
#Malam hari di dalam rumah penginapan.
.
.
Di dalam sebuah kamar.
Tiga bersaudara yang datang dari lembah katak. Mereka merencanakan sesuatu untuk senopati Gondo.
Kakak tertua dari mereka berjalan pelan-pelan ke arah kamar senopati gondo. Di depan pintu kamar, di tiup kan pelan asap-asap yang berasal dari bakaran kemenyan. Asap itu masuk ikut dengan hembusan angin melewati celah pintu.
.
.
Beberapa lama setelah nya. Mereka bertiga masuk ke dalam kamar senopati. Di lihat senopati tidur dengan sangat pulas. Salah satu dari mereka menghampiri nya.
..
"Dia benar-benar tertidur pulas, kakang! || ujar adik ketiga setelah menggerakkan tangan. tepat di depan wajah senopati dan merasa yakin jika senopati telah terkena sirep yang di lakuakan oleh kakak tertua nya.
..
"Bagus, periksa barang bawaan nya. Ambil semua barang yang terlihat bagus! "
..
"Baik!, kakang || sahut kedua adik dengan suara kecil. Mereka takut ketahuan oleh orang-orang desa.
.
.
Ketiga lelaki bersaudara itu segera menggeledah kamar senopati. Dengan sangat hati-hati dan mencoba tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Di bongkar sebuah buntalan kain yang ada di atas meja kecil dekat pintu. Dengan tergesa-gesa, entah apa yang di cari mereka. Mungkin mereka sedang mencari uang. Atau, apa!?
..
Hanya beberapa helai pakaiana yang ada di dalam buntalan kain itu. Wajah mereka semakin kesal. Karena tidak ada benda yang berharga. Mata mereka saling menatap. Kakang pertama melihat ke arah senopati. Yang tertidur tanpa bergerak sedikit pun.
..
"Geledah tubuh nya! || perintah untuk kedua adik nya segera di laksanakan.
..
Kedua lelaki itu berdiri di sebelah senopati. Di geledah seluruh tubuh senopati. Ada sekantung kepeng uang di pinggang nya. Di lempar ke arah kakang pertama. Dengan cepat kantung itu di tangkap.
..
"Banyak sekali, cukup untuk kita makan selama tiga purnama, haha || senyuman jahat itu di ikuti oleh kedua adik nya.
..
Kembali kedua adik itu menggeledah tubuh senopati. Sampai ke kaki. Tanpa terkecuali bagian lelaki nya. Tidak di temukan lagi benda berharga. Sebuah keris terlihat oleh adik kedua. Segera tangan nya mendekat. Hendak di raih keris yang ada di sebelah senopati yang sedang tertidur. Dapat, keris itu di genggam dengan erat. Senyuman lebar terpancar di wajah adik kedua.
Merasa diri nya telah mendapat benda yang sangat berharga. Diri nya menjadi sangat puas karena keris itu.
..
"Lihat, kakang. || meng-angkat keris yang di genggam dengan tangan kanan nya.
..
"Tidak ada benda berharga lain, selain keris ini, kakang. || jelas adik ketiga dengan yakin.
..
"Bagus, kalau begitu cepat kita keluar. Sebelum lelaki ini terbangun! || tiga bersaudara segera meninggalkan kamar senopati.
.
.
__ADS_1
.
Setelah pintu kamar kembali di tutup. Dan langkah kaki mereka sudah tidak lagi terdengar. Senopati Gondo membuka mata nya. Ternyata sedari tadi lelaki ini hanya berpura-pura tertidur dengan pulas. Sungguh senopati yang murah hati. Dia membiarkan seseorang mengambil benda milik nya dengan sangat mudah.
Dia bangun dan mulai duduk perlahan. Sebentar di rapikan kembali buntalan milik nya. yang sudah di geledah oleh ketiga bersaudara itu. Beberapa pakaian nya di buang sembarangan. Namun wajah nya masih menunjukkan kesabaran. Setelah nya dia merapikan kembali pakaian nya. Sedikit kesal setelah merapikan bagian celana nya. Wajah nya masam, muncul hawa membunuh. Sangat mengerikan.
"Aku berdiam saat kalian mengambil kepeng uangku. masih berani mengambil keris ku juga. Sungguh manusia serakah. || wajah dingin senopati terlihat semakin mengerikan saat ini.
.
.
***
Di jalan yang begitu gelap. Hanya sedikit cahaya yang menerangi. Dari beberapa obor bambu yang di letakkan di depan rumah penduduk desa.
Dengan langkah kaki yang panjang dan cepat. Tiga lelaki yang telah merampok senopati. Berjalan menuju ke arah wetan (timur). Senyum puas ketiga nya seperti menerangi jalanan itu. Ketiga nya tidak menyangka akan seberuntung ini. Hanya mencuri uang dari satu orang sudah mendapat hasil yang banyak.
Malam ini seperti nya akan sangat panjang. Ketiga saudara itu berniat untuk pergi ke tempat pelacuran. Untuk merasakan kenikmatan, setelah berhasil mendapat uang banyak.
.
"Kakang, bagaimana dengan keris ini? || dengan wajah sedikit cemas.
.
"Coba aku lihat! || seketika mereka menghentikan langkahnya.
Di berikan keris itu kepada kakak tertua. Terlihat sangat biasa. Mungkin hanya keris-kerisan bukan wesi aji. Kakak tertua berpikir seperti itu setelah melihat nya. Namun keris itu masih membuat nya penasaran.
Dia pun mencoba menarik keris dari werangka nya.
Seketika angin kencang datang ke arah mereka. Keris itu menjadi sangat berat. Kakak tertua itu berusaha agar keris itu tetap di genggaman nya. Namun semakin dia berusaha untuk mempertahan kan keris itu. Rasa nya keris itu semakin bertambah berat saja. Kedua adik nya memberi bantuan. Jadi ketiga saudara itu bersama-sama meng-genggam keris itu. Dan masih bertahan berdiri dari angin kencang yang terus menerpa ke arah mereka.
.
.
Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam datang dan berdiri tegak di hadapan mereka. Dia terlihat tersenyum, wajah nya samar terlihat karena cahaya rembulan. Semua obor mati karena kedatangan angin kencang.
.
.
..
"Siapa kau? Berani-berani nya memerintah kami. || bentakan keras dari kakak tertua.
..
"Berikan padaku!. || sahut seseorang di dalam gelap itu dengan pelan.
..
"Enak saja, kau pikir kau siapa? Huh. || teriak kakak tertua mulai marah.
..
"Aku pemilik keris itu! Jadi, segera berikan padaku.|| seketika ketiga bersaudara itu ketakutan.
..
"Pemilik keris ini? Jangan-jangan dia lelaki yang kita rampok kakang!? || bisik adik ketiga takut, gemetaran.
..
"Jangan ngomong sembarangan, mana mungkin lelaki itu dia. Dia kan sudah aku sirep dengan ajian ku || sahut kakak pertama dengan yakin.
..
"Tetapi, kalau dia memang lelaki yang tadi bagaimana, kakang? || ujar adik kedua merasa tidak yakin.
..
"Kita hadapi saja, kenapa harus takut. Kan, ada aku. || dengan bangga dan percaya diri tinggi. Kakak tertua akan menghadapi lelaki di dalam gelap itu.
__ADS_1
.
.
"Dasar orang-orang tidak tau diri, sudah mencuri masih berlagak mau bertarung, membuat aku murka."
"Kalian, jangan lepas kan keris itu! || Ketiga saudara itu semakin meng-genggam erat keris nya. Tanpa menyadari apa yang akan senopati lakukan kepada mereka.
..
"Akan aku buat kalian merasakan siksaan di dunia, karena mencuri benda milik orang lain. "
.
.
Senopati Gondo dengan tenang membaca salah satu ajian milik nya. Setelah selesai angin kencang itu menghilang. Terlihat ketiga saudara merasa senang dan lega.
Tiba-tiba ketiga saudara itu merasakan panas. Ketiga nya saling menatap. Keris nya menjadi panas dan semakin panas. Rasanya tangan ini seperti terbakar api. Namun kakak tertua memberikan tatapan yang sangat me-yakin kan agar jangan melepas keris nya.
..
"Akan aku tunggu, sampai kapan kalian bertiga sanggup bertahan? || suara senopati memancing kakak tertua untuk bertanya.
..
"Siapa kau sebenar nya? || senopati melangkah mendekat ke arah ketiga saudara.
..
"Ka, ka, kau? || senopati tersenyum kecil.
"Bagaimana bisa kau sudah bangun?"
..
"Sudah aku katakan. Aku pemilik keris itu, kalian yang tidak percaya. || melihat wajah senopati Gondo yang tersenyum. Ketiga saudara itu gemetar ketakutan.
..
"Bagaimana ini kakang!? || tanya adik ketiga bimbang.
..
"Kita kembalikan saja keris nya. || sahut adik kedua merasa takut.
..
"Kalian ini lemah sekali, terus genggam keris nya. Keris ini pasti sangat sakti. || kedua adik nya terpaksa meng-angguk. Dan meng-ikuti perintah kakak nya.
..
"Keras kepala!
Kalian tidak takut kehilangan tangan kalian. Karena mempertahankan benda yang bukan milik kalian? "
..
"Benda ini di tangan kami, tentu saja benda ini milik kami. Jangan harap kau bisa mengambil nya! || tatapan tajam ke tiga saudara itu di abai kan oleh senopati gondo.
..
"Aku tidak akan mengambil nya kembali, kecuali kalian yang mengembalikan nya padaku. || ujar senopati yang masih terus bersabar menunggu.
.
.
.
.
#bersambung>>
♡Jika bersedia silahkan join dalam Grup chat saya. Kita bisa saling mengobrol disana. TERIMAKASIH!.
__ADS_1