut wajahnya menunjukkan amarahnya.
"Jangan terus berkelit dengan ku Kaesang Mahesa. Cepat katakan! dimana kau sembunyikan kitab itu? Sebelum kesabaran diriku benar-benar habis!" Desak prambana.
"Sungguh Guru, aku tidak tau! Aku sudah sangat jujur mengatakannya. Harus berapa kali lagi aku meyakinkan Guru! Bahwa aku tidak mencuri" Pungkas Kaesang dengan ketus.
"Lalu, Kenapa kau melarikan diri kearah hutan? dengan sangat ketakutan! sedangkan murid yang lainnya sedang memadamkan api?" Desak Sang
Pemimpin Padepokan itu.
"Aku hendak membantu, tetapi mereka menuduh ku mencuri, dan ingin menangkap ku. Maka dari itu aku berlari dan tidak sengaja sudah sampai di hutan." Ujar Kaesang dengan sangat hati-hati mengucapkannya.
"Pembohong!" Bentak Prambana.
"Kalau bukan, karena mencuri, dan ingin kabur, lalu apa? Tentu mereka bicara seperti itu, karena ada yang melihat kau keluar dari perpustakaan. Dan saat api melahap gedung di sebelahnya, kau berlari dengan membawa pakaian mu"
Ujar Prambana terus mendesak kaesang. Membuatnya gemetar kebingungan.
"Bahkan saat aku memanggil mu, kau terus berlari ketakukan. Bagaimana kau menjelaskan nya padaku?"
Terus mendesak dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Aku di perpustakaan sedang belajar. Dan soal kebakaran itu, bagaimana mungkin aku berani melakukkannya Guru! " Meyakinkan Gurunya.
"Kau tau paraturan Padepokan, di atas waktu setelah sembahyang isya. Semua murid di larang keluyuran dari kamar, kecuali murid yang bertugas. Lalu kenapa kau ada di dalam perpustakaan?" Ketus Sang Prambana.
Kaesang yang nampak menahan sakit di lehernya itu. Merasa lelah terus mengucap kan perkataan yang sia-sia. Ia menghela nafas panjang, dengan tenang ia lalu berucap.
"Siapakah murid yang melihat ku Guru? mungkin dia salah lihat."
Suasana sunyi melahap keadaan mereka di dalam hutan. Prambana mulai berpikir setelah Kaesang melayangkan pertanyaan itu.
"Ada! Dia murid baru yang melihat mu, ia berkata, kalau kau mengendap-endap masuk ke dalam perpustakaan. Lalu mengambil sebuah kitab yang ada di dalam peti kayu." Dengan emosi yang mulai menurun.
"Apakah ada buktinya?
Tandas Kaesang mulai tidak sabar.
"Jangan lancang, kau Kaesang!"
Ujar Parga dengan menunjuk kearahnya.
"Benar, dengan ucapan murid itu saja. Maka sudah cukup membuktikan kesalahan mu." Sela Pargi ikut bicara.
Kaesang mulai kesal karena tuduhan ketiga orang di hadapannya. Yang tidak mendengar penjelasannya sama sekali.
"Pemimpin dan Guru terus menuduhku, tanpa bukti. Ini sama saja dengan fitnah, dan hukuman mem-fitnah tentu Guru tau jelas tentang itu, bukan? "
__ADS_1
Ujar Kaesang dengan ketus.
"Mem-fitnah! Sungguh lucu ucapan mu ini." Ujar Parga dengan menyeringai geli.
"Kau juga tentu tau jelas, apa hukuman bagi seorang pencuri!?"
Desak Prambana Sang Pemimpin Padepokan.
"Mari kita buktikan esok pagi di hadapan Maha Guru. Kebetulan besok Maha Guru kembali dari semedinya." Ketus Prambana dengan membalikkan tubuhnya.
Kedua tangan Prambana menepuk bahu Parga dan Pargi secara bersamaan. Meng-isyaratkan untuk membawa Kaesang kembali untuk di adili esok hari.
Parga dan Pargi mengangguk seraya berkata baik Pemimpin. Parga dan Pargi pun tanpa rasa sungkan langsung me-nyergap tubuh Kaesang. Dengan tangan mereka berdua menggandeng tangan Kaesang. Mereka mulai memaksa Kaesang berjalan dengan kasar.
Setelah sampai di Padepokan.
Pemimpin menitahkan kepada Parga dan Pargi untuk mengawasi Kaesang. Sedangkan Kaesang dengan tangan di ikat. Dia di kunci di dalam ruangan yang gelap tanpa cahaya.
Bersambung»
#author: matursuwon sampun mboco.
Ojo lali Like dan Komentar.
Berikan saran dan masukan. Saya.sangat berterimakasih.
__ADS_1