Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
32.KNS


__ADS_3

Raja, Permaisuri dan Kaesang sudah duduk bersama di ruang tengah Istana Kaputren. Raja dan Permaisuri duduk bersandingan.


Keduanya saling memberi senyum satu sama lain saat bertatap muka.


"Bagaimana keadaan Maha Guru sekarang, nak?"


Raja mencoba memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti ruangan ini. Setelah para pelayan meyuguhkan makanan dan minuman. Kaesang dari tadi hanya diam.


"Maha Guru? Dia baik-baik saja."


Kaesang masih gugup dan bingung dengan kenyataan di hadapannya ini.


"Alhamdulillah jika begitu. Apa murid-murid di Padepokan semakin bertambah?"


"Iya." Jawabnya singkat.


Permaisuri menatap Raja dengan perasaan sedih, yang tergambarkan di wajahnya. Raja hanya membelai lembut pundak Permaisurinya "Sabarlah" Kata Raja, mencoba menenangkan hatinya.


"Apa masih ada yang mengganggu hati putera ku ini?"


Kaesang hanya diam membisu, dia tidak tau harus dari mana menjelaskannya.


"Engkau masih ragu tentang kebenaran ini, putera ku?"


"Maafkan saya Raja,


"Panggil aku Ayahanda dan panggil dia Ibunda, jangan terus menyebut kami dengan Raja dan Ratu. Sesungguhnya itu membuat kami sedih putera ku."


"Maaf Aya, Ayahanda."


Kaesang menunduk kan pandangannya ke bawah. Dia begitu sungkan. Untuk melihat wajah orang tuanya.


"Tidak apa. Sekarang ceritakan tentang kegundahan hati mu itu."


Permaisuri memandang Kaesang dan menaikan alisnya. Seakan memintanya untuk segera bicara. Kaesang menarik nafas beberapa kali, sebelum siap berucap.


"Aku takut!"


Raja dan Permaisuri saling menatap, tidak percaya dengan apa yang didengar keduanya.


"Takut? Akan hal apa kau takut putera ku?" Tanya Raja merasa cemas.

__ADS_1


"Aku takut jika kedatangan aku ke Kerajaan. Akan membuat Ibunda dan Kerajaan kembali terkena kutukan."


Haha.


Raja dan Permaisuri tersenyum lega mendengar ucapan puteranya itu. Mereka tadi sempat dag dig dug tentang apa yang membuat puteranya takut. Ternyata tentang kutukan.


"Tidak masalah. Kutukan itu sudah tidak berguna lagi, karena usia mu sudah 17 tahun lebih."


"Sungguh? Tetapi aku belum genap 17 tahun."


"Sudah putera ku."


Sambung Permaisuri dengan tuturnya yang lembut.


"Tetapi Maha Guru bilang,


"Neton lahir mu dirahasiakan, yang diberitahukan oleh Maha Guru adalah neton sebelum kau lahir. Jadi sekarang tidak akan terjadi apapun, walau kau ingin keluar masuk Kerajaan."


Kaesang merasa lega sekarang, senyuman mulai membuat wajahnya terlihat terang. Permaisuri dan Raja merasa sangat senang melihat itu. "Apa Ibunda boleh memeluk puteranya ini?" Kata Permaisuri penuh harap. "Apa aku juga boleh mendapat pelukan dari Yahanda dan Ibunda." Kata Kaesang yang juga menginginkan pelukan itu.


"Tentu saja!" Sahut Ayahandanya sumringah.


Dilepas pelukan itu, dan sekarang Kaesang bersimpuh di depan Orangtuanya. Di bawah kaki Ayahanda dan Ibundanya, dia memberi sungkem. Mencium kaki keduanya, memohon restu, mohon ampun. Atas apa yang terjadi karena kedatangannya di dunia ini. Karenanya, harus membuat Ayahanda dan Ibundanya kesulitan. Menerima dan menghadapi takdir yang membuat mereka berjauhan. Kaesang terus menundukkan kepalanya, air bening menetes perlahan di wajahnya.


Dia menangis tersedu-sedu sekarang, dengan terus menyentuh kaki orangtuanya. Ibunda meyentuh pundak Kaesang, memapah agar dia bangkit dari tempatnya bersimpuh.


"Bangun anak ku. Ayahanda dan Ibunda sangat menyayangi dirimu. Apa pun akan Ibunda lakukan untuk melindungi dirimu. Meskipun itu nyawa, yang harus ditukarkan. Berdirilah!"


Kaesang terus menangis, kakinya yang gemetar mencoba bertahan untuk bangkit. Raja dan Permaisuri juga ikut bersedih melihat Kaesang yang begini.


Tiba-tiba datang dua orang ke Istana kaputren. 1 laki-laki gagah dan tampan sedangkan yang satu wanita yang begitu ayu.  Mereka berjalan ke arah kami, "apa mereka saudara ku?" Begitu pikir Kaesang, karena melihat wajah mereka yang terlihat mirip dengannya.


"Kami memberi salam kepada Ayahanda dan Ibunda."


"Iya. Perkenalkan dia adalah adik kalian, yang Ayahanda dan Ibunda pernah ceritakan."


Raden Krangkas adalah anak pertama Raja dan Permasuri. Dia sebentar lagi akan diangkat menjadi putera mahkota. Menggantikkan kedudukan sang Raja jika beliau telah wafat. Sedangkan Raden Ayu Arum Mawarni adalah anak kedua, sudah dilamar oleh Pangeran Mahkota Kerajaan tetangga.


"Kau adalah Kaesang?"


Tanya Arum Mawarni dengan cerianya.

__ADS_1


"Iya, aa aku Kaesang Mahesa."


Kaesang terlihat senang sekali, namun tidak bisa memeperlihatkan raut wajah yang benar. Raut wajahnya malah pucat, tangannya gemetaran. Membuat kedua saudaranya merasa cemas.


"Jangan sungkan-sungkan, kita adalah saudara. Kelak panggil aku Kakanda dan,-


" -Aku Yunda!"


Sahut Arum Mawarni penuh semangat, dia sangat senang bisa berkumpul dengan adiknya.


"Baiklah Kakanda dan Yunda."


Kaesang masih begitu malu dengan menundukkan pandangannya.


"Kenapa begitu gugup, tersenyumlah! Tidak akan ada yang memakan kamu, jika tersenyum sedikit, bukan?"


Arum Mawarni mencoba mencairkan perasaan Kaesang yang penuh gundah itu. Dari pandangannya,  Kaesang terlihat senang, namun juga bingung. Mungkin baru pertama bertemu, jadi belum biasa.


Sedangkan kami, bersikap begitu akrab meski ini juga pertama kalinya melihat Kaesang. Tetapi kami sudah mengetahuinya ceritanya dari Ayahanda dan Ibunda. Jadi, dari satu purnama ke purnama berikutnya. Dari satu tahun menuju tahun berikutnya, kami selalu bersama-sama menunggu kedatangan dirinya. Sekarang dengan begitu gamblang ada di depan kami, rasanya sangat senang melihatnya. Wajahnya juga sangat mirip dengan Ayahanda dan Kakanda Krangkas, sangat tampan dan berwibawa.


"Kalau begitu, bawalah adik kalian ini, dan beritahu letak kamarnya."


Ucap Raja dengan tegas dengan nada rendah.


"Baiklah" Sahut Arum Mawarni sangat senang dan bersemangat.


"Ayo Dinda! Kami akan tunjukkan jalannya." Ajak Krangkas, yang sudah merangkul bahu Kaesang.


Permaisuri dan Raja tersenyum dan mengangguk saat Kaesang memandang kearah keduanya. "Pergilah!" Kata Raja yang juga diikuti oleh Permaisuri. Kaesang pun mengangguk dan mengikuti Kakanda dan Yundanya.


Di Istana Kaputran.


Ketiga anak Raja sudah berdiri di depan pintu besar, di luar kamar Kaesang.


"Ini kamar Dinda Kaesang, ayo masuk." Ucap Krangkas setelah membuka pintu itu.


Kaesang berjalan masuk, mengekor dibelakang Kakanda dan Yundanya. "Kamar ini begitu luas, apa hanya aku yang tidur di sini sendirian?" Tanya Kaesang kepada diri sendiri. Seraya terus memperhatikkan dari pojok ke pojok kamar ini. Dari ranjang yang kokoh, sangat empuk kasurnya bahkan ada bantalnya juga. Ada satu meja dan satu kursi yang ikut melengkapi.


"Kalau begitu kami akan pergi, Dinda silahkan istirahat dulu."


Ucapan Krangkas meninggalkan Kaesang di kamarnya sendirian.

__ADS_1


__ADS_2